Pages

Direktur baruku? Oh tidak!

Senin pukul sembilan pagi. Pak Hadi, direktur kantorku mengadakan meeting dengan beberapa karyawan di ruang meeting ini, sekaligus memperkenalkan calon direktur baru. Pak Hadi yang sebentar lagi akan menikmati masa pensiunnya, membuat posisi direktur akan digantikan oleh mitra bisnisnya.
Beragam tingkah laku terlihat di ruangan ini. Ada yang sejak tadi tersenyum seperti orang gila, saat matanya terpaku pada smartphone-nya. Ada yang menyenandungkan lagu dengan bersiul-siul tidak jelas. Ada juga dua karyawan perempuan yang terbahak-bahak, ketika bergosip soal aktor-aktris kacangan. Sepertinya hanya aku, sejak tadi merasa cemas. Ragu dengan pergantian direktur ini, karena terlanjur nyaman dengan Pak Hadi.
Pak Hadi masuk ke ruang ini. Beliau berjalan menuju mejanya dengan raut wajah serius. Seakan ragu adanya meeting ini. Semua karyawan terkesiap melihat kedatangannya.
“Disa, bisa kamu bacakan jadwal kegiatan kantor minggu ini? Di buku jurnalmu yang kusuruh kau catat kemarin?” tanya Pak Hadi padaku sambil menatap serius.
“Bisa, Pak. Sebentar.” Bergegas aku merogoh tas dan mencari buku jurnalku. Tapi tak kutemukan. Berkali-kali kurogoh di bagian lain, pun tak kutemukan juga. Kepanikanku terhenti ketika berhasil mendapat satu-satunya buku. Tetapi, bukannya buku jurnal yang kudapat, melainkan buku diariku, yang ukuran dan warna cover-nya nyaris sama dengan buku jurnalku. Sepertinya, semalam aku salah memasukkannya ke dalam tas, ketika melihat buku jurnal dan diari ini bersebelahan.
Kemudian aku mengeluarkan diari ini untuk mengurangi rasa panik dan pura-pura mencari permintaan Pak Hadi.
“Sudah ketemu, Dis?”
“Emm.. belum, Pak. Ini masih saya cari.”
Aku masih pura-pura mencari di diari ini, membalikkan setiap halaman ke halaman lainnya. Padahal, isinya hanya sekedar curhatanku.
Pencarianku terhenti pada salah satu halaman; ketika tiga bulan yang lalu, aku memutuskan hubungan dengan pacarku, karena aku terlalu sibuk bekerja. Belum sanggup memberi banyak kesempatan untuk berbagi kasih sayang. Maka kuputuskan untuk menyudahi hubungan ini, agar ia tidak menyia-nyiakan waktunya.
Aku menyelami tulisan ini dan mengingat wajahnya. Tiba-tiba suasana hening, setelah ada lelaki bertubuh tinggi tegap, berbalutkan kemeja putih yang terhiasi dasi abu-abu, sudah berdiri bersebalahan dengan Pak Hadi. Aku tak mendengar suara orang membuka pintu dan jejak sepatu lelaki itu, ketika masuk ke dalam ruangan ini.
“Inilah calon direktur baru kita. Beri tepuk tangan,” seru Pak Hadi memperkenalkannya. Semua karyawan memberi tepuk tangan meriah, sedangkan aku hanya menelan ludah sendiri dan nyaris pingsan.

“Direkutur baruku? Oh tidak!” teriakku dalam hati. Menyadari direktur baru itu adalah Miko, mantan pacarku yang kuputuskan tiga bulan yang lalu.

Maulana Setiadi

Terobsesi masuk surga.

2 comments:

Ila Rizky Nidiana said...

glek. hahaha. mantan oh mantannn :))

Lana Alienskie Jackson said...

Rasanya ingin berteriak, kak. :)))