Pages

Saya Paham

Saya paham, saya dianggap kesal bahkan menjengkelkan oleh orang-orang yang mengenal saya, karena tingkah saya yang kalau dipikir memang mengesalkan bahkan menjengkelkan.

Saya paham, saya dianggap remeh bahkan dikucilkan oleh orang-orang sekitar, karena di usia saya yang sudah menginjak angka 22 belum terlihat menghasilkan sesuatu yang dipandang menarik oleh orang-orang.

Kemarin, di tahun 2013, banyak hal-hal yang saya lalui. Sangat banyak malah. Kalau boleh saya tebak, lebih banyak dari hal-hal yang mereka lalui. Mereka, manusia-manusia yang tak pernah jauh dari sebuah pertanyaan.
“Kenapa selalu bolos kuliah, Lan?”
“Kenapa sekarang malas kuliah, Lan?”
Atau sebuah gagasan yang terdengar lebih menusuk seperti, “Daripada nggak pernah berangkat kuliah dan buang-buang duit, mending keluar kampus aja. Kasian orangtuamu!”.

Dari pertanyaan mereka itu, biasanya saya tanggapi dengan jawaban ngalor-ngidul, bahkan cengengesan saja. Padahal, dalam hati meringis kesal. Wajar, jika saya mendapati pertanyaan-pertanyaan dan gagasan semacam itu. Karena selama ini saya tidak pernah mengatakan kepada mereka tentang hal apa yang sedang saya alami saat ini. Maka dari itu sambil saya merenung dan terus berintrospeksi diri, saya menanggapi pertanyaan mereka dengan cara maklum.

“Mengapa nggak berangkat kuliah?”, “Mengapa nggak berangkat kuliah?”, “Mengapa nggak berangkat kuliah?”. Pertanyaan-pertanyaan itu masih sering saya temui sampai saat ini. Di facebook, di twitter, bahkan di chat messenger. Namun lagi-lagi hidup memang harus dijalani dengan maklum agar tidak melahirkan perasaan emosi. Karena lagi-lagi, mereka tidak tahu menahu atas apa yang tengah saya alami.

Kadang saya berpikir, apakah mereka tidak mempunyai pertanyaan lain? Apapun pertanyaannya, yang penting tidak merujuk pada kalimat, “Mengapa nggak berangkat kuliah?”

Saya memang tidak pernah memberitahu mereka atas apa yang saya lakukan jika tidak berangkat kuliah. Tapi saya memanglah seperti ini, yang jarang terbuka jika mendapat masalah besar. Ya, masalah besar. Itulah alasan mengapa selama ini saya jarang berangkat kuliah. Saya dan keluarga saya sedang ditimpa masalah besar.

Jangan kalian berpikir masalah besar yang sedang saya alami itu tak jauh dari kriminal. Karena di jaman sekarang anak muda itu tak jauh dari masalah kriminal. Dan berita seperti itu memang sudah terkesan biasa. Tapi tolong kalian jangan berpikir begitu, karena saya sudah cukup kasihan mendapatkan masalah ini. Dan juga sudah cukup kasihan karena sejak kemarin selalu mengunyah pertanyaan-pertanyaan yang disusul oleh berbagai macam terkaan.

Mendapat masalah ini seperti berada di sebuah penjara yang dipenuhi api, yang dapat membuatmu menjadi menjerit histeris. Tapi kuperingatkan lagi, saya sudah cukup kasihan dan sangat lelah. Namun saya tidak mau dikasihani sama sekali. Karena bagaimanapun selalu ada pikiran di benak saya untuk lekas bangkit. Melalui pikiran tersebut, saya terus mencoba dan meyakini diri sendiri bahwa saya dapat keluar dari masalah ini. Masalah besar ini.

Bagi saya, masalah yang sedang saya dan keluarga saya alami adalah masalah besar. Karena baru kali ini kami mendapatkan masalah serumit ini; yang tak mudah dipecahkan, yang membuat kami merasa kewalahan ketika mencari jalan keluarnya.

Adanya masalah ini yaitu kami jadi mengorbankan banyak hal. Seperti saya harus mengorbankan kuliah, yang disusul unculnya berbagai macam pertanyaan seputar kuliah yang terlalaikan. Saya akui, itu sungguh sangat menyakitkan. Saya merasa sejak dulu saya selalu memiliki kesan menyenangkan karena dapat menyenangkan orang lain, berubah menjadi orang yang terkucilkan karena seperti kehilangan semangat kuliah. Dan saya akui, perubahan seperti ini sungguh sangat membuat saya sentimentil.

Beberapa orang memang seharusnya dijelaskan terlebih dahulu. Dan seteleh dijelaskan, orang itu akan mejawab dengan, “Oohh..”. Namun, saya tak membutuhkan ungkapan “Oohh..” tersebut. Lebih baik saya ingin mengungkapkan unek-unek saya melalui tulisan ini bahwa saya capek. Capek ketika sedang mencoba membenahi sedikit demi sedikit sesuatu yang sudah terlanjur menjadi masalah, lalu disusul oleh sebuah pertanyaan yang... maaf, pertanyaan itu sungguh sangat menjengkelkan. Dan saya terlalu capek jika harus menjelaskan serinci mungkin, lalu berubah menjadi debat kusir karena setiap orang akan merasa paling benar jika beropini. Setidaknya, saya sudah sering mengalami hal semacam itu. Dan itulah alasan saya untuk tetap bungkam agar tidak menceritakan masalah saya, masalah keluarga saya.

Kecocokan saya bukan berarti kecocokan mereka, begitu pun sebaliknya. Namun sering saya melakukan hal di luar kendali, yang tak lain dengan cara debat kusir yang tak kunjung usai. Di mana saya mencoba berpegang teguh pada persepsi yang dianggap beda dengan persepsi orang lain, dan yang saya hasilkan hanya sebuah emosi serta perasaan capek ketika persepsi saya dianggap secabik tisu dan dengan mudahnya disibak begitu saja oleh persepsi orang lain. Dan itu hanya menumbuhkan rasa kecewa. Debat kusir itu sungguh sangat sia-sia.

Sebelum kalian berspekulasi yang tidak-tidak, saya luruskan satu hal, bahwa adanya masalah ini, saya jadi semakin dekat dengan ibu saya, saya menjadi semakin sayang dengan ibu saya. Dan saya tidak menyesal sama sekali karena telah mengorbankan kuliah saya. Saya jadi tahu arti kehidupan yang berharga itu seperti apa.

Saat ini, saya lebih memilih diam, dan mereka terus menerka, bahkan mengucilkan karena tingkah saya yang menjengkelkan. Lebih baik mereka tertawa dan saya akan tetap menyumpal mulut saya sendiri agar tetap diam. Daripada harus bercerita dan menciptakan debat kusir yang jelas-jelas membuat saya capek. Dan ketika saya berhasil diam, artinya saya menang dalam sebuah tantangan untuk meniti tali keseimbangan dalam berkawan. Setidaknya, dengan cara diam saya masih dapat berteman baik dengan mereka. Dan meski saya tetap berpegang teguh pada persepsi sendiri, tak ada salahnya bagi saya untuk senantiasa berubah menjadi yang terbaik. Mumpung masih diberi umur, yang seyogyanya hidup harus terus dijalani. Mumpung juga lagu-lagu Michael Jackson senantiasa berputar di telinga saya, artinya memang harus disyukuri atas kebahagiaan yang didapati dengan cara sederhana.

Maulana Setiadi

Terobsesi masuk surga.

4 comments:

Ila Rizky said...

Semangat ya, Lan. Badai pasti segera berlalu. Mendekat padaNya, insya Allah dimudahkan untuk keluar dari masalah sebesar apa pun. Kalo butuh cerita, nulis aja ato ngobrol.

Maulana Setiadi said...

Terima kasih, Kak Ila. Saya percaya istilah badai itu dan nanti kalau ketemu cerita deh ya.. *sambil termehek-mehek*

akumemangpejalan said...

hehei kaka lanaaa aku padamu. kita sebelas duabelas kok. inilah kita ada banyak hal yang terkadang apa yang kita inginkan tapi nggak sejalan. kita blm banyak tahu satu sama lain. tapi ada banyak hal juga yg tanpa kita sadari (kalau aku mulai sadar sih) ada banyak hal yg ternyata sama..

tapi hal ini (hal2 yg menyedihkan) nggak berarti kita akan memutuskan hubungan dengan si cita citata ya (baca cita-cita) all the best.

Pasti akan menyenangkan saat kita ketemu nanti, kamu sama aku sudah menjadi seperti apa yang kita mau. Gak perlu ini itu, sukses itu kalo menurutku yang kita selalu bersyukur dengan semua hasil dari usaha kita.

sekali lagi all the best..

aku tunggu kamu di Jakarta!

Maulana Setiadi said...

Aku tunggu tiket nonton Michael Buble dari Jakarta ya, Ayu! Haha