Pages

Satu Malam Bersama Badut

(Image by blog @mlctra)


Pukul delapan malam, mobilku tiba di depan rumah Lisa. Ternyata ia sudah menungguku sejak tadi. Mengenakan pakaian dress hitam sambil mengembangkan senyum menggoda.
“Angun, Sa!” pujianku tiba-tiba setelah turun dari dalam mobil. Ia menatapku sedikit serius dengan kedua tangannya yang membelakangi punggung, “Ehmm.. Kemejamu juga bagus, Fer. Motiv polkadot yang terlihat matching dengan skinny jeans-mu. Kece!” Sejenak kami tertawa kecil. Kalau aku lupa diri sudah kucium bibirnya saat itu.
Sampai saat ini aku masih mengharapkan ia memujiku, sekedar mengucap, “Kau tampan”. Namun selama setahun kami saling mengenal, pujian semacam itu tak pernah ia lemparkan padaku. Mungkin setelah kami pulang dari acara ini, karena aku yakin malam ini akan menjadi spesial dan berkesan bagi kami.
Selama di perjalanan, Lisa melihat banyak sobekan kertas di sekitar bawah jok yang ia duduki. Itu kertas yang disobeki Aurel, keponakanku yang berumur empat tahun. Aku tahu Lisa tak menyukai keadaan kotor. Maka ia bergegas membersihkannya, memungut satu persatu kertas sobekan yang berceceran itu dengan mendungkukkan kepala ke bawah.
Ketika semua kertas sobekan itu sudah terkumpul di tangannya, ia mencoba kembali ke posisi duduknya, dengan mengataskan kepala dan tak sengaja kepalanya membentur audio sampai audionya menyala. Ia merasa sedikit sakit. Refleks tanganku mengusap-usap pelan di sekitar kepalanya yang sakit dan tidak sengaja turun ke sekitar wajahnya. Saat itu aku merasakan kulit wajahnya yang sangat halus.
“One day in your life, you'll remember a place. Someone touching your face. You'll come back and you'll look around, you'll...” Kami dikejutkan oleh lagu dari Micahel Jackson yang berjudul One Day In Your Life. Bergegas tanganku kembali ke setir mobil dan kami saling terdiam.
Aku melihat dengan sudut mata kiriku, ia tersenyum mendengarkan lagu itu. Sedangkan aku hanya dapat tertawa dalam hati, karena tak habis pikir, kenapa liriknya begitu pas di saat aku menyentuh wajahnya.
***
“Ya, hanya kafe ini yang bumbu ayam panggangnya paling enak,” ujar Lisa setelah sampai di kafe favoritnya. Kami memesan dua porsi ayam panggang dan jus jeruk kesukaan kami.
Selama makan, ia bercerita atas pengalaman manisnya semasa kecil. Tentang dirinya saat masih bocah, ia sering berlari dengan pekik girang karena selalu diajak ke taman bermain oleh kedua orangtuanya, hanya untuk melihat badut. Ia sangat suka dengan badut. Setiap ada badut di acara ulang tahun kawannya, ia tak pernah absen. Menurutnya, badut adalah simbol keceriaan dalam sebuah pesta atau tempat-tempat yang membuat tertawa bagi anak-anak kecil. Meski pakaian mereka aneh, tapi suasana pesta akan menjadi meriah, ketika badut selalu memperlihatkan mimik-mimik yang lucu.
Lain pula denganku, yang sejak kecil sampai sekarang masih takut dengan badut. Menurutku, badut itu mempunyai wajah yang menyeramkan, tak jauh beda dengan wajah yang dipoles pada saat pesta halloween.
“Kamu juga suka badut kan, Fer?” tanya Lisa sambil mengunyah ayam panggang terakhirnya.
“Uhmm. suka kok,” jawabku mengarang.
Makanan kami sudah habis tapi percakapan tak kunjung usai. Sengaja aku mendekatkan kursiku pada kursinya agar bisa bersebelahan. Kami sama-sama tahu, bahwa kami sekedar berteman. Hanya saja, kami seperti orang pacaran yang kemana-mana selalu berdua.
Sampai saat ini, aku selalu mengurungkan niatku untuk mengungkapkan perasaanku padanya, karena aku masih mencari suasana yang romantis. Dan suasana itu belum aku temukan juga. Sejauh kami bisa jalan berdua, selalu saja ada hal konyol.
“Rasanya ciuman gimana ya, Fer?” Lisa bertanya kembali sambil melihat pengunjung lain yang sedang bermesraan dengan pasangannya.
“Haha. Enak kok. Mau nyoba?” jawabku meledek.
“Amit-amit! Orang nanya doang!” jawabnya terkekeh geli, lalu ia menoyor kepalaku. Kemudian aku mendekatkan wajahku pada wajahnya dengan ekspresi yang menggelikan. Ia menoyor kepalaku lagi, lalu wajahku mendekatkan kembali. Berulang kali, seperti bola bekel yang dipantulkan ke dinding. Pada toyoran terkahirnya, wajahku lebih mendekati wajahnya, sampai bibirku tak sengaja terpeleset di bibirnya. Aku merasakan bibirku mencium bibirnya meski hanya satu detik.
“Aaaakk!!! Sana menjauh. Jijik!” teriaknya sambil mendorong wajahku.
“Dih, nggak sengaja tau! Emang aku nggak jijik apa?” Dasar!” balasku tak mau kalah.
“Jijiknya itu karena bibirmu belepotan! Banyak bumbu ayam yang belum kamu lap!”.
“Hah! Hanya karena itu? Hehehe”.
“Uhmm. Ya pokoknya jijik!” jawabnya salah tingkah, terlihat dari bola matanya yang memandang ke berbagai arah. Perdebatan itu berlangsung beberapa menit. Kami sibuk menghapus bekas bibir kami masing-masing menggunakan tisu. Saling bergidik dan terkekeh geli, lalu tergelak tawa.
Baru sadar, tingkah kami sukses menjadi tontonan beberapa pengunjung kafe yang lain. Mereka tertawa kecil. Ada salah satu pria yang mengacungkan jempolnya kepadaku. Dia seperti menyukai tingkahku yang tak sengaja mencium bibir Lisa.
 “Sudah jam dua belas malam. Selamat ulang tahun ya, Feri. Semoga cepat dapat jodoh.” Lisa mengucapkan ulang tahun kepadaku sambil mengulurkan tangannya. Aku meraih tangannya dan merasa sangat bahagia. Wanita yang diam-diam aku cintai ini menjadi orang yang pertama kali mengucapkan ulang tahun kepadaku.
Sejenak aku berdoa atas bertambahnya usiaku dan berharap ketika kami pulang dari acara ini, Lisa mau menerimaku untuk menjadi pacarnya. Ya, kesempatan untuk mengutarakan perasaanku ini sudah aku pikirkan matang-matang sebelum aku menjemputnya.
“Makasih, Sa. Aku senang bisa merayakan ulang tahun sama kamu.”
“Siapa bilang cuma merayakan sama aku? Ada yang mau ikut meramaikan kok!”
“Hah? Ada lagi? Mana?”
“Tuh! Di belakangmu!”
Bergegas aku membalikkan badan untuk menemukan sesuatu yang ia katakan. Namun, tiba-tiba aku terperanjat dan nyaris pingsan, ketika melihat dua orang yang memoleskan wajahnya dengan bedak tebal dan berpakaian aneh, sudah dekat dengan meja kami. Mereka mengulurkan tangan ke arahku, mungkin hendak mengucapkan ulang tahun juga. Aku yang sudah terlanjur panik akan sosok mereka, hanya bergegas meninggalkan diri dan berniat pergi dari kafe. Meski aku menyadari sejak tadi, Lisa hanya tertawa atas tingkahku yang ketakutan dengan badut itu. Tapi tak kupedulikan.
Belum sempat keluar dari pintu kafe, Lisa meraih tanganku agar aku tidak pergi sendiri. Lalu kami masuk ke dalam mobil dan segera pergi dari kafe. Jantungku berdegup kencang, masih takut dengan suasana tadi.
***
“Hei, sudah! Tarik nafas dalam-dalam. Lalu fokus pada jalanan!” ujarnya tertawa meledek.
Aku seikit geram atas tingkahnya, “Kamu gila ya? Ngapain sih bawa badut segala?”
“Haha. Aku Cuma mau meramaikan suasana aja, Fer.”
“Gagal deh ini acara!”
“Hah! Gagal gimana?”
“Nggak apa-apa.”
“Oh, jadi kamu takut sama badut ya? Katanya suka,” timpalnya meledek. Aku tak menjawab. Masih merasa sedikit kesal atas tingkahnya. Rencanaku yang sudah kuniatkan untuk mengungkapkan perasaan, seketika gagal begitu cepat. Setelah itu aku bingung untuk berbuat apa.
***
Ketika berhenti di lampu merah, aku memutarkan lagu pada audio mobil untuk menenangkan suasana. Michael Jackson – You Are Not Alone yang kuputar saat itu. Lagu yang mengalun lembut di telingaku. Tawanya Lisa juga perlahan berganti tenang setelah mendengarkan lagu itu. Bibir tipisnya bergerak ikut bernyanyi dengan irama lagu.
“Kamu selalu pintar memilih lagu sesuai keadaan ya, Fer,” ujarnya menoleh ke arahku sambil tersenyum kecil. Aku memicingkan mata sejenak saat kembali memandangnya, sambil berkata dalam hati, “Wajahmu cantik sekali malam ini, bibirmu sangat menggoda. Tak sia-sia aku menciummu tadi.”
“Ton Ton!” Kami dikejutkan oleh bunyi klakson dari truk besar yang berada persis di belakang mobilku.
“Lampu sudah hijau!” teriakmu mengingatkan dan bergegas aku tancap gas.
“Sial itu truck! Ganggu suasana aja!,” gumanku kesal.
“Suasana apa?” Ia bertanya sambil menatapku penasaran.
“Oh, ngggg.. gak. Suasana mobil enak banget, aromanya harum. Aku baru ganti parfum rungan mobil,” jawabku mengarang seadanya.
“Ah, bohong! Bilang aja kalo kamu tadi lagi memperhatikanku. Iya kan?”
“Eh, apaan! Geer banget sih?”
“Aku mau nanya sama kamu dan harus kamu jawab jujur ya, Fer!” Lisa mantapku serius. Tak ada pertanda akan tertawa pada wajahnya.
“Nanya apaan?”
“Kita kan sudah sering jalan berdua. Udah saling mengenal karakter masing-masing. Mulai dari sifat jelek, makanan kesukaan, musik favorit, bahkan pakaian kesukaan setiap kita keluar, pun sudah bisa saling menebak. Hmm.. the point is, sebenarnya kamu suka nggak sih sama aaa..” Belum tuntas Lisa menjelaskan, kami dikejutkan oleh suara ponselnya, pertanda sebuah pesan singkat yang ia dapat. Ia membaca pesan tersebut dengan raut wajah terkejut.
“Dari siapa, Sa? Kok mukanya kisut gitu?”
“Dari teman kantor. Aku baru ingat kalo aku belum menyelesaikan laporan.”
“Kenapa belum selesai?”
“Kan tau sendiri laptopku lagi diservice.”
“Oh iya ya. Ya udah, mau pake laptopku?”
“Mang kamu bawa laptop?”
“Enggak sih. Kita mampir ke kontrakanku dulu. Gimana?”
“Mang nggak kamu pake?”
“Enggak kok.”
“Yaudah deh. Ke kontrakanmu dulu. Biar malam ini aku lembur.”
***
Sesampainya di depan kontrakan yang saat itu terlihat senyap. Tak ada suara tawa yang menggelegar dari dalam. Nyaris tak ada gumaman yang terdengar. Jarang sekali suasana kontrakanku seperti ini. Mungkin kedua teman kontrakanku sedang keluar.
Setelah masuk ke dalam dan menghidupkan lampu, aku mengambil laptopku yang tergeletak di samping televisi. Lisa hanya mau menunggu di dalam mobil.
Belum sempat untuk meraih laptop, aku mendengar samar-samar jejak beberapa kaki mendekatiku dari belakang. Saat aku membalikkan badan untuk mencari suara itu, aku mendongkak dengan kening berkerut, ketika melihat dua orang mengenakkan pakaian badut yang terpoles make-up aneh di wajahnya dengan rambut wig berwarna-warni. Aku yang sudah terlanjur panik, bergegas lari untuk keluar dari kontrakan.
Belum sampai keluar, aku dikejutkan kembali oleh satu badut lain. Kali ini badutnya berbeda, ia tak memperlihatkan wajahnya, hanya menggunakan kostum dari kepala sampai ujung kaki. Ia menghalangiku persis di depan pintu yang akan aku lewati. Aku yang kembali terkejut oleh sosoknya, secara spontan tanganku menonjok badut tersebut sampai pingsan dan tergeletak di hadapanku. Aku hanya termangu melihat keadaan itu. Badut yang sempat mengagetkanku sekarang sudah pingsan oleh pukulanku.
Kedua badut yang lain bergegas menghampiri badut yang pinsan, membuka kostum yang terpakai di kepalanya. Setelah kostum di kepalanya terbuka, aku terkesiap dan menelan ludah sendiri. Nyaris lemas. Menyadari bahwa badut yang pingsan itu adalah Lisa.
Aku termenung sejenak melihat keadaan itu. Berbagai perasaan berkecamuk hebat di batinku. Berkali-kali mencoba membuyarkan rasa bersalahku yang sedang menjajah di kepala, tapi nihil. Di sisi lain, kedua badut itu ternyata teman kontrakanku. Mereka kompak menyalahkanku atas kejadian ini. Aku merasa diriku bagaikan seorang terdakwa.
***
Sesaat Lisa siuman dari pingsannya. Wajah cantiknya bersinar kembali meski ia terlihat sedikit pusing. Aku yang berada di sebelahnya pun merasa lega.
“Apa yang terjadi barusan?” tanya Lisa pada kami sambil merasakan sedikit pusing.
“Tadi kamu pingsan karena ulahmu sendiri,” jawabku.
“Ulahku? Kok bisa?”
“Iya, tadi kamu ngagetin aku pake kostum badut, terus refleks tanganku mukul kamu sampai pingsan.”
“Oh ya? Lalu?”
“Lalu kami bertiga cemas.”
“Ehmm. Aku nggak ingat.”
“Terus apa yang kamu ingat?”
“Yang aku ingat, selama kita di mobil, diam-diam kamu liatin aku terus. Itu ada apa sih, Fer?”
“Namanya naksir ya gitu deh,” sambar Fajar, salah satu teman kontrakanku yang tiba-tiba meledek.
“Naksir?” tanya Lisa intens.
Erwin, teman kontrakanku yang lain bertanya keheranan, “Oh, kalian belum jadian? Aku kira di kencan tadi kalian udah resmi pacaran.”
“Ya udah. Sekarang kalian jadian aja. Ngapain sekedar berteman, kalo kalian sama-sama punya perasaan ingin memiliki,” ucap Fajar kembali meledek. Aku tidak tahu lagi harus berbuat apa setelah mendengar celotehan dari mereka. Kemudian Lisa bertanya kembali kepadaku dengan tatapan wajah yang serius. Tak ada pertanda akan menunjukkan ekspresi tawanya sedikitpun, “Memangnya kamu mau jadi pacarku, Fer?” Aku terkejut mendengar pertanyaannya. Seperti hal yang tak disangka.
“Mau!” sambar Fajar dan Erwin secara kompak, lalu mereka bertiga tertawa bersama. Aku yang merasa ini sebuah kejutan hanya dapat mengangguk atas pertanyaan Lisa. Dan akhrinya kami resmi pacaran.
Belum berakhir sampai situ, aku dikejutkan kembali oleh Erwin, ketika ia menghampiri kami dari arah dapur, membawa kue tart yang terhiasi lilin berbentuk angka dua lima untukku. Dinyalakan lilin itu, dan memintaku untuk meniupnya.
Selesainya meniup lilin yang jaraknya dekat dengan wajahku, bergegas tangan Lisa menyambar kue itu dan melemperkan ke wajahku. Wajahku menjadi sangat belepotan karena kue itu. Tawa mereka bertiga meledak. Suasana itu semakin ramai.
“Haha. Masih mending ini kan? Daripada pingsan kena pukulan?” tanya Lisa sambil tertawa meledek. Kemudian ia mendekatiku dan membersihkan wajahku dengan tisu.
“Ehmm.. Nggak apa. Yang penting kamu udah jadi pacarku,” tegasku sambil tersenyum.
“Haha. Oh iya, hampir lupa. Malam ini kamu tampan sekali, Fer!”



Tulisan ini diikutsertakan pada PESTA NULIS: ULANG TAHUN KAMAR FIKSI MEL ke 1.

Maulana Setiadi

Terobsesi masuk surga.

10 comments:

Lidya Dwi Jayanti said...

Selamat, tulisanmu bagus . Saya suka bacanya, apalagi waktu Lisa bilang " malam ini kmu tampan sekali, Fer"

Nurul Ajrin said...

Aku suka tulisannya! Semoga menang ya, kak Lana. ^^

Lana Alienskie Jackson said...

Saya juga suka yang adegan itu, Bro.Hehe. Thanks ya. :')

Lana Alienskie Jackson said...

Terima kasih, Nurul. ^^

Aprie Janti said...

hahaha... Sweet like a teenagers :D

Lana Alienskie Jackson said...

:') I'm embarrassed. *giggles*

catatannyasulung said...

aku ga mau kaya dia ah, nunggu momen romantis dulu. keburu disamber orang entarrr :D

Lana Alienskie Jackson said...

Yooi. Kayak lagunya Om Crisye feat Project Pop aja. Yg judulnya Berkat (Buruan Katakan) :D

Binatang Jalang said...

Aku enggak mau Lan ditonjok. Serius, keren banget Lisa enggak marah abis ditonjok. Terus mau lagi, kalo gue gak mau Lan. Sungguh, tak mau...

*komentar gue abaikan aja ya Lan*

Lana Alienskie Jackson said...

Haha. Taek, ah. Aku juga sungguh tak mau.