Pages

Rasa Terima Kasihku Pada Sebuah Kota

Kebahagiaan bisa salah diingat, sebenarnya kebahagiaan juga berubah bersama masa depan. Meski setiap orang memiliki kebahagiaan di balik cerita yang tak perlu diketahui oleh orang lain. Akan tetapi selalu ada yang berbeda jika berada di kota ini, sebuah kota di mana aku merasa terikat olehnya.
Tak butuh waktu lama bagiku untuk mencintai kota ini. Semua karena suasana. Ketika aku mulai memasuki kotanya, suasana yang hangat menjalar di tubuh. Suasana di mana kebahagiaan yang lama tak kurasa, sebentar lagi melingkar di kepala yang berat ini. Suasana ini akan ku pertahankan sampai akhirnya ada cerita lain di balik cerita selanjutnya.
Sebuah kota ialah keasingan yang lain, seperti sebuah pertemuan. Di kota ini tujuanku  untuk bertemu dengan orang-orang yang semestinya aku temui. Ketika aku bertemu dengan mereka, aku menjadi banyak tertawa dengan berbagai macam kekonyolan dari mereka. Yang aku alami, aku merasa senang dan ini seperti sudah ada keterikatan dalam perkawanan.


Semarang. “Lagi-lagi semarang dan kenapa harus semarang?”. Beberapa kawan bertanya seperti itu. Yang mampu ku jawab hanya, ”karena sampai saat ini belum menemukan kota yang pas di hati”. Rasa penasaranku pada sebuah kota itu banyak, tapi saat ini hanya Semarang yang bisa memberiku ketenangan. Selain suasana kotanya, juga karena adanya mereka, di mana kedamaian mampu aku temui di saat itu. Berada di antara mereka begitu nyaman. Aku pun paham bahwa kelak aku atau mereka akan pergi. Dan itu bukan berarti aku tidak bahagia di tempat lain, akan tetapi tiap ketenangan memiliki cita rasa sendiri, dan kota inilah yang telah membentuk sebagian kebahagiaan besar dariku.
Saat ini, sejujurnya aku tidak tahu. Apakah aku sudah menjadi seseorang yang lebih baik ataukah lebih buruk? Namun, jika aku ingat, seperti yang aku tuliskan di postingan sebelumnya. Aku merasa dari kota ini aku belajar memahami sebuah kekeluargaan pada manusia. Aku bahkan tak merasa bernostalgia saat ini. aku merasakan ini adalah harapan yang ingin selalu kudamba.
Bertemu dengan mereka di kota ini seperti suasana dan cerita lain bagi kepalaku. Suasana yang mungkin bisa pecah di bibir kapan saja. Sampai akhirnya kerinduan akan mampir.

Saat itu di kedai kopi. Kita duduk-duduk sambil ngopi, berbincang, dan bernyanyi. Cerita demi cerita yang kami lontarkan seperti menggariskan aku bisa senantiasa bersama mereka. Aku menjadi lupa kekejaman kelam yang kemarin. Aku menjadi lupa atas hiruk pikuk di kota kelahiranku sendiri. Yang aku sadari ketika di sini adalah, kebahagiaan yang akhirnya menghilangkan penatku kemarin. Di sini sekaligus merelakan layaknya cangkir berisi kopi yang harus ku kosongkan. Karena memang kopinya yang sudah sungkan kusesap. Tapi saat ini aku sedang merasakan kebahagiaan di kepalaku, dari segala kebahagiaan di kepala mereka. Tak akan ku lewati dan berharap ini tak cepat reda.

Aku masih di sini, dengan canda tawa di depan mereka. Mereka gemar memberikan bahan percakapan yang menarik. Suasana malam menjadi saksi atas perbincangan kami. Bintang-bintang serasa terpahat dengan manisnya. Tak ada yang mencekam, tak ada pula sisa kekhawatiran. Yang kulihat saat itu, hanya ukiran senyum di antara kita yang merasakan tawa ini. aku sadar, kemarin sudah terlalu lama meninggalkan kebahagiaan semacam ini. dan mereka mengingatkan lagi cara dengan bentuk perhatiannya sebagai penarik suasana.

Malam masih terlihat cantik dengan rona gemintang. Angin dingin yang memberi saji di bulan Juni tak membuatku untuk meninggalkan tempat ini. Malah seperti menjadi hembusan doa perihal kebahagiaan yang membuai di kepala. Tak ada pikiran ricuh. Hanya rangkaian aksara manis yang ingin ku teriakkan pada semesta.

Aku sadar bahwa kemarin aku sempat ditelan kelam. Ada segelintir perasaan di hati. Isak sedu dan tanya menghampiri, lalu pergi. Ada mitos-mitos kecemasan di kepalaku. Sampai akhirnya membuat gerimis di hati seakan membentuk kolam meski tanpa ikan.
Tapi aku sadar betapa banyaknya perkara yang dirasakan setiap manusia. Apalagi, ketika ingat bahwa hidup terus berlanjut sampai nyawa tercabut. Ya sudah, jalani saja hidupku dan beri ruang pada mereka yang ku temui untuk menjalani hidupnya masing-masing.

Aku masih di sini, masih menyukai suasana ini. Aku menyebutnya sebagai kebahagiaan yang mengendap dalam cangkir tawa. Ingin selalu ku seduh.
Ramai pinggiran kota yang masih ditapaki manusia dengan hiasan lampu kota, serta cerita-cerita yang tidak bisa membuatku berhenti bicara; untuk kemudian aku masih menginginkan percakapan lagi dari sebuah hari dan berharap tak akan ada suasana yang tumpah. Karena pada percakapan, bukan hanya mulut, tapi isi kepala kita juga berbincang, sebelum kita lupa cara bagaimana menabung rindu. Sampai kita ingat, pelajaran atas dasar penyesalan itu menyakitkan.

Di saat itu, di dalam kepala ada ayunan di mana ketika aku kecil, tertuang kebahagiaan dan mencoba merajut sebuah mimpi. Sekarang, mimpi ini kembali mengingatkanku lagi. Betapa manisnya ketika mimpi hanya ada dalam angan-angan, lalu memikirkan setiap saat untuk dijadikan pedoman target masa depan.

Saat ini, suasana membuatku tersenyum lagi. Bibir dari percakapan kita tak terbata sedikitpun. Padahal isi dari dentingan cangkir yang berisi kopi sudah hampir tandas. Semesta memberi dukungan untuk sebuah pertemuanku dengan mereka, sehingga membuatku menjadi lebih kuat dalam menghadapi segala perkara. Apapun perkaranya, setelah pertemuan ini aku jadi benar-benar sadar bahwa aku masih membutuhkan dekapan dari Tuhan untuk tidak berbuat bodoh.

Adakah yang lebih hening, dari cinta yang disembunyikan di balik pelukan persahabatan? Tak perlu banyak hal sebagai alasanku untuk bahagia. Ibuku, sahabat-sahabatku, dan rasa syukurku. Dan kota ini dalam bahasa dari segala mavam aksara yang menjelma ribuan kiasan tentang kebahagiaan. Gembira jadi wangi semerbak kebun melati.

Untuk malam ini yang enggan ditinggal pergi. Jangan tikam suasana riangku yang mengendap dalam cangkir kopi haru. Karena ini akan menjadi sebuah dongeng tersendiri untukku. Sekilas, merasakan aroma rindu yang nantinya akan hilang tak berbekas. Karena itulah dunia, yang selalu berisi cerita dan suara.

Tuhan
Ampunilah aku untuk kemarin. Ampunilah aku untuk kini. Dan ampuni setiap lipatan waktu yang membawaku pergi. Bawalah aku selalu dalam suasana teduh.
Aku berharap kepada-Mu untuk mengajarkanku menerima kenyataan. Berharap memberikanku kelulusan dalam sebuah keikhlasan. Aku ingin merasakan kelapangan dada. Hingga setiap langkah terisi makna. Hingga setiap niat terisi nyata.
Dan untuk semesta ijinkan aku untuk berkata; Walau hanya terdengar sedepa. Tapi ini hormatku padamu.
Terima kasih Tuhan. Astungkara Semesta. Matur suwun Semarang.



Semarang, 2 Juni 2013.

Maulana Setiadi

Terobsesi masuk surga.

2 comments:

rusydi hikmawan said...

kota kelahiran ya. emang kota kelahiran punya berjuta kenangan

Lana Alienskie Jackson said...

Bukan mas. Itu kota mampir. Tapi saya suka. Terima kasih. Hehe