Pages

Terburu-buru

Aku bertemu denganmu melalui aksara, yang akhirnya menyukai pada bahasa yang kau ucap. Kau bercerita mengenai gambaran hidupmu. Dengan perasaan sedikit kaget, aku menyerap gambaran hidupmu. Namun aku masih selalu menyapamu. Dan kau masih selalu menyapa balik dengan senyuman luar biasa yang menghantarkan aku pada buaian seketika. Kita bertemu tanpa basa-basi.
Aku masih bisa menyapamu. Dan kau masih memberi sapaan balik dengan sejumlah perhatian yang akhirnya menjadi sebuah keakraban. Aku putuskan memberanikan diri untuk menyukaimu. Aku terngiang dan masuk ke dalam suasana ini. Suasana dimana aku bertemu dengan orang yang membuatku jatuh hati.
Sebuah pertemuan singkat yang hanya kita lakukan lewat aksara dan bahasa yang kau ucap, aku sampai memberanikan diri untuk mengungkap perasaan padamu. Itu terlihat konyol. Memang. Namun, untuk kesekian kalinya aku selalu berkata; aku jujur dan aku tak mau munafik. Tapi kau malah memperkenalkan diri siapa kau sebenarnya. Dan kau selalu mengingatkan, “Jangan terburu-buru!”
Ya, aku tahu. Aku seperti sebuah hati yang tak sabar direngkuh. Dan kau sebuah hati yang tak ingin buru-buru jatuh. Aku tahu itu, aku buru-buru. Maka aku mencoba menghela napas panjang sambil menyesap secangkir kopi. Kali ini aku berimajninasi pada dentingan cangkir kopiku dan cangkir tehmu. Selera kita beda tapi ingatan selalu sama pada setiap sesapan. Meski kita bukan satu selera, tapi aku selalu suka jika kau menikmati apa yang kau suka. Kau terseduh bahagia di cangkir tehmu setiap kali aku memperhatikan. Kita menikmati dengan ekspresi tersipu malu, canggung.
Kata @agus_noor, ”Aku hidup untuk menantang bahaya. Itu sebabnya aku mencintaimu.” Yang kuniatkan dari awal juga begitu. Bagaimana kau menceritakan tingkah lakumu, masa lalumu, kehidupanmu. Aku sempat dibuat terkejut, karena tak kusangka di balik dirimu ada sesuatu yang membuatku sempat mengernyitkan dahi sambil menggigit-gigit bibir sendiri. Tapi ketahuilah, sejauh ini, yang aku inginkan hanya dirimu. Dan apapun bahayanya, aku selalu berada di kawasan Tuhan. Tuhan bisa menyelamatkan dari segala tantangan apapun. Jika aku percaya dan kau percaya, ketika sejauh ini akan menjadi sejauh nanti.

Hari demi hari aku semakin mengenalmu. Dan aku semakin terbata-bata untuk berbicara denganmu. Karena kau tahu kalau aku terlalu sering mengucap kagum padamu. Kau sering membuatku terkejut. Kau tampak seperti orang dewasa sedangkan aku seperti anak kecil yang gampang jantungan. Semakin kau membuatku terkejut, semakin sering kau melihat bagaimana aku benar-benar menjadi anak kecil yang jantungan.
Sebuah cerita. Ya, cerita. Saat itu pukul empat pagi. Kau memberikanku sebuah cerita menarik yang kau tulis sendiri. Tentang gambaran perasaan kita yang lucu ini. Dan kau bisa lihat, bagaimana kau membuat anak kecil ini jantungan lagi. Tak bisa dipungkiri bahwa saat itu kekagumanku sungguh berlebihan. Jujur, aku benar-benar terkejut sekaligus terharu dengan sebuah cerita yang kau berikan.
Seorang pria dengan pikiran-pikiran di kepalanya menginginkan taman bermain serupa kebahagiaan. Dan yang kulihat kebahagiaan itu ada pada dirimu. Maka dari itu aku masih gemar mengagumimu. Sampai-sampai aku memvonis diri ini cerewet karena mulut yang tak kunjung berhenti memuji. Aku sampai berjanji pada diri sendiri; bahwa tidak semua yang dipertemukan hanya sekedar bertamu, melainkan berniat untuk menetap selamanya. Karena setidaknya, aku sudah melihat bentuk kebahagiaan serupa dengan festival malam yang selama ini kunantikan. Begitu meriah dan selalu terpikirkan setiap saat.
Aku seakan terlanjur masuk pada sebuah pinta harap. Aku tersungkur di hadapan aksara dan bahasamu. Berteka-teki, masuk ke dalam keyakinan sekaligus keraguan. Namun akhirnya, aku gelisah juga. Ibu dari segala macam gelisah. Aku seperti membutuhkan obat kegelisahan. Yang aku gelisahkan hanya satu, yaitu ketika akhirnya kau tak menjadi milikku, melainkan milik orang lain.

Dalam kepalaku hanya berisikan kau seorang. Dan beranggapan bahwa aku dan kau sudah menjadi kita. Maafkan, kalau dari awal aku sempat beranggapan seperti itu. Namun aku sadar, ada pertanyaan yang tidak dapat disampaikan oleh mata yang tak pernah bertemu; Bagaimana aku bisa membahagiakanmu?
Kita bertemu setiap hari. Hanya saja wajahmu serupa aksara. Karena sejauh ini kekagumanku hanya bisa kutunjukkan lewat aksara. Tetapi nanti, ketika Tuhan berkata “Iya”, waktu akan memecahkan jarak dan kita akan dipertemukan. Aku sudah tak asing dengan jarak. Tak ingin lagi dibuat sulit akan hadirnya jarak. Aku malah berniat ingin menghargai jarak. Karena percayalah, suatu saat nanti jarak akan menjadi guru kita.
Tuhan tak mempermainkan dua hati. Tuhan hanya memberikan satu fase agar ketika bisa bersama, kita bisa saling abadi di kehidupan fana ini. Kendati demikian, lekaslah menjadi milikku. Barangkali Tuhan memberi amanah kepadaku untuk membuatmu bahagia jika kita bersatu. Tapi aku tak berhak merajaimu, meski mulut ini terlanjur cerewet untuk mengungkapkan rasa sayangku padamu. Dan percaya atau tidak. Kalaupun tidak juga tak apa. Akhir-akhir ini aku selalu membawa namamu dalam setiap tidurku. Akhir-akhir ini kau menjadi salah satu bahan perbincanganku dengan Tuhan.

Perihal asmara, perkara asmara. Bisa dibilang aku cinta sekaligus benci pada sebuah perasaan asmara. Aku menyadari betul dalam hal asmara, sangatlah manis. Mulai dari cara aku mengagumi, bersimpati, menaruh hati, dan memberanikan diri untuk mengungkapkan. Sangatlah manis. Tapi kali ini aku sadar, betapa lucunya aku. Melihat tingkahku yang terburu-buru ini. Tak peduli pada mata-mata sekitar yang memandang. Perhatian darimu aku anggap secara berlebihan. Padahal, kita tidak saling tahu apa dibalik kita sebenarnya. Apapun hasilnya, manis atau pahit, namun jikalau pahit, aku anggap ini resikoku karena terlalu terburu-buru dalam menyikapi perkara asmara ini. Dan aku benci di sini. Aku terlalu terburu-buru dalam urusan hati. Terlalu kagum pada apa yang aku rasakan. Aku bisa saja lenyap karena kemarin sering menebarkan perasaan kagum padamu. Aku akui, aku menjadi-jadi.
Melihat tulisan ini semoga kau bisa membayangkan kalau aku tak sanggup melupakanmu. Isi kepalaku hanya tertuju melulu padamu. Ibuku dan ibumu saja tak pernah tahu apa yang anaknya lalui. Tidak juga tahu apa yang menghantui. Tapi memang aku harus kembali ingat dengan lorong kehidupan. Suatu saat, mau tak mau, ada hal yang harus direlakan. Apalagi pada perkara hati seperti ini. Aku harus lulus dari pembelajaran ikhlas.
Kau pernah menulis, “Sudah ku bilang, banyak orang yang datang dan pergi di kehidupanku. Aku tidak mau kamu datang dan akhirnya pergi.”
Aku bisa tahu alasan semacam itu. Kau membutuhkan waktu lama untuk mengatakan, “Aku mencintaimu”. Aku mengerti itu. Dan aku harus tahu diri karena aku masih menjadi anak kemarin yang baru mengenal sosokmu. Begitu juga kau.
Aku di sini tak sendiri. Masih berharap aku dan kau untuk menjadi “kita”. Tapi yang dimaksud “kita” ini; aku, kau, dan semesta. Tapi sepertinya aku memiliki dan dimiliki semesta sejak dulu. Ketika kau dan aku tak bisa menjadi “kita”, artinya aku masih memiliki dan dimiliki semesta. Lagian, kalaupun kau sudah berharap aku juga berharap, adegan apa yang harus kita mainkan nanti?
Dadaku sudah terbuka sejak saat itu, manunggu kamu masuk dan menetap selamanya. Tapi bila kelak kau berbalik arah. Mungkin aku akan setia menunggumu tanpa pernah lelah. Saat ini yang terpikirkan hanya itu.
Aku masih sepeti yang kemarin. Tak menyerah, hanya sejenak menghentikan langkah. Sekali waktu, kita memang harus bercengkerama dulu pada titik temu, biar pertemuan yang jadi penentu. Dan berharap kita adalah aku dan kamu. Tuhan, jauhkan aku dari tingkah lakuku dalam mengagumi secara berlebihHatiku.

Maulana Setiadi

Terobsesi masuk surga.

4 comments:

Anonymous said...

terburu-buru tdk baik untuk hal apa pun. semoga menjadi pembelajaran untuk hari esok.

tdk ada yg salah jika kita jatuh hati, itu fitrah. hanya saja berhati-hatilah dalam menyikapinya.

semoga kita dapat bijaksana dalam bersikap :)





Lana Alienskie Jackson said...

Terima kasih, kak. Mari bersikap bijak dengan senyum, seolah tak ada obat di balik apel yang ranum. :)

lusia_wini said...

berasa dejavu bacanya lana :)

Lana Alienskie Jackson said...

@Lusi: wah wah!! habis ini bisa curhat dong yeee.. :)