Pages

Hanya Sepi Yang Setia

Cerpen duet saya dengan @ipehalena

“Show me the meaning of being lonely
Is this the feeling I need to walk with
Tell me why I can't be there where you are
There's something missing in my heart”
Jomblo dengan kesepian itu identik, layaknya bayi kembar yang selalu menangis bersamaan. Tidak akan pernah bisa dipisahkan, karena mereka itu bukan hanya identik, tapi antara Jomblo dengan Sepi itu kembar dempet. Dan satu-satunya untuk menikmatinya adalah menambah kesepian itu dengan lagu dari Backstreet Boys, lagu lawas yang justru membuka kedokku tentang usia.
Entah kenapa aku tidak pernah merasa takut dengan Sepi. Karena selama ini, Sepi selalu setia menemaniku. Dia tidak pernah sekalipun meninggalkanku, betapa setianya. Dan memang semenjak aku menyandang status Jomblo, sejak itulah aku dan Sepi mengikat janji, bagai dua anak kembar dempet yang identik. Tidak ada yang salah menjadi Jomblo, hanya saja keberadaan seorang yang masih sendiri itu sering menuai Pro dan Kontra. Entah apa yang mereka perdebatkan, yang jelas kesendirian itu adalah saat yang tepat untuk memanjakan diri dari keramaian yang hingar bingar.
Tapi, ternyata memang aku harus menyetujui lirik lagu BSB itu, ada sesuatu yang hilang dalam hatiku. Sesuatu yang aku tahu siapa yang dulu pernah menempatinya. Kini ruangan itu gelap dan kosong serta hampa. Bahkan laba-laba pun enggan merajut sarang di sana. Terlalu sepi dan sunyi, tidak ada yang mampu mengisinya lagi, selain Dia.
Baiklah, free time adalah waktu yang tepat untuk membalas email. Satu persatu email aku balas dengan perasaan malas. Maklum, rasanya kini aku mulai merasa kehidupanku seperti robot. Tak ada lagi kejutan semenjak setahun yang lalu, aku dan Dia berpisah. “Sial!” desahku sambil menghapus beberapa email penawaran untuk liburan ke luar kota. Masalahnya bukan tempat liburan, tapi penawaran tersebut untuk couple. Aku sudah begitu sensitif jika menyangkut tentang pasangan atau apapun tentang cinta. Cinta is a bullshit.
Apa kabarmu di sana, Lan? Ah, aku yakin baik-baik saja. Cinta kita memang berat ya, sampai kita tak menyangka harus saling meninggalkan seperti ini. Beruntung ucapan tadi hanya aku bisikan dalam hati. Kalau tidak, mungkin Gladys akan melirikku tajam, seperti mata kucing yang runcing. Aku meneruskan scroll down timeline-nya hingga ke bawah. Mendapati setiap Tweet-nya selalu mengenai Senja yang sering aku dan dia nikmati. Hah! Senja, kini aku habiskan dengan tumpukan kertas dan secangkir kopi. Aku tidak tahu, baru saja aku mengasihi diri sendiri atau pencitraan akan diriku, yang sebenarnya enggan berduet dengan Sepi.
“Katanya udah Move On?” suara Gladys mengejutkanku, dia sudah berada dibelakangku sambil memperhatikanku saat sedang asyik membaca timeline milik Lana. Aku melempar kertas yang sudah aku remas ke tubuh Gladys, dia hanya tertawa terbahak. “Ngagetin aku aja kamu!”
Gladys menarik kursinya dari balik bilik kubikelku agar bisa bersebelahan denganku. “Bukannya kerja malah stalking TL mantan,” ujarnya meledek. Cubitanku sukses membuatnya meringis. Aku menutup browser dengan gerak cepat, menarik Gladys untuk keluar dari ruangan. Waktu istirahat memang harus dinikmati dengan baik, kalau tidak aku akan terpenjara dalam ruangan yang dihantui oleh ingatan masa lalu.
“Jadi, Move On yang kamu sandang cuma sekadar kebohongan untuk menutupi hati kamu kan, Peh?” Sindiran Gladys ketika kami sedang berjalan ke arah pantri. Aku pura-pura tidak mendengar. Namun aku tidak ingin munafik, rasa itu tidak pernah mau pergi. Kau tahu? Ruangan itu yang kosong dalam hatiku, hanya meninggalkan jejak rindu yang kunikmati dalam sunyi. Lebih baik aku diam daripada aku berbohong menutupi rindu.
“Udah lah, kalo kamu nggak berhenti stalking TL-nya dia, kamu nggak akan bisa Move On!” lanjutnya memberi ceramah singkat yang membuat perasaanku semakin berkecamuk. Terlebih tweet terakhirnya Lana sebelum aku menutup browserku tadi.  Pindah ke tempat baru, semoga aja get better. Aku masih terus bertanya dalam hati, namun tak mampu untuk mencari tahu lagi.
***
Kupikir ini adalah hal yang menyebalkan, ketika direktur kantor memindahkanku ke bagian HRD. Belum sempat memasuki ruangan meeting saja, aku sudah menghela napas dalam-dalam, ketika samar-samar melihat orang dari kejauhan mirip dengan Lana, lelaki yang sejak kemarin sibuk menjajah isi kepalaku.
Hari ini aku juga harus mengikuti meeting untuk diperkenalkan kepada Kepala HRD yang baru. Beragam tingkah laku yang terlihat di ruangan ini. Ada yang sejak tadi tersenyum seperti orang gila, saat matanya terpaku pada smartphone-nya. Ada yang menyenandungkan lagu dengan bersiul-siul tidak jelas. Ada juga dua karyawan perempuan yang terbahak-bahak, ketika bergosip soal aktor-aktris kacangan.
Tiba-tiba suasana hening—setelah ada lelaki berkaca mata dengan tubuh tinggi tegap—berbalutkan kemeja putih yang terhiasi dasi abu-abu—serta perpaduan raut wajah tampan dan senyum yang selalu tersungging—masuk ke dalam ruangan ini dan berjalan menuju mejanya.
“Inilah kepala bagian HRD kita yang baru. Beri tepuk tangan,” seru salah satu karyawan memperkenalkannya, disusul oleh semua karyawan lain memberi tepuk tangan meriah, sedangkan aku hanya menelan ludah sendiri dan nyaris lemas.
“Ini kah kepala HRD-ku? Oh, tidak!” teriakku dalam hati, setelah menyadari kepala baruku ini adalah Lana. Aku termenung sejenak melihat keadaan ini. Berkali-kali mencoba membuyarkan pikiranku yang saat ini sedang menjajah di kepala, tapi nihil.
Usut punya usut, ternyata Lana masih bersaudara dengan pemilik kantor ini. Pikiranku berkecamuk dan pandanganku menerawang. Terlukis raut wajah cemasku yang terlalu ketara, karena saking bingungnya untuk berbuat apa. Aku tidak menyangka ia bisa muncul di hadapanku lagi, setelah dua bulan silam kami tidak saling bertukar kabar. Apa ini semua hanya kebetulan? Ah, aku memang tidak pernah pandai menafsirkan hal semacam ini.
***
Pada pagi yang sibuk, di mana semua karyawan sedang tidak bisa diajak berbincang, aku malah menyempatkan diri untuk bersantai di pantri. Mencoba meregangkan otot atas lembur yang harus kuselesaikan tadi malam.
Saat sedang asyik menikmati kopi, aku melihat Lana dari jarak yang tidak terlalu jauh—sedang berjalan ke arahku—yang disusulnya duduk berhadapan satu meja denganku. Ia melemparkan senyum menawan yang sangat kukenal. Senyuman yang sering membuatku meleleh saat masih bersamanya. Ya, satu tahun lamanya kami berpisah, ia masih meninggalkan senyuman khasnya yang kerap aku ingat. Aku terpana oleh kesadaran bahwa aku gelisah melihat senyumannya. Saat ini aku sungguh bingung untuk berbuat apa. Ia masih juga memperhatikanku dan aku hanya dapat menunduk sambil menggigit bibir sendiri, bingung.
“Apa kabar kamu, Peh?” tanya Lana yang membuat dadaku berdegup kencang.
“Kabar baik. Kamu, Lan?” balasku cepat. Masih terasa gugup.
“Baik juga. Aku nggak menyangka bisa satu kantor dengan kamu.”
“Aku juga, nggak menyangka kamu jadi bosku.” Sejenak kami tertawa, lalu ia menatapku sedikit serius, “Jujur, aku kangen kamu, Peh,” desisnya lirih sambil tersenyum padaku, lalu ia bergegas pergi dari hadapanku. Aku hanya terpaku di tempat, tidak menyangka ia mengatakan hal itu.
Kalau kamu tahu saja, Lan. Dari kemarin aku hanya sibuk memikirkanmu. Dan tak bisa dibohongi bahwa aku juga merindukanmu.
***
Lagi-lagi otakku kembali merancau, masih tidak menyangka Lana akan mengungkapkan rasa rindunya padaku. Cara mengungkakannya saja terlihat mulia, seperti tidak ada paksaan sama sekali. Memang selama tiga tahun kami berpacaran, aku mengenal bahasa tubuhnya yang sangat jelas menunjukkan, bahwa dia bukanlah tipe orang yang bohong ketika mengungkapkan perasaan. Oh my God, i don’t know with my feel it...
“Hai, ditanyain daritadi aja. Katanya mau cerita penting. Mang apaan sih?” tanya Gladys yang membuyarkan lamunanku. Saat ini kami berada di sebuah Black Canyon. Aku mengajaknya untuk melakukan ritual curhat yang biasa kami lakukan, seraya menikmati Croissant ditemani secangkir coklat panas.
“Hehe. Maaf. Iya itu..” jawabku canggung.
“Itu apa?” Gladys memandang gemas.
“Tadi pagi aku nggak sengaja berpapasan sama Lana. Terus dia ngomong ke aku kalo dia kengen sama aku,” balasku sedikit gugup.
Gladys bertanya kembali sambil memicingkan mata, “Hah? Kok bisa sih, Peh?”
“Entahlah. Aku juga bingung. Masalahnya dari kemarin aku kepikiran dia.”
“Kamu masih kengen sama Lana?” tanya Gladys intens.
Aku meneguk secangkir coklat panas untuk memaniskan suasana, “Ehmm. Iya. Dan aku takut, Dys.”
Gladys mengerjap, “Lho! Takut kenapa?”
“Aku takut jatuh cinta lagi sama dia. Apalagi sekarang kami satu kantor.”
“Bukannya ini juga sudah terbilang masih jatuh cinta?”
Aku mendongak dengan kening berkerut, “Enggak! Aku hanya sekedar merindukannya. Hanya itu!”
“Oh, ya sudah. Mumpung belum terlambat. Coba kamu tegaskan kalo kamu juga merindukannya. Simpel kan?”
“Tapi aku malu.”
“Ngapain malu? Sekedar ngomong kangen dan setelah itu pasti lega,” sarannya menenangkanku. “Peh, cinta itu memang aneh. Tapi bukan berarti kamu harus menyiksa hatimu juga. Kalo cinta kenapa harus menyakiti diri sendiri? Dan kalau saat ini kamu rindu, kenapa nggak ngomong? Tinggal ngomong doang, udah selesai.”
***
Besoknya, saat aku sedang berkutat dengan banyaknya file. Dari jendela, aku melihat Lana sedang melintas di depan koridor ruangan kerjaku. Mengingat saran tadi malam yang diberikan Gladys, bergegas aku keluar dari ruangan dan mencegat Lana berjalan.
“Lana, tunggu!” aku memberhentikan lajunya ketika ia berjalan.
Lana merasa terkejut dan sedikit kebingungan, “Hai, Peh? Ada apa?”
“Aku mau jujur sama kamu, Lan,” suaraku bergetar saat menatapnya, “Tapi tolong jangan marah ya!” lanjutku.
Lana menatapku lembut penuh pengertian, “Dengan senang hati aku akan mendengarkan kejujuranmu. Sepertinya hari ini bukan hari untuk marah. Bicara saja, Peh.”
Aku menelan ludah, mengumpulkan semua keberanianku untuk mengungkapkan kerinduanku, “Tentang perasaanmu padaku kemarin itu, Lan.”
“Perasaanku?” tanya Lana bingung. Sejenak ia lupa, “Ah, tentang aku kangen kamu?” lanjutnya memastikan.
“Iya, Lan. Sesungguhnya aku juga kangen kamu. Menurutku, sampai sekarang kamu sangat menarik bagi sepasang mataku. Sesering itu kamu tak ada. Sesungguhnya, seada itu lah kamu,” jawabku lugas dengan gaya bahasa puitis yang spontan keluar dengan sendirinya.
Lana sedikit terkejut, “Wow! Aku seneng ternyata kamu juga kangen aku, Peh.”
“Terima kasih, Lan. Hanya itu kok yang ingin aku sampaikan.”
“Sama-sama. Semoga kita bisa selalu menjadi relasi yang baik ya,” tuturnya lembut sambil tersenyum sungging. Aku hanya mengangguk dan bergegas meninggalkan dari hadapannya.
Terasa lega di dalam hati, setelah memberanikan diri untuk mengungkapkan perasaan rinduku padanya. Seperti telah berhasil meraih sesuatu yang selama ini sulit digapai. Aku tahu kami berbeda agama, dan kedua orangtua kami mempunyai perbedaan kultur, status sosial, bahkan visi dan misi. Sehingga ini yang membuat aku dan Lana harus menyudahi hubungan. Namun aku sadar. Ini lah hidup, mau tak mau aku harus lolos dari pembelajar ikhlas, meski menyisakan kehampaan di kala sepi.
***
I miss you like crazy
Every minute and every day.
Baiklah, sudah kuputuskan untuk tidak akan menghakimi rasa rindu yang sudah mengoyak kewarasanku sebulan ini. Wangi parfum Lana seperti wangi kopi panas yang siap direguk, yang membuatku tidak bisa menahan diri untuk mengendus ketika berada di sampingnya, belum lagi senyum khasnya yang sering menyambutku setiap pagi. Ada tambahan, setiap makan siang kami selalu berbincang berdua. Bahkan kini kedekatan kami melebihi ketika kami berpacaran dulu.
“Kamu masih suka menanti Senja, Peh?” pertanyaan Lana yang membuatku diam tak berkutik. Ingin rasanya aku menyalahkannya yang mengenalkanku pada keindahan Senja.
Sambil terus menyesap Capucino, mataku tak ingin lepas dari buku yang sedari tadi aku baca untuk menutupi rasa gugupku, “Aku masih setia menanti Senja. Kamu tahukan, ribuan kata selalu saja membuatku ingin menceritakan tentang Senja,” Lana menatap kearahku tanpa berkedip. Aku tahu itu. God just please give me more time. Batinku sudah berteriak-teriak berdoa di siang yang begitu sejuk.
“Senja yang aku nikmati, pasti sama dengan Senja yang juga hadir dari pantulan matamu,” tuturnya lembut yang membuat tenggorokanku tercekat. Ada sebuah getaran yang sudah lama aku rasakan. Memang sempat menghilang, tapi kini dia datang lagi. Aku berusaha sekuat tenaga untuk bertingkah tidak peduli, meskipun sebenarnya aku sangat-sangat ingin mengecup pipinya setiap kali dia berubah menjadi orang yang puitis, “Lana, tampaknya kamu memang terlalu mencintai Senja.”
“Dan kamu tampak lebih merasa nyaman dengan tumpukan bukumu.” Aku memicingkan mata sejenak, yang justru membuatnya tertawa kecil sambil mencubit pelan hidungku. Sentuhan tadi membuat rinduku semakin membuncah.
***
Jika saat itu aku selalu menganggap Lana adalah orang yang menyebalkan ketika setiap kali kami hendak bertemu, karena dia selalu datang terlambat. Kini, justru aku merindukan hal itu. Sama seperti hari ini, Sabtu memang sangat padat, traffic jam is not just an issue. Dan kepadatan bisa dengan sangat cepat mengubah mood. Entah mungkin karena aku sudah terlalu lama tidak menanti kehadiran sosok yang dulu sangat aku benci setiap kali ia telat. Atau karena aku sudah begitu dibutakan oleh rasa rindu? Keduanya tidak ada yang salah.
“Masih di jalan? Ya udah, nggak apa-apa. Aku masih nunggu kok.” Sungguh aku harus memberikan tepuk tangan yang begitu antusias untuk perbedaan sikapku hari ini.
Menunggu adalah hal yang paling menyebalkan bagiku. Bahkan dulu, saat pertama kali Lana mengutarakan perasaannya padaku. Langsung aku jawab, tanpa membuatnya menunggu. Aku benci telat, benci dengan jam karet dan benci dengan semua keterlambatan yang pernah tertulis dalam sejarah hidup manusia.
“Maaf, Peh. Macet parah tadi.” Aku tersenyum melihat Lana yang duduk di sampingku dengan tergesa. Aku sudah mengetahui kedatangannya dari balik jendela, menantinya saat ini adalah kenangan yang ingin rasanya aku bekukan secepat mungkin.
“Tenang aja, ini belum selesai aku baca.” Novel karya Dee yang baru saja aku baca untuk ke-sekian kali, aku pamerkan padanya.
Tawa Lana berderai, lalu manatapku sedikit serius, “Kadang aku harus berterima kasih dengan novel dan buku yang kamu baca.”
“Maksudnya?”
“Karena mereka itu yang bisa membuatmu tidak mati pada rasa bosan ketika sedang menungguku,” tuturnya lirih sambil menunjuk dua tumpuk bukuku. Ternyata dia masih mengingat kebiasaanku. Jadi apakah salah jika aku menikmati saat seperti ini tanpa mengusiknya atau mempertanyakannya lagi?
***
Kita tidak sedang bercinta lagi
Tak akan ada cumbu dan rayu lagi.
Baik, lagu Dewa yang tengah mengisi perjalanan kami menerobos kemacetan yang cukup menghibur. Namun, sesekali liriknya itu membuatku seperti ditampar. Terlebih sedari tadi tangan Lana menggenggam tanganku. Dinginnya yang tidak hanya membuat jemariku beku, tapi juga membekukan seluruh ingatanku tentang dirinya.
Sudah waktunya, Peh. Teriakku dalam hati, namun degup jantung ini beriringan dengan detak drum yang terdengar dari radio, tabuhan drum Wong Aksan.
“Lan, menurutmu, kalau ada dua orang yang masih saling mencintai, kemudian putus. Namun salah satunya masih ingin bersatu. Gimana?”
Lana memberhentikan mobil, tepat ketika lampu merah menyala. Melirikku tajam, namun tangannya menggenggam jemariku lebih erat, “Mungkin saja bisa. Tapi bagaimana kalau ternyata diantara mereka ada jurang yang memisahkan? Jurang yang teramat lebar.”
Aku mendesah lemas. Merasakan kepalaku yang seketika pening, “Seandainya jurang itu ingin dia terobos?”
Lana menatap serius jalan yang sudah mulai sepi. Sesaat tidak ada jawaban darinya, hanya suara penyiar radio yang menyapa ramah. Namun, sekali ia mengucap rasanya seperti mendengarkan batu granit saat diledakan, “Aku sudah bertunangan. Dengan Diana. Aku pernah bercerita tentang dia kan?”
Tidak perlu menunggu lama lagi. Kakiku sudah begitu lemas, mataku mulai terasa panas, “Berhenti di sini Lan.” Aku meminta Lana untuk meminggirkan mobilnya sesaat setelah keluar dari pintu Tol. Tidak ada suara atau ucapan selamat tinggal darinya.
Aku berjalan dengan langkah tergesa, memasang earphone ditelingaku agar meredam ributnya caci maki dalam kepalaku. Dan betapa hinanya malam ini terlebih lagu yang aku putar ini benar-benar membuatku begitu dalam terjatuh.
Aku tak percaya lagi,
Dengan apa yang kau beri.
Aku terdampar di sini.
Tersudut menunggu mati.
Tampaknya malam ini waktu yang begitu bagus untuk mati. Mati muda atau tua tidak ada bedanya. Yang pasti aku bisa melumpuhkan ingatanku tentang dia. Tidak perlu lagi ada namanya yang terukir jelas sekali dalam hatiku.
Mati bisa membuatku mengusir rindu dari dalam ruang kosong di sudut hatiku ini. Dan mati mungkin jalan keluar terbaik. Bukankah aku sudah tak dipedulikannya lagi? Aku tidak tahu, tapi cinta ini benar-benar membunuhku. Mengapa aku tidak membiarkan Cinta yang buta saja yang terjatuh dalam jurang?
Aku pulang,
Tanpa dendam.
Iya, malam ini aku akan pulang. Selamanya.
TIN!! TIN!! Suara klakson bertubi-tubi, makin lama makin terasa mendekat. Aku tidak peduli, aku hanya ingin mati. Lampu sorot dari mobil membuat bayang tubuhku semakin jelas. Aku merasa semakin berani menghadapi kematian. Aku terus saja melangkah ke tengah jalan. Tak aku pedulikan teriakan beberapa pedagang dari sebrang.
BRUK! Tubuhku seketika melayang, seseorang menindihku. Kemudian dia bangkit dan duduk dengan memasang wajah marah. Nafasnya terengah-engah, “Kalo kamu mau mati. Jangan di sini! Mendingan nyebur aja ke kali atau ke laut!”
Bibirku terasa membeku, gemetar karena terkejut, “Tapi, saya enggak bisa berenang, Mas.”
Malam semakin larut, aku tidak mendengar lagi suara nyanyian yang tadi menemaniku. Laki-laki yang tadi mendorongku hingga ke pinggir jalan, melemparkan air mineral dengan kasar ke arahku. Kemudian pergi.
***
Kini bintang gemerlap benar-benar tertawa riang. Sepi menyapaku lagi, mengingatkanku pada hari dimana aku benar-benar merasa sudah mati. Kini aku telah hidup kembali. Sesaat sebelum aku beranjak dari tempatku, laki-laki penolongku menoleh sesaat sebelum dia mengendarai motornya kembali.
Tuhan, dia ganteng sekali.... Sepi marah padaku, kemudian pergi meninggalkanku sambil menarik Jomblo dengan paksa.


Cerpen ini diikutsertakan dalam lomba cerpen duet “Couple Love”, yang diadakan oleh Story Club dan sudah dibukukan dalam bentuk antologi oleh Penerbit Sembilan Mutiara.

Maulana Setiadi

Terobsesi masuk surga.

2 comments:

Ila Rizky Nidiana said...

kisah cinta yang terlambat ya, terlambat balikan :D ngenes hehehe. tapi memang kadang ada cerita yang ga perlu dilanjutin lagi, cari orang baru aja xD

Maulana Setiadi said...

Haha. Si tokoh udah terlanjur demen sama sepi, Kak.