Pages

Pesta Kebun Musim Semi

Pagi ini, aku duduk di sekitar taman belakang rumah. Memandang banyak tanaman yang berbunga. Tak ada seorang pun kecuali aku. Baru sadar, ternyata sudah lama aku tak menggigirkan angan di taman yang luas ini, sejak hawa dingin lalu sudah berganti menjadi musim semi.
Aku melihat dari kejauhan, bunga-bunga dari tanaman itu seakan memanggilku untuk didekati. Perlahan aku berdiri, melangkahkan kaki dan mendekatki mereka. Sengaja kupetik salah satu bunganya, agar bisa mencium wangi yang khas. Wangi ini mengingatkanku pada masa lalu yang sudah tertinggal lama. Masa laluku dengan ayah dan ibuku. Kemudian, mulutku sibuk menyelipkan nama mereka berdua ke dalam doa suci, yang terbawa oleh embusan angin hangat menyentuh kulitku. Berharap doa itu akan sampai ke alamat tertuju.
Aku masih di sekitar taman. Menikmati warna-warni tanaman yang berbunga, yang aromanya menguar rindu. Tiba-tiba batin kecilku terkesiap, ketika samar-samar mendengar suara jejak sepatu, melangkah ke arahku. Juga suara cangkir berdenting dari dalam rumah, seperti ajakan untuk santai.
Sesaat aku terdiam, mengira mereka datang. Namun, ketika kutolehkan kepalaku ke sekitar. Tak ada sejumput mereka di mataku saat ini.
Ah, ternyata pesta kebun selanjutnya hanya sekedar wacana. Tuhan, aku kangen mereka, ayah dan ibuku. Semoga mereka tenang di surga.

Maulana Setiadi

Terobsesi masuk surga.

No comments: