Pages

A Year Without Rain



Keluar dari terowongan panjang. Kereta api semakin dekat dengan kota kelahiranku. Sejujurnya aku sangat bosan. Sudah berjam-jam perjalanan dari Bandung hanya duduk saja. Di samping kananku seorang pria yang tak kukenal, sejak tadi ia hanya sibuk membaca novel. Kutoleh jendela di samping kiriku. Di luar baru saja hujan. Aku selalu suka dengan hujan. Kuperhatikan lama-lama sambil menggambar di jendela yang berembun. Menyelami ingatan tentang seseorang. Ah, aku memang gampang terkena rindu. Namun, perhatianku terhenti, ketika lelaki di sampingku mengerang protes.
“Yah. Hujan!”
“Memangnya kenapa kalo hujan?”
“Soalnya komplek rumahku bakalan banjir.”.
“Oh. Memangnya turun di mana?”
Cirebon. Kalo kamu?”
Tegal.”
“Kamu suka lagunya Selena Gomez?”
“Kok tau?
“Tuh. Kamu nulis namanya di jendela.”
“Haha. Aku konyol.”
“Enggak kok. Aku juga suka Selena Gomez.”
“Oh ya? A Year Without Rain favorit aku.”
I'm missing you so much. Can't help it, i'm in love. A day without you is like a year without rain. I need you by my side. Don't know how i'll survive. A day without you is like a year without rain...
“Haha. Asyik ya baru ketemu bisa nyanyi bareng.”
“Haha. Iya. Itu lagu biasa aku dengerin kalo lagi hujan.”
“Oh ya? Sama dong. Kalo lagi ingat seseorang juga?”
“Haha. Iya. Namaku Cokie.”
“Aku Alice.”
“Ehm.. Aku udah mau sampai Cirebon nih. Mau tukar nomor hape?”
“Boleh.”
***
The stars are burning. I hear your voice in my mind (voice in my mind). Can't you hear me calling?My heart is yearning. Like the ocean that's running dry. Catch me, i'm falling.
Perjalan ke Tegal lagi. Lagu itu membawaku kembali ke dalam ingatan saat berkenalan denganmu. Sudah satu tahun kami pacaran. Katanya ia akan melamarku. Tapi sampai sekarang aku masih menunggu, ia malah menghilang. Aku menoleh ke jendela di samping kiri. Melihat bayangan lelaki yang sedang memperhatikanku. Bergegas aku menolehnya. Ia meminta ijin sambil mengembangkan senyum agar bisa duduk di sebalahku. Kupersilahkan dengan senyum balik.  Tak lama di luar hujan. Kemudian lelaki di sampingku ini mengejutkanku.
“Yah hujan,” teriaknya kesal.
“Mau kemana?” tanyaku lirih.
Cirebon. Kamu?”
“Hah?”

Maulana Setiadi

Terobsesi masuk surga.

No comments: