Pages

Beginilah Makna Kopiku



“Orang yang rutin minum kopi, pasti akan mencintai kopi. Dan orang yang mencintai kopi, akan tetap mencintai kopi sampai kapanpun.”
Sesederhana itu saya membahagiakan rutinitas yang saya jalani dalam keseharian. Entah saat di rumah, di kantin kampus, di kantor, maupun di tempat nongkrong, selalu menyempatkan diri untuk ngopi. Di antara keempat tempat yang saya sebutkan, saya lebih memilih ngopi di tempat nongkrong. Bisa di kedai kopi, coffee shop, kafe, atau warung pinggir jalan yang kebetulan menyediakan kopi. Saya lebih memilih di tempat nongkrong, karena tema ngopinya bukan untuk penenang atau penambah gairah seperti ketika berada di rumah atau di kantor, melainkan penambah keakraban.
Karena jika di tempat nongkrong, saya pasti selalu ngopi bersama teman-teman saya. Contohnya di kedai kopi. Di situ saya menikmati kopi bersama kawan-kawan sambil tergelak tawa. Banyak bumbu-bumbu humor yang kami sematkan di setiap percakapan ala wong Tegal. Sering juga sambil menghela napas ketika curhat satu sama lain. Cerita demi cerita yang kami lontarkan seperti menggariskan bahwa saya bisa senantiasa bersama mereka. Saya sendiri menjadi lupa atas jeritan kota ngapak ini, menjadi lupa atas perasaan duka kekejaman peristiwa hidup yang rentang dihujam perasaan bosan akibat menggeluti zona yang bukan passion. Dan merasakan momen-momen ngopi tersebut, saya bahkan menganalogikan kopi sebagai ekuivalensi tali perkawanan.
Kita tahu bahwa setiap orang memiliki cara sendiri untuk bahagia melalui kopi. Ada yang suka minum kopi karena disediakan dalam cangkir yang bagus. Entah itu cangkir yang terbuat dari kristal milik Elisabeth Taylor, kaca spion, kaca nako, kaca mata sekali pun, atau dari kayu yang penuh ukiran aksara jawa bahkan ukiran relief Candi Borobudur. Dan kepuasan sekaligus kebahagiaan semacam itu tidak diperoleh dari kenikmatan kopinya, melainkan cangkirnya.
Kita juga tahu bahwa setiap lidah memiliki nilai sendiri dalam menjamah kopi. Ada yang dengan cara meminum kopi hitam tanpa gula, ada juga yang meminum kopi hitam ekstra susu. Ada juga manusia ganjil yang memaknai kopi di setiap seruputannya, yang tak lain di tulisan saya yang berjudul Sepuluh Seruputan Kopi Pada Malam Yang Hujan. Hehe
Jujur saja, saya tidak begitu paham mengenai dunia kopi. Namun saya selalu memaknai dan menafsirkan sendiri tentang arti kenikmatan kopi ketika berada di depan kawan-kawan. Misalnya, saya selalu berkata, “Tanpa ngopi, hidup terasa begitu semenjana,” atau seperti kutipan di atas, “Orang yang rutin minum kopi, pasti akan mencintai kopi. Dan orang yang mencintai kopi, akan tetap mencintai kopi sampai kapanpun.” Lalu kawan-kawan acap kali setuju atau menepis tafsiran saya. Padahal saya pribadi bodo amat ketika tafsiran tersebut terbukti nyeleneh atau omong kosong, yang penting ketika kami ngopi harus ada konsep obrolannya. Hehe
Serbuk hitam yang satu ini memang sudah menjadi tren bagi anak muda maupun orangtua, atau bisa dibilang lifestyle. Karena konon katanya, kopi dapat mengembalikan keceriaan atau bahkan menghilangkan depresi. Dan betul ternyata. Terbukti ketika saya sedang mengalami gelisah, kopi menjadi salah satu pencahar kegelisahan saya. Pokoknya, jika kopi adalah kata sifat, saya akan menyebutnya sebagai kenikmatan. Selamat ngopi dan mari rasakan sendiri kedigdayaannya. :)



Tulisan ini dipersembahkan oleh lomba menulis #DibalikSecangkirKopi yang diadakan oleh Nescafe Indonesia.




Maulana Setiadi

Terobsesi masuk surga.

4 comments:

Yelsa Fahziani said...

Aku lebih suka menyeduh kopi sendiri, di rumah. Karena punya takaran sendiri. Kalau ngopi di warung atau cafe kadang ada saja yang terasa kurang. Tapi bagaimapun, segala hal patut dirayakan dengan secangkir kopi. :)

Maulana Setiadi said...

Kalau untuk penenang, saya memang lebih suka di rumah karena ya setuju pendapatmu. Takaran juga perlu dalam sebuah kopi. :D

akumemangpejalan said...

Yes, iku juga suka kopi. Bukan pecinta tapi gak bisa dipungkiri kopi hampir ada disetiap aku nulis cerita, berita, semuanya 'ditememenin' sama kopi.

Maulana Setiadi said...

Dan kita adalah orang-orang beruntung karena bia kenal dengan kualitas kopi di setiap kegiatan. :D