Pages

Hanya Bingkisan

Sudah hari ke lima belas di bulan ramadhan. Zahra dan keluarganya masih melakukan ibadah puasa bersama. Mumpung masih lebaran, setiap sore ia dan adiknya berjualan berbagai macam kue di pinggir jalan. Ibunya yang setiap hari bekerja sebagai rumah tangga, kali ini bagian yang membuat kue.
Setiap sore kuenya selalu ramai oleh pengunjung jalanan. Itu karena pelayanan mereka yang murah senyum terhadap pembeli dan kuenya yang terbilang enak. Setiap mereka melihat kuenya laku habis, mereka tersenyum bahagia.
“Alhamdulillah, kalau setiap hari begini uangnya bisa untuk membeli perlengkapan lebaran,” ucap Zahra sambil melakukan buka puasa dengan ibu dan adiknya di rumah.
***
Lebaran tiga hari lagi. Sudah tiga tahun mereka merasakan suasana ramadhan dan lebaran tanpa adanya sang ayah karena profesinya sebagai pelayar. Pagi itu, ketika Zahra dan adiknya sedang sibuk membuat kue, mereka dikejutkan oleh suara ketukan pintu rumahnya. Ibunya yang sedang menjumput lipatan mukena anak-anaknya bergegas membuka pintu. Tukang Pos mengantarkan bingkisan besar. Mereka sudah menebak dari siapa bingkisan itu. Si bungsu berlari menghampiri ibunya.
“Pasti bingkisan dari ayah lagi ya, bu?” tebak si bungsu.
“Iya, dek,” kata ibu sambil membelai rambutnya.
Zahra hanya terdiam dan merasa maklum, berharap bisa merasakan ramadhan dan lebaran berikutnya dengan keluarga lengkap.

Maulana Setiadi

Terobsesi masuk surga.

2 comments: