Pages

Kekecewaan yang Terbayar

“Tu...wa..ga...” ucapku sambil menyipitkan mata. Tombol rena kutekan dan sedetik kemudian, kamera SLR-ku berbunyi ‘klik’. Seberkas cahaya menyergap wajah sepasang kekasih yang berada di hadapanku.
Cukup lama aku bekerja di studio foto ini. Dan aku baru merasakan hari ini terasa berat untuk menjalani kegiatanku sebagai fotografer, setelah mendapati fakta bahwa pria yang bersama calon pengantinnya itu akan menikah. Bagiku, pria itu lebih dari sahabat yang setia menjadi pencahar gelisahku. Pria itu lah yang selalu menyibak murungku kala aku dijajah sepi. Dia yang menyenangkan dan glamor. Namun sekarang aku sadar, harapan cintaku padanya sudah terlanjur sekarat.
Aku sekarang tengah berdiri melamun, menatap jendela kaca yang menghasilkan bias cahaya terik siang. Dan tiba-tiba, lamunanku dibuyarkan oleh jejak langkah sepatu milik Arya, pria berbalut jas pengantin yang baru saja kufoto dengan perempuannya itu. Dia berjalan sendiri ke arahku dengan langkah yang tidak teratur. Ah, untuk apa menemuiku kalau sudah jelas dia akan menikahi perempuan selain aku?
“Maya, mengapa kamu terlihat murung melihat sahabatmu yang akan menikah ini?” Ya, dia sahabatku, dan itu menurutnya.
Aku tak menggubris, hanya menarik sorot mataku pada SLR yang masih aku pegang. Berat rasanya untuk mengucap satu kata pun. Terlalu banyak kenangan manis tentang Arya yang masih melekat dalam ingatanku. Rasa-rasanya aku ingin mengemas ingatan manis itu, lalu kuberanikan diri untuk mengungkapkan bahwa sebetulnya aku mencintai Arya.
Namun, mendadak ada sesuatu yang terlihat ganjil di retinaku. Kuperhatikan dengan seksama, sesuatu itu benar-benar terasa mengganjal. Ada sebersit takjub sekaligus geli. Payah betul, dalam suasana begini bisa-bisanya aku ingin tertawa di depan Arya.
“Maya, kenapa kamu sedih dan tiba-tiba meringis gitu? Jujur, aku merasa tidak dihargai!”
Hanya hitungan beberapa detik setelah Arya berucap, aku tertawa kecil. Semakin lama semakin berubah menjadi suara tawa yang menggelagar, menyamai suara batu granit yang diledakkan.
“Kamu sudah gila ya, melihat sahabat sendiri akan menikah?” tanyanya tegas.
Perlahan, kukurangi tingkat suara tawaku, “Maafkan aku, Arya.” Tak lama kemudian aku tertawa lagi. Kali ini lebih keras sampai berurai air mata. Sungguh, sesuatu yang kulihat itu masih terasa sangat ganjil.
“Maya, cukup!” Arya menatapku dengan tatapan memburu sambil menyentuh kedua pipiku menggunakan kedua tangannya. “Katakan padaku, ada apa sebenarnya? Jawab, Maya!”
Pelan-pelan, aku memberhentikan tawaku lalu kutatap Arya lekat-lekat, sangat lekat, “Oke! Akan kukatakan, tapi kamu harus menerima kalau kamu itu bodoh!”
“Bodoh? Oke! Sekarang katakan, mengapa kamu bisa tertawa sebegitu kerasnya? Aku takut kamu gila,” ujarnya dengan raut khawatir.
“Tidak, Arya! Aku tidak gila!” tegasku, lalu kuberanikan diri untuk mengatakan sesuatu yang bagiku sangat ganjil itu, “Masalahnya, aku tertawa karena resleting celanamu tidak ditutup, Arya. Udah gitu kamu nggak pakai celana dalam. Maaf, tapi bagiku itu menggelikan,” ucapku lugas. Lalu hanya dalam hitungan lima detik, tawaku kembali meledak. Terpingkal-pingkal di hadapan Arya, yang sekonyong-konyong membuat badanku terguling-guling di lantai dalam posisi tertawa. Arya sungguh bodoh. Sudah tahu kondisinya begitu, tapi ekspresinya hanya termangu menatapku karena malu. Dia membiarkan resleting celananya terbuka. Sementara aku masih tertawa. Seolah tak merasakan kalau tadi aku sempat kecewa.
Kali ini berabad-abad lamanya kurasa. Aku terus-menerus tertawa.


Catatan: Tulisan ini dibuat setelah membaca cerpen milik Ayu Insafi yang berjudul Arya.

Maulana Setiadi

Terobsesi masuk surga.

5 comments:

Ayu Insafi said...

hahahah, ngga nyangka cerpen 'Arya' bisa jadi flash fiction gini. bagus, twist endingnya dapet. dan akumasih punya hutang ke kamu untuk ngelanjutin cerita Arya, hehe nanti ya Lana. dan terimakasih sudah mengapresiasi cerpenku ^^

Maulana Setiadi said...

Haha. Mungkin secara langsung FF ini semacam tamparan buat kamu biar lanjutin cerpen Arya. Ditunggu lanjutannya. :D

lusia_wini said...

heh?
endingnya ini loh...
hahaha
sialan lu lan

lusia_wini said...

heh?
endingnya ini loh...
hahaha
sialan lu lan

Maulana Setiadi said...

Sekali-kali bikin cerita yang nggak mellow. Haha