Pages

Sepuluh seruputan kopi pada malam yang hujan

Aku menyesap kopi di keadaan malam yang hujan ini. Gelegar petir menyambar, membuat kaca di jendela kamar sedikit bergetar.
Pada seruputan pertama, wajahmu datang di kepulan uap kopi panas yang masih berputar di atas cangkir. Aromanya sepadan dengan aromamu yang menyergapku dalam diam. Aroma yang begitu akrab. Semilir, lalu rindu mampir sebagai pemanis pelengkap suasana.

Pada seruputan kedua, pelan-pelan aku terbawa oleh rindu. Kau berjalan-jalan di otakku, menari-nari sambil membawa serta kenangan masa lalu yang belum tertinggal jauh, mencoba mengais kisah-kisah yang teringat manis.

Pada seruputan ketiga, ada angin malam di antara embusan doa yang membuai di kepala. Seperti tersesat yang gemar mencari-cari tempat yang tepat. Kepalaku saat ini lah tempat yang tepat, yang membiarkanmu untuk menebar pesona.

Seruputan keempat, aku terseret lamunanku yang mengembara pada ingatan lalu. Yang ku ingat saat ini kau terlihat manis, lalu aroma kopi menguar dan rindu terasa lebih liar. Menambatkan hidup pada otakku.

Seruputuan kelima, ingatanku sibuk dengan sendirinya, mencari alamat agar sampai ke matamu yang lelah. Mengiringi sertaku pada kenangan lalu ketika kau menyeruput kopimu dengan tatapan isyarat penuh makna. Kita pernah punya suasana satu meja dengan dentingan sepasang cangkir kopi. Saling sepakat untuk menumbuhkan sepasang nama di dada. Meski itu lalu, tapi namamu saat ini menjelma aksara dan kujadikan sebuah doa.

Seruputan keenam, aku semakin menyelami ingatan ini, perihal dekapan yang sempat meraja ketika kau dan aku pernah menjadi kita. Kita pernah bicara tentang tahun dan saling mengenal. Cerita patah hati dan pergi ke yang lebih nyata. Tapi aku tak akan pernah membiarkan rindu ini merancau. Terlintas di pikiran untuk menghapus ingatan ini. Tapi selalu nihil. Sering mencoba berkali-kali, namun apa daya, kau masih tak bosannya duduk lama-lama di pikiranku. Baru sadar kalau aku manusia yang gemar merindu.

Seruputan ketujuh dan kepulan uap masih mengambang di cangkirku. Aku masih ingin merebahkan kerinduan sebisaku di keadaan malam yang hujan ini. Menyesap kopi, menikmati anganku yang terlanjur terbawa oleh rindu.

Seruputan kedelapan, merasakan sebaris sepi yang beramai-ramai mengantongi rindu, yang kerap menyelinap di dalam kepala. Aku akan memimpin doa ketika rindu ini bisa dihanyutkan melalui angin kencang dan dipulangkan ke pemiliknya. Semoga rindu ini selalu mengenakan sabuk pengaman.

Seruputaan kesembilan, malam dan hujan saling kompakan. Mereka membawa sertamu ke dalam ingatan tentang cerita manis kita yang terlanjur menumpuk sejak saat itu. Inilah alasanku untuk mengingatmu atas kisah-kisah yang pernah tumpah. Kenangan yang berceceran di saat hujan lalu, diam-diam aku memungutnya, terbungkus rapi dan masih bersemayam di dada.

Aku menyeruput pelan-pelan untuk kesepuluh kalinya. Merasakan malam dan hujan yang sudah menjadi cara semesta untuk mengumpulkan rindu dan mengakui betapa sulitnya melepas genggaman rindu dari borgol yang sangat erat. Entah sekarang kau masih manis seperti yang selalu ku rindu atau tidak, tapi cukuplah kopi yang ku nikmati saat ini memaniskan rindu.


Kopi sudah terlanjur tandas dan di luar hujan sudah berhenti. Suasana terasa dingin sekali. Tapi tak apa, dinginnya malah aku biarkan agar rindu liar ini lebih menguasai pikiranku. Biar saja aku rindu di sini, biar ku nikmati sebuah ingatan perihal percakapan lalu lebih lama dengan dekapan. Dan untuk malam ini yang enggan di tinggal pergi, aku mohon pada semesta, meski hujan sudah reda, tolong jangan tikami rindu pekat yang mengendap di cakir kopi sekaligus cangkir haru.

Maulana Setiadi

Terobsesi masuk surga.

2 comments:

widhie said...

bagus tulisannya...top dech lana ini..

Maulana Setiadi said...

terima kasih kak widhi. masih belajar. :D