Pages

Witing Tresno Jalaran Soko Kulino

Witing Tresno Jalaran Soko Kulino (Cinta Tumbuh Karena Terbiasa). Itu lah kata-kata yang sering kita dengar. Pasti dari sekian banyaknya orang Indonesia mengerti arti dari kalimat tersebut, terutama untuk orang jawa asli. Saya mendadak suka dengan kalimat ini karena saya sendiri merasakan terbiasa dengan “Cinta”. Tapi maaf, bukan merasakan terbiasa perasaan “Cinta”-nya ya.. Tapi terbiasa mengucapkan kata-kata “Cinta”-nya. Maksudnya?

Jadi, saya adalah salah satu dari miliaran orang-orang yang pernah merasakan Cinta juga. Tapi anehnya dulu saya tak pernah bisa menyebutkan apa lagi menafsirkan sebuah Cinta. Karena pada waktu itu yang saya pikir saya terlalu dini untuk menafsirkan kata Cinta. Dalam sebuah relasi, baik disaat ngobrol dengan teman atau disaat pacaran, saya jarang sekali menyebutkan kata-kata “Cinta” untuk bahan obrolan, apa lagi untuk membahasnya. Saya lebih menyukai kata-kata “Sayang” ketimbang “Cinta”. Karena yang saya amati sejauh itu, versi “Cinta” itu tampak banyak dan selalu banyak. Sampai saya benar-benar muak untuk mendengarkan versi cinta sebanyak itu.

Dulu, waktu saya masih pacaran dengan seorang wanita yang sekarang sudah menjadi milik orang lain, pun begitu. Di saat dan selama kita pacaran, dia sering bertanya ke saya dengan sebuah pertanyaan yang menjengkelkan, yaitu, “Apa kamu masih mencintaiku?”. Dan saya jawab, “Iya, aku masih menyayangi kamu”. Lalu dia tanya lagi, “Aku kan nanyanya masih cinta aku apa enggak. Kok jawabnya “sayang”?”. Kemudian saya jawab, “Yaa kan kamu tau sendiri kalau aku ngak pernah suka dengan yang namanya Cinta”. Dia jawab lagi, “Oh ya sudah, dehh. Terserahhh”. Duhh duhh...

Setelah itu saya sempat berfikir, bahwa Cinta juga bisa membuat orang salah persepsi kan? Masalah pertanyaan seperti ini aja bisa membuat orang salah menanggapi. Bukannya yang terpenting itu bagaimana cara menunjukkan cintanya, bukan malah selalu tanya dan sekedar menjawab...
Tapi selama saya pacaran dengan dia, dia tak pernah bosan mengungkapkan kata cinta dan selalu bertanya, “Apa kamu masih mencintaiku?”. Saya pun begitu, tak pernah lupa dan tak pernah ragu dengan jawaban, “Iya, aku masih menyayangi kamu”. Dan seterusnya..
Lama-kelamaan, kata-kata itu sudah terdengar biasa di telinga saya.

Pernah seketika itu, disaat saya ngobrol dengan dengan dia. Saya tak sengaja menggumam seperti ini, “Aku cinta kamu”. Padahal yang biasa saya ucapkan itu adalah “Aku sayang kamu”. Dengan lantangnya dia menjawab, “Iya iya, aku juga cinta kamu kok. Hehehe”. Saya sempat salah tingkah di depan pacar karena ini benar-benar tak sengaja. Entah kenapa saya bisa mengucap seperti itu tanpa ada keniatan sedikitpun. Tapi ya sudah lah, sudah terlanjur. Lagian, setelah saya pikir-pikir dan saya rasakan pada waktu itu, ungkapan seperti itu tak membuat saya sakit kok. Akhirnya dari situ kita melanjutkan ke obrolan soal Cinta dan itu sangat mengesankan. Berbagai obrolan soal Cinta yang kita bahas malah menjadi suasana tertawa. :)

Sekarang kata-kata itu sudah beradaptasi di mulut saya. Yang tadinya muak, sekarang menjadi fasih untuk menyebutkan kata-kata Cinta, meski sejauh ini saya belum tau persis definisi Cinta yang sesungguhnya. Tapi yang saya rasakan bahwa Cinta itu tak terasa sakit, malah bisa membuat saya tertawa. Dia, satu-satunya orang yang membuat saya jinak dengan kata-kata Cinta. Dan dari sini saya ingin menyimpulkan bahwa kalimat “Witing tresno jalaran soko kulino”. Ya, benar sekali, Cinta itu tumbuh karena terbiasa. Saya sudah membuktikan. Yang tadinya saya muak dan tak suka sama sekali dengan kata-kata Cinta, sekarang saya benar-benar tak ada beban untuk mengucap dan mendengarkan kata-kata Cinta itu. Dan semua ini adalah,,, karena terbiasa.


Ini sih pengalaman saya yang saya hubungkan dengan kalimat tersebut. Dan yang sesungguhnya maksud dari kalimat Witing Tresno Jalaran Soko Kulino adalah; “Cinta akan tumbuh karena terbiasa. Terbiasa bertemu, terbiasa bersama-sama. Mungkin pada awalnya cinta itu belum tumbuh, tetapi karena sering bertemu atau sering bersama-sama akhirnya cinta itu mulai tumbuh dan dirasakan.

Selamat merasakan Cinta dengan versinya masing-masing dan selamat mengunyah Cinta yang sekarang kalian dapat. Sukses cinta.

Maulana Setiadi

Terobsesi masuk surga.

5 comments:

Aprie Janti said...

ada yg bilang "writing tresno jalaran soko kulino" adalah qoutes yg dibuat oleh orang tua pada jaman dulu agar anak perempuannya dengan sukarela mau dijohohkan. "Biar saja belum cinta nanti juga terbiasa," mungkin begitu anggapannya mereka. Buat saya yang keras kepala ini, prosesnya harus tetap dari fall in love kemudian in love "writing tresno jalaran soko kulino".

-komen oot- :p

Aprie Janti said...

ada yg bilang "writing tresno jalaran soko kulino" adalah qoutes yg dibuat oleh orang tua pada jaman dulu agar anak perempuannya dengan sukarela mau dijohohkan. "Biar saja belum cinta nanti juga terbiasa," mungkin begitu anggapannya mereka. Buat saya yang keras kepala ini, prosesnya harus tetap dari fall in love kemudian in love "writing tresno jalaran soko kulino".

-komen oot- :p

Aprie Janti said...

ada yg bilang "writing tresno jalaran soko kulino" adalah qoutes yg dibuat oleh orang tua pada jaman dulu agar anak perempuannya dengan sukarela mau dijohohkan. "Biar saja belum cinta nanti juga terbiasa," mungkin begitu anggapannya mereka. Buat saya yang keras kepala ini, prosesnya harus tetap dari fall in love kemudian in love "writing tresno jalaran soko kulino".

-komen oot- :p

Lana Alienskie Jackson said...

Wah, kece! :)Hehe. Kalo buat saya yang terlihat seperti melesetkan kata sih ya ini, saya terbiasa karena cara mengucap kata cintanya. hehe

Terimakasih atas komentarnya, mbak Aprie Sastra Janti. :)

oktavianisea said...

duh..duh..duh.. witing tresno jalaran soko boncengan, soko sms-an, whatsapp-an, bbm-an, apa lagi yah? hehe... kalo versinya bang Tere, cinta itu perbuatan, jd ga kebanyakan ngomong tapi action, hihi..