Pages

Tak Bisa ke Lain Hati

Mungkin bulan merah sudah bosan melihat kegiatanku saat ini; hanya berjalan sendiri menapaki trotoar tanpa arah tujuan. Melangkah sepi, merasakan embusan angin malam yang terasa getir di dada. Rasa sesak yang tak akrab terus menerus meneror. Tak ada sejumputnya yang bisa kutemui di kota ini.
Bulan merah saat ini mengingatkanku kepada lelaki yang membuat waktuku bergulir begitu lambat dan manis. Kami pernah punya suasana romantis yang selalu ia rajut di setiap rayuannya. Aku selalu suka caranya merayuku. Bagaimana bahasa tercipta. Pada sebuah kota yang sama, kami sering melakukan percakapan indah. Dan saat itu pula, bulan merah selalu menjadi saksi bisu atas percakapan kami.
Aku tahu, cinta kami memang berat. Sangat berat malah. Tapi apa ia tega, membiarkan aku menikmati berita yang ia berikan? Tentang perjodohannya dengan seorang wanita yang jelas-jelas tidak ia cintai. Sedangkan ia laki-laki, yang seharusnya bisa lebih bersikap tegas dalam urusan cinta. Aku tahu, kedua orang tuanya memang mempunyai watak keras, sehingga merasa percuma jika berkompromi dengan mereka. Tapi bagaimana dengan perasaanku yang sudah terlanjur mencintainya? Aku sudah terlanjur terbuai oleh cara kami menikmati cinta. Yang sudah lima tahun ini kami jalani, dengan berbagai harapan baik, berbagai doa yang selalu kami layangkan setiap saat. Namun ternyata, harapan dan doa itu rontok begitu saja, tak membuahkan hasil yang setimpal.
Apa ia masih ingat, ketika aku juga sempat dijodohkan oleh kedua orangtuaku? Apa aku menerimanya? Aku menolak! Karena namanya sudah terlanjur bersemayam di dadaku. Meski menerima perjodohan itu adalah salah satu cara agar dapat membahagiakan kedua orangtuaku. Karena aku sadar, sejauh ini aku belum pernah memberi kebanggaan kepada mereka. Namun selalu terlintas di pikiranku, bila cinta kami selalu dipertahankan, kami akan membanggakan kedua orangtua kami masing-masing. Dan ternyata tidak. Sebentar lagi ia akan menikah dengan wanita lain selain aku. Bagaimana perasaan kedua orangtuaku ketika mendengar ia tidak jadi menikahiku? Lakon apa ini?
Sesaat hujan mencegat langkahku. Di teras kios, yang menjadi tempatku berteduh, aku semakin bingung karena hujan semakin deras. Yang ada hanya petang yang mengaburkan jalanan dan menguburkan ketenangan.
Tiba-tiba aku terkesiap, saat sebuah mobil berhenti di depan teras kios ini. Samar-samar aku melihat lelaki bertubuh tinggi tegap turun dari mobil itu dan berjalan ke arahku. Aku kira itu Sam, orang yang saat ini sibuk menjajah kepalaku. Tapi ternyata bukan, setelah aku melihatnya dengan jelas. Orang itu berjalan mendekatiku dan aku semakin cemas. Tak ada orang lain lagi di sini. Jika dia orang jahat, aku tak bisa lari kecuali menembus ribuan jarum bening yang ditumpahkan dari langit malam ini.
“Kamu mau ke mana, Sya? Ayok aku antar,” ujarnya mempedulikanku. Ternyata dia Ramzi, mantan kekasihku yang pernah meninggalkanku hanya demi wanita lain.
Aku terpaku menatapnya, “Tak usah, Ramzi. Aku bisa pulang sendiri.”
“Jangan bodoh! Hujannya deras.”
Aku menundukkan kepala, tak mempedulikannya. Lalu dia kembali masuk ke dalam mobil, dan menghampiriku lagi sambil memberiku payung, “Ya sudah kalau nggak mau aku antar. Ambil payung ini! Semoga bisa membantumu.”
Aku menangkap keterkejutan darinya, lalu refleks tanganku meraih payung itu, “Terima kasih,” jawabku singkat, lalu dia bergegas pergi menggunakan mobilnya.
Aku berjalan kembali untuk pulang menggunakan payung pemberian Ramzi. Tak ada percakapan lain antara kami di sela-sela hujan yang mengguyur. Sejenak aku berpikir, kenapa dia masih mempedulikanku, padahal dia pernah membuangku hanya demi wanita lain. Entahlah. Tuhan mengirim orang baik di saat pikiranku kalut.
***
Pagi ini sama seperti kemarin. Tak ada lagi ritual percakapan manis untuk menikmati pagi dengan Sam. Meski sejauh ini, aku masih rindu suasana itu. Namun, percuma juga ketika mengingat ia sudah semakin dekat dengan acara pernikahannya. Bahkan, undangannya pun sudah tercetak jelas. Aku memiliki undangan mereka yang kuambil dari temanku, yang kebetulan kerabat dekatnya Sam. Aku memastikan berkali-kali pada undangan itu, memang tidak ada yang salah dari cetakan nama mereka atau tanggal pernikahannya. Samuel Krisna dan Nila Tanzil. Nama yang tertera jelas pada font di dalam undangan ini. Lusa mereka sudah resmi menjadi sepasang suami istri, dan seolah poros hidup yang kurasakan sedang bergulir berat.
Satu minggu ini aku memilih cuti dari kantor dan memutuskan pulang ke Jakarta. Pikirku, keadaan akan menjadi lebih baik jika melakukan cuti. Malah aku berniat untuk meninggalkan pekerjaanku di Jogja. Untuk apa aku bekerja tanpa adanya Sam yang biasa memberi suntikan semangat agar aku giat bekerja. Menurutku, meninggalkan pekerjaan bukanlah hal yang berlebihan dalam kondisi seperti ini. Karena ini seperti bulan yang sebentar lagi akan kehilangan merahnya. Atau seperti pagi yang tak pernah cerah karena selalu tertutup kelabu. Lelaki yang selama ini amat sangat kucintai, sebentar lagi akan meninggalkanku. Bukan hanya dia, bahkan aku. Kami akan saling meninggalkan kehidupan masing-masing. Sudah berkali-kali aku berusaha untuk bangun dari keterpurukan ini, tapi yang ada hanya seperti menabrak pembatas besi; tak ada solusi secuilpun. Entah bagaimana lagi caranya bangun, sementara luka rasanya seperti dikucuri cuka. Mutlak sudah penderitaanku.
Aku dikejutkan oleh nada ponselku. Ternyata Sam menelponku. Aku sudah mengira apa yang ingin ia sampaikan padaku. Tak lebih dari kata maaf.
“Hallo, Tasya? Kamu pulang ke Jakarta?” suara Sam terdengar cemas melalui telepon.
“Iya, Sam. Untuk apa aku menetap di Jogja, kalau undanganmu saja sudah tercetak?”
“Semua persiapan yang mengurus Papah dan Mamah.”
“Aku sudah menebak itu.”
“Maafkan aku.”
“Lalu? Aku hanya menerima berita ini saja?”
“Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Sejujurnya, aku sangat bingung dengan kondisi orangtuaku yang bangkrut ini. Namun, hanya ini caraku, menikahi janda itu agar bisa melunasi utang papah. Tapi aku masih mencintamu, Sya.”
“Aku juga masih mencintaimu, Sam.”
***
Aku berjalan kembali pada malam hari dengan mata sembap, menyusuri trotoar yang saat itu aku tapaki. Sama seperti sebelumnya, jalanan di sekitar selalu tampak sepi. Hening dari bisingan kendaraan. Seolah jalanan ini mati. Nyaris tak ada gumaman yang keluar di sekitar, karena jarang ada orang yang melewati. Hanya ada desau angin malam yang terasa pekat dengan warna hitam yang dangkal dan dalam. Jika ada orang jahat, aku hanya dapat pasrah ketika memperkosaku atau malah membunuhku.
Sekarang sudah saatnya untuk melakukan ini. Aku mencoba menentramkan diri dengan pikiran sekena-kenanya, bahwa ini adalah cara yang baik untuk keluar dari belenggu yang sangat menyiksa. Ini seperti diseret ke labirin kesedihan panjang berlumur kabut. Namun, bagian otakku yang lain meracau; apa aku harus melakukan ini? Sebenarnya ini bukanlah jawaban. Ini akan menjadi kesedihan yang tak akan pernah usai. Tuhan pun membenci pada orang yang melakukan hal ini. Ah, tapi aku memang tidak pandai memaknai cinta. Hanya satu hal yang bisa kumaknai, yaitu perasaanku, yang tak bisa pindah ke lain hati. Sejauh ini hanya Sam yang aku cintai. Tidak oleh lalaki manapun.
Pikiranku sudah bulat. Sudah sejak tadi aku terpaku di atas jembatan ini, di bawahnya terdapat sungai yang arusnya sangat deras. Aku semakin menepi di atas jembatan dan kedua telapak tanganku bergerak searah, seperti ingin menadah. Tak berpikir dua kali, aku langsung melompat ke dalam sungai itu. Sesaat, aku sudah berhasil menjeburkan diri ke dalam sungai.
***
Malam hari dengan rembulan yang memamerkan kemerahannya. Setidaknya terlihat indah di langit sana, tapi tidak pada hatiku yang kelabu saat ini. Sudah tiga hari aku dirawat di rumah sakit. Ramzi, kekasih lama yang memberiku payung tempo lalu, melihat aku saat hendak melompat ke dalam sungai. Tak sempat mencegatku, ia malah sengaja menjeburkan diri ke sungai itu hanya untuk menolongku. Lagi-lagi Tuhan mengirimkan orang baik di saat pikiranku kalut. Aku tidak jadi mati.
Sebenarnya hari ini adalah hari pernikahan Sam dan Nila. Namun, tadi pagi aku dikejutkan oleh sebuah berita koran yang diberi oleh Ramzi. Ternyata isi berita itu tentang Sam. Ia menjeburkan diri di sebuah sungai Jakarta yang sangat curam. Ia bunuh diri demi melampiaskan kekesalan atas penderitaannya.
Mendapati berita itu seperti mendengarkan suara petir yang menggelegar persis di telingaku, yang sekonyong-konyongnya dapat menyengatku sampai hangus. Mendapati berita itu aku hanya dapat menyalahkan diri sambil menangis. Aku tidak tahu harus berbuat apa. Hanya berharap, ini sekedar mimpi. Ini seperti berada di sebuah penjara penuh api yang bisa membakar seluruh tubuh dan membuat berteriak histeris sepanjang waktu. Sam yang membuat waktuku bergulir begitu lembut dan manis, kini sudah benar-benar pergi meninggalkanku selamanya. Ucapan cinta yang Sam katakan padaku melaui telepon saat itu, sekaligus menjadi sebuah ucapan perpisahan.
“Sudah tiga hari ini kamu jarang makan. Kamu harus makan, Tasya,” ucap Ramzi mengingatkanku dengan lembut, membuyarkan lamunanku. Aku hanya menggeleng, menolak permintaannya.
“Tapi kamu harus sembuh. Setelah ini aku akan merawatmu sampai kamu ceria,” lanjutnya.
“Merawatku?” tanyaku intens.
“Ya, merawatmu sampai kamu terlihat ceria lagi. Aku berjanji akan di samping kamu selamanya.”
“Ramzi, aku berterima kasih banyak karena kamu rela menolongku saat itu. Tapi kamu bukan Sam. Sungguh, aku tidak bisa ke lain hati,” tegasku dan dengan sekejap Ramzi meninggalkanku dari hadapan.



Catatan:
Cerita ini terinspirasi dari lagu milik KLa Project yang berjudul “Tak Bisa ke Lain Hati”. Ini salah satu cerpen yang sudah dikemas di dalam ebook “Yang Bisa Terjadi Ketika Jarak Memisahkan” (Kumpulan cerpen yang terisnpirasi dari lagu-lagu milik Kla Project). Jika ingin menyimak cerpen-cerpen lain bisa download ebook-nya disini. Atau jika ingin membeli versi buku cetaknya bisa memesan melalui Caroline Ratri di; twitter (@RedCarra), SMS (087839047439), WA (088213301709), email (mommycarra@yahoo.com)

Maulana Setiadi

Terobsesi masuk surga.

No comments: