Pages

Kegilaan; Kita

Aku bertemu denganmu melalui aksara yang berisi senyuman khas yang ku curi dari bocah ceria di pinggir jalan yang tak ku kenal. Kau memandangku dengan senyum balik khas wanita ceria yang kau curi juga dari novel romantis milik penulis terkenal. Kita menatap aksara kita masing-masing dengan malu-malu. Dipertengahan obrolan kita terbata-bata, bahkan salah tingkah di setiap aksara. Pipi kita merah merona seperti apel yang ranum. Aku mencoba menganggap jejaringan sosial ini sungguh ajaib. Kita bisa tersipu malu sebelum kita saling bertemu.

Sebuah kota yang sama dan kita sepasang nama yang dipertemukan di meja taman sudut kota. Kita bukan lagi terlihat aksara. Kita saling menghadap. Bahkan wajah kita tergelak tawa atas botol minuman yang kita nikmati sepanjang malam. Denting demi denting mempercepat alur waktu pada percakapan yang berpendar. Wajahmu yang sok inosen mengalihkan perhatianku bahwa waktu tak menyelisihkan pada kecemasan. Bukan hanya arlojiku, tapi wajah kecemasanku juga sudah ku buang sejak tadi di tong sampah yang penuh dengan kertas koran topik politik basi.

Kita bertemu dengan malam dan dingin. Namun, kau memberikan kata-kata yang dimiliki penulis terkenal tentang arti sebuah malam dan dingin. Kau bisa membuktikan perkataan itu, betapa hebatnya arti malam dan dingin. Mereka terlihat kompak, sampai spontan pelukanku mendarat ke tubuhmu. Tungku api di matamu begitu menyala. Kau menerbitkan suasana hangat. Menandakan percakapan kita tak akan padam. Kita benar-benar akrab pada pertemuan pertama. Malam, dingin, bangku taman, gulungan tembakau yang masih menyala di sela jari kita, dan botol berdenting. Menjadikan moment penting, sekaligus saksi bisu pada percakapan kita.

Lalu malam terlanjur tua dan hampir sekarat. Kita berjalan menuju rumah kita masing-masing. Aku mengantarmu dengan genggaman erat. Memajang seribu pelukan di jalanan yang kita telusuri. Hembusan angin mengantar kita dengan kumpulan kata-kata yang mengapung dalam garis yang tak tampak.

Di persimpangan asing kita bersiap berpisah menuju arah yang berbeda. Kita saling menatap sambil mesem-mesem manis. Dan tanpa adanya aba-aba sedikitpun, kau mencium bibirku dengan nyalang. Detak jantungku menderu-deru seperti suara ombak besar menepis pantai. Menjelma sepasang nama kita yang menggebu-gebu minta didoakan pada semesta. Lalu aku tertawa lepas setelah terhenti dari ciumanmu. Kau hanya memberikan senyuman yang menggugah.

“Tak perlu khawatir, sayang. Tidak ada yang salah dari kita. Porsi kegilaan kita sama. Dan, suatu saat aku berjanji akan mampir ke rumahmu membawa bingkisan dekapan hangat. Agar seribu pelukan yang kau pajang di jalanan yang kita telusuri tadi tak sia-sia. katamu yang sampai sekarang aku peluk dalam ingatan hingga kini.

Untukmu yang saat ini tak mewujudkan semilir aromamu, tak ada sejumput kamu yang bisa ku temui lagi. Tentangmu yang masih melekat dalam ingatan, itu adalah kenangan kemarin. Wajahmu yang serupa pelukan masih terbungkus rapi di dalam ingatan. Sosokmu yang kemarin hanyalah mampir, melantunkan tembang rindu yang sekejap hilang tak menyisakan apa-apa. Inilah kita. Sepasang nama yang menapaki dua arah yang berbeda. Sepasang nama yang tak bisa ditemui lagi di bangku taman sudut kota. Kita perihal alamat-alamat jauh yang sulit untuk merasakan sayup degup hidup masing-masing. Semesta yang saat ini masih terlihat cuek untuk pertemuan kita selanjutnya, mungkin karena ia mempunyai rahasia yang masih tersimpan. Sengaja aku sebelum tidur untuk mengkomat-kamitkan bibirku dan ku rapal namamu hanya untuk sebuah pertemuan selanjutnya ketika sudah bangun. Dan kau membawa bingkisan dekapan hangat yang saat itu kau janjikan.

Maulana Setiadi

Terobsesi masuk surga.

No comments: