Pages

Spesial itu Merdeka

Bertembahnya umur belum tentu menjadikan saya bijaksana. Belum tentu menjadikan saya semakin dewasa. Belum tentu menjadikan saya memiliki pola pikir yang lebih baik. Tetapi tetap banyak yang saya petik dari umur sebelumnya. Meski setelah dipetik saya hanya bisa mengamati dan susah untuk menerapkan petikkan itu, susah memperbaiki sikap atas pembelajaran yang saya lalui. Tapi jika ada yang bertanya hadiah spesial apa yang sudah saya berikan ke diri sendiri atau orang lain, jawabnnya adalah banyak. Haha
Atas nama menghindari ketidaksyukuran dan selalu menjaga kebahagiaan, maka saya mengatakan banyak saja, kan? Tapi memang banyak hadiah spesial yang saya rasakan di tahun ini. Yaitu saya bisa berbuat hal menarik yang saya lakukan. Saya bisa membeli novel-novel yang saya ingini, saya bisa membeli kopi lokal yang tidak bisa dijangkau di kota saya, saya bisa berkeliling kota menggunakan sepeda yang baru saya beli, saya bisa membuat teman-teman yang berada di sekitar saya tertawa. Dan semua itu saya analogikan dengan sebuah hadiah spesial untuk diri sendiri.
Tak beda jauh dengan yang dikatakan Kak Aprie. Saya juga termasuk orang yang lamban dalam melakukan pekerjaan. Akhirnya, tahun kemarin banyak sekali sesuatu yang tidak bisa saya raih. Itu semua karena kurang tegas dalam menentukan pilihan, kelambanan dalam bertindak dan ironisnya, sering menunda kesempatan yang ada di depan mata.
Namun seiring berjalannya waktu, sedikit demi sedikit saya sadar, kalau semua itu sebenarnya terjadi karena kurangnya menghargai waktu. Saya amati dengan kondisi sekarang yang lebih banyak bergerak dalam sehari, namun, gerakan yang saya lakukan bukan sekedar sebuah gerakan, melainkan gerakan yang bermanfaat bagi saya. Seperti ini; ketika saya sedang senggang, saya akan membaca novel yang belum saya jamah, atau kalau tidak mood untuk membaca, saya akan menulis atau menggambar apa yang saya mau, namun ketika stuck untuk menulis atau menggambar, bergegas saya meraih sepeda untuk mencari keringat.
Metode semacam itu bagi saya tidak terkesan sia-sia atau mengecewakan. Malah membuat saya merasa lebih menghargai waktu. Daripada membiasakan diri melakukan kegiatan nongkrong ketika senggang dan hanya memperoleh banyak ketawa, tapi tidak mendapat manfaat dari obrolan saat nongkrong berlangsung. Setidaknya tentang nongkrong atau hang-out sudah saya jelaskan di postingan sebelumnya.
Jadi harapan saya, jika saya senantiasa menggunakan metode semacam itu, saya yakin akan selalu menghargai waktu, meskipun terlihat tidak menghasilkan sesuatu yang dipandang menarik untuk orang-orang. Tetapi bukankah yang terpenting diri sendiri harus merdeka dulu? Dan kemerdekaan itulah yang mejadikan saya terasa spesial. Hal-hal yang bisa saya raih, itulah hadiah sepesial saya, kemerdekaan saya. Meskipun meskipun meskipun lagi itu belum tentu menjadikan saya bijaksana. Belum tentu menjadikan saya semakin dewasa. Belum tentu menjadikan saya memiliki pola pikir yang lebih baik.


Ah, menurutku Kak Aprie ini memang menarik orangnya!

Maulana Setiadi

Terobsesi masuk surga.

6 comments:

Aprie Janti said...

Jangan merayu saya dengan kalimat terakhirmu, ya! :)))

Maulana Setiadi said...

Haha tidak kak. :D

i Jeverson said...

pola pikir memang menjadi faktor penentu kedewasaan.
ah, sulit rasanya menilai diri sendiri sudah dewasa atau belum..

Maulana Setiadi said...

Masnya juga belum dewasa ya? 😄😄

rifandi harun said...

keren tulisannya..terkadang memang menjadi dewasa tidaklah seindah ekspektasi kita..ada bebrapa hal yang menjadi impian kita berngsur-angsur dilupakan dan memilih menjalani hal yang paling mudah untuk dilakukan..realistis, itulah alasan mengapa banyak orang dewasa bermain aman karna resiko yang termat besar..

abaikan komentar saya kalau gak nyambung..haha

Maulana Setiadi said...

Betul. Ragu-ragu dalam bertindak itu musuh yang seyogianya harus kita hindari, mas. Padahal kita nggak tahu, kalau di depan ada senyum sumringah yang sedang menanti. Hehe