Pages

Arisan Buku Klub Buku Milana Tegal

Hari Minggu kemarin, tanggal 20 Juli 2014, kami, anggota Klub Buku Milana Tegal, akhirnya bisa kumpul bersama lagi. Lumayan susah untuk mencari waktu tepat agar tujuh orang bisa berkumpul secara lengkap. Karena peran kami di setiap harinya disibukkan oleh pekerjaan masing-masing. Dan di minggu sore kemarin, salah satu anggota kami bernama Mizan Tiara, tak bisa datang karena masih sibuk, namun digantikan oleh salah satu penulis asal Tegal, yaitu Kak Indah. Jadi tetaplah tujuh orang bisa berkumpul.
Di Minggu sore kemarin itu, yang terdiri dari saya, Mas Puthut, Kak Ila, KakWidhi, Kak Ummu, dan Caca, mengobrol banyak soal buku terbitan Gagasmedia dan Bukune di Minggu sore itu. Jujur kami merasa senang dengan adanya project arisan buku ini. Kami yang sebelumnya hanya berinteraksi melalui media sosial saja, sekarang bisa bertatap muka untuk berbincang seputar buku. Bahkan dari kami ada yang berniat untuk membuat duet novel. Doakan saja. :)
Membahas buku-buku dari Gagasedia dan Bukune itu sungguh mengasyikkan. Kami mengakui betul penulis-penulis yang berhasil menerbitkan buku di Gagasmedia atau Bukune itu bukanlah penulis sembarangan. Mereka, para penulis, memilik kretivitas tinggi, sehingga para pembaca selalu dibuat terhibur oleh ceritanya. Kesan kami pada buku-buku yang kemarin dikirim juga begitu. Seperti Rapsodhy (Gagasmedia) yang sudah diresensikan oleh Kak Widhi, Derita Mahasiswa (Gagasmedia) yang sudah diresensi oleh saya di sini dan Kak Widhi di sini, Skripshit (Bukune) yang sudah saya resensi di sini, dan Mari Lari (Gagasmedia). Dengan bergilir (Kecuali Novel Mari Lari yang diberikan satu per satu ke setiap anggota) kami membaca buku-buku tersebut.
Yang terakhir dibaca sekaligus kami bahas pada Minggu sore kemarin adalah Novel ‘Mari Lari’ milik Ninit Yunita. Menurut saya, novel ini ringan dan cocok untuk dibaca oleh anak muda. Karena sangat menginspirasi untuk mencapai kedisplinan. Bukan kehidupan namanya jika tanpa masalah. Itulah inti dari cerita Mari Lari ini. Di Mari Lari ini menjelaskan banyak pengetahuan tentang olahraga marathon. Adanya novel ini saya jadi tahu tentang komunitas pelari di Jakarta. Menjadi tahu arti training plan pada istilah pelari, menjadi tahu arti dari warna gonjreng-gonjreng di setiap baju pelari, menjadi tahu apa yang namanya marshal, run leader, sweeper, bib, dan juga tahu sejarah terciptanya Marathon. Tersirat jelas pada ceritanya, bahwa perlu usaha keras untuk menjadi seorang Atlet Marathon.
Menurut Kak Ila, “ini buku karya Ninit Yunita yang saya suka setelah Testpack. Buku yang juga difilmkan ini memiliki pesan yang sarat makna untuk menjejaki kehidupan di masa transisi. Transisi dari mahasiswa ke dunia kerja, dilema DO, dikucilkan keluarga pun karir yang stagnan, membuat tokoh Rio menjadi tokoh sentral yang bikin geregetan. Saya jadi pengin cubit Rio terasa kental, meski untuk ia harus menelan rasa pahit selama perjalanan hidupnya. Waktunya bangkit dan berlari demi masa depan yang gemilang. Demi janji pada ibunya yang telah tiada. Salut untuk gebrakan Ninit yang mampu meramu kisah para pelari menjadi cerita yang menghangatkan hati pembacanya.”
Menurut Kak Widhi, “Novel Mari Lari ini sangat ringan dan dibaca beberapa jam saja. Novel yang menceritakan tentang Rio yang tidak pernah menyelesaikan sesuatu. Kematian ibunya menyadarkan sesuatu bahwa sebelum dia juga bisa membuat bangga orang lain, terutama harus bangga terhadap diri sendiri. Suka dengan perjuangan Rio yang matia-matian latihan lari demi lomba marathon bersama ayahnya. Yang paling saya suka adalah menyerah saat lomba marathon. Walaupun kakinya luka, Rio hanya ingin menyelesaikan sesuatu yang sudah  dia mulai. Termasuk hubungannya dengan ayahnya. Sayangnya dialog dalam novel ini agak membingungkan. Kadang bingung ini dialog milik siapa. Dan semua serba nanggung. Tapi novel ini betul-betul pas untuk mereka yang butuh semangat hidup.”
Dan menurut Kak Indah, “Ceritanya menarik. Tokoh utama Rio digambarkan sangat dekat dengan sifat-sifat/kelemahan anak muda jaman sekarang. Kurang motivasi, tak bisa menyelesaikan dengan baik apa yang mereka mulai, manja, dan maunya instan. Digabungkan dengan drama keluarga dan dunia lari marathon, jadilah cerita yang asyik. Dibalut dengan sedikit komedi yang rasanya mirip dengan gaya Adhitya Mulya (wajar sih, kan masih suami istri), cerita ini punya pace cepat yang tidak membosankan.
Meski idenya keren dan membuka wawasan komunitas pelari di Jakarta, beberapa adegannya terasa tanggung. Mungkin cerita cinta bukan fokus utama penulis, tetapi rasanya kok aneh ya, perkembangan hubungan Rio dan Annisa semulus itu padahal dari latar belakang mereka beda banget (iya, iya saya memang suka drama...) Apa mungkin gara-gara sama-sama doyan lari langsung bisa bikin jomblo dengan rasa percaya diri akun jadi tiba-tiba tersenyum bahagia tanpa perjuangan dan jumpalitan?
Tapi balik lagi, bukan itu fokusnya. Fokus yang utama adalah hubungan Rio dan ayahnya yang mantan atlet lari nasional, Tio. Meski begitu, penyelesaian konflik ayah anak ini juga terhitung mudah (sekali lagi saya butuh lebih banyak drama.. more drama XD). Oh ya, saya berharap banyak seting Bromo lebih mendapat porsi yang banyak di novel ini. Rasanya amat nanggung kerena Cuma sedikit, itupun menjelang ending. Selebihnya Mari Lari adalah novel yang menghibur dan menginspirasi. Terutama bagi kita-kita yang angin-angin seperti Rio.”
Kami membahas banyak mengenai novel yang menginspirasi milik Ninit Yunita yang Mari Lari ini, sampai tak terasa pertemuan kami berlanjut pada acara buka puasa bersama secara dadakan di kediaman Kak Ila Rizky. Selama menyantap hidangan buka puasa, kami melanjutkan percakapan seputar buku. Dari awal tak ada semacam perasaan asing atau canggung untuk berbincang satu sama lain. Percakapan kami kemarin terasa begitu meruah dengan tawa yang menggelegar atas joke-joke yang disematkan di setiap percakapan khas orang Tegal. Kami bertujuh merasa seolah sudah akrab sejak lama. Dan lagi-lagi patut disyukuri dengan adanya project arisan buku ini. Karena jika tidak mengikuti project ini, belum tentu kami bisa berkumpul seperti kemarin.

(Ini foto kemarin saat kami kumpul. Senyumannya mempesona semua ya. :D)

Harapan untuk ke depannya, semoga kami selalu dibuat puas dan senang akan hadirnya buku-buku dari Gagasmedia dan Bukune. Melalui lubuk hati yang terdalam, kami mengucapkan terima kasih untuk Gagasmedia dan Bukune yang telah memberi kesempatan kepada kami untuk mengikuti arisan buku periode kedua ini. Semoga kami bisa mengikuti arisan buku periode ketiga, sehingga kami tidak pernah jauh dari suasana akrab saat berkumpul untuk membahas buku.

Maulana Setiadi

Terobsesi masuk surga.

No comments: