Pages

Dua Puluh Satu



Mata kuliah akuntansi saat ini masih berlangsung. Dosen menerangkan persoalan rumit mengenai logika dalam Penyajian dan Pengukuran Utang Jangka Panjang. Aku tak menyimak karena terlanjur kehilangan semangat. Kulirik kedua sahabatku yang kurus dan gempal, Lisa (kurus) dan Sapta (Gempal). Menjelang skripsi, mereka benar-benar serius memperhatikan penjelasan dosen. Tampak sibuk pada kuliah akhir semester ini. Jadi wajar bila mereka tidak mengingat hari ulang tahunku.
Oke, besok umurku sudah resmi dua puluh satu dan akan kulewati dengan abu-abu; yang semuanya terasa di batin hanya netral dan datar, nyaris kosong. Ironisnya lagi karena kehilang gairah saat ini; tak tahu apa yang dimau, tak yakin apa yang diingini.
Jiwaku masih terpaut pada harapan suasana ulang tahun.
Alih-alih meracau sendiri, aku mengemasi buku dan pulpen ke dalam tas ranselku. Akhirnya jam kuliah habis.
“Aku pergi dulu ya!” ucapku pada Sapta. Namun, mata lelaki gempal ini hanya tertuju pada laptopnya. Masih terlihat sibuk sehingga tidak menoleh padaku sedikitpun.
“Lho? Mau ke mana, Tashia?” Lisa berteriak tanya dari pojok kelas.
“Ke suatu tempat. Di sini rasanya penat.”
“Ya sudah. Hati-hati, ya!” jawab Lisa ketus. Aku hanya mengangguk. Bahkan sekarang tenggorokanku seperti dihantam melihat fakta ini. Tak ada harapan dari mereka untuk menjadi pencahar kejenuhanku. Pikiranku berkecamuk. Rasa-rasanya ingin mempercepat waktu agar lekas wisuda, lalu menyambut suasana baru menjadi wanita karir dan menikah dengan lelaki idaman. Barangkali begitu cara memperoleh suasana baru bagi mahasiswi semester akhir sekaligus anak tunggal seperti aku.
Akhirnya, di sore ini aku memutuskan pergi ke mall sendirian. Pikirku, dengan jalan-jalan ke mall aku akan memperoleh sumber kebahagiaan. Namun nyatanya, aku seperti debu yang berada di pelupuk mata, terasa asing begitu sampai di mall. Karena setiap aku jalan-jalan ke mall pasti bersama si kurus dan si gempal.
Tunggu! Tiba-tiba penglihatanku terblokir pada tulisan besar, “Adri Bolu” yang tak lain adalah toko kue di dalam mall ini. Baru kali ini aku melihatnya. Pasti itu toko kue baru! Aku yang dari dulu menyukai berbagai macam kue, salah satunya kue buatan ibuku, memutuskan untuk melihat-lihat kue di dalam sana.
Saat baru masuk ke dalam toko kue ini aku merasa lapar. Aroma kue tak henti-hentinya menguar dari dalam dapur. Tampak warna dinding toko berwarna hijau toska yang terkesan hangat, dengan gambar berbagai macam kue yang sangat lucu. Para pelayan juga terlihat ramah saat berinteraksi dengan pembeli di samping rak kaca yang terhiasi berbagai macam kue.
Seorang pria berbadan tinggi tegak mengenakkan kemeja linen merah menghampiriku. “Selamat datang, Mbak. Bisa saya bantu?”
“Wanita seumuran saya kalau ke sini biasanya beli kue apa, Mas?” tanyaku asal. Bingung membeli kue apa yang pas untuk dinikmati.
Pria itu mengernyit, “Ehmm.. Kemarin ada wanita seperti seumuran Mbak yang sudah berkali-kali beli sweet fruit pie ukuran kecil. Sejenis pie, tapi kami olah dengan berbagai macam buah-buahan segar. Kalau mau lihat, ada di rak itu, Mbak,” jawabnya ramah sambil menuntunku ke arah rak kaca yang dimaksud.
Aku mengikutinya, melihat berbagai jenis sweet fruit pie yang ternyata ukurannya hanya segenggam tanganku di rak kaca yang dia maksud. Aku lebih tertarik pada sweet fruit pie yang terhiasi buah stroberi di atasnya. Lalu aku menunjuk sweet fruit pie stroberi itu, “Kalau yang ini harganya berapa, Mas?”
“Satunya dua puluh lima ribu rupiah.”
“Kalau gitu saya ambil empat sweet fruit pie stroberi itu. Rasanya empat cukup untuk dinikmati saat santai.”
“Oke, Mbak.” Pria itu tersenyum kembali. Dia mengambil kardus, mengisi semua kue yang kupesan, menutupnya, lalu mengemasnya dengan pita merah dan memasukkannya ke dalam tas plastik putih bertuliskan ‘Adri Bolu’.
Astaga, aku baru menyadari jelas pada wajahnya; Perpaduan wajah tampan dengan mata berwarna cokelat, terkesan seperti pria hangat. Tiba-tiba ada energi kebahagiaan yang menginjeksikan tubuhku begitu cepat. Semakin cepat semakin mengalir deras ke setiap nadiku, yang sekonyong-konyongnya mengubah air mukaku menjadi cerah. Rasanya sudah lama aku tak jatuh cinta.
“Silakan bayar di kasir, Mbak. Terima kasih,” katanya membuyarkan lamunanku.
Semuanya sudah kubayar, aku lantas bertanya kembali pada pria itu hanya ingin berbasa-basi sekaligus memandang wajahnya kembali, “Kalau boleh tahu, toko Bolu Adri ini milik siapa, Mas?”
“Milik saya dan Ibu saya, Mbak. Adri itu nama saya,” jawabnya sambil tersenyum.
Milik dia dan Ibunya? Tiba-tiba aku membatin, andai saja Ibuku masih hidup dan berkunjung ke sini, mungkin beliau ikut tergerak untuk mengajakku membuka usaha kue. “Oh, jadi toko ini milik Mas, ya? Masih muda sudah jadi pengusaha. Hebat!”
Dia tersipu, “Haha. Jadi malu nih, tapi terima kasih, Mbak.”
“Oke, lain kali saya pasti mampir ke sini lagi.”
“Siap! Sekali lagi, terima kasih sudah mau menyenggangkan waktu untuk mampir ke sini. Semoga lain kali bisa menikmati kue-kue dari sini dengan pacarnya ya, Mbak.”
Atas dasar apa dia menyarankan hal itu?
“Sama-sama, Mas, Tapi maaf, saya belum punya pacar,” refleks jawabku sambil meringis, bergidik, lantas pergi dari hadapannya. Mulutku kering seketika itu juga.
***
Cericit burung-burung jam tujuh pagi saat ini terdengar merdu, angin bertiup kecil, serta matahari bersinar terang. Kendati demikian, aku memutuskan untuk menikmati hari ulang tahunku di taman belakang rumah milik orangtuaku. Semenjak kedua orangtuaku meninggal, aku tinggal bersama paman dan tanteku yang jarak rumahnya sekitar seratus meter dari rumah ini. Hampir setiap hari pula aku datang ke sini untuk menyirami semua tanaman. Karena dulu, taman ini menjadi tempat terciptanya sarang tawa saat kumpul bersama ayah dan ibuku.
Ukurannya memang tidak luas, namun kami menanam setiap tanamannya dengan intensitas. Sangat terlihat berbagai macam tanaman indah dan rapi yang ada di sini. Seperti Tanaman Mawar, Suplier, Keladi Red Star, Anggrek, dan yang lainnya. Satu Pohon Ketapang Kencana yang memiliki batang ramping dengan cabang horizontal juga membuat taman ini terasa asri.
Aku duduk bersila di teras taman, ditemani secangkir teh hangat, serta sweet fruit pie yang kubeli dari toko kue milik pria bernama Adri. Belum sempat kubuka kardusnya. Hanya kusimpan di dalam kulkas. Pikirku, kenikmatan yang terkandung dalam kue dari toko milik pria yang kemarin membuatku terpana itu akan lebih terasa bila dimakan di hari ulang tahunku ini. Dan kedua sahabatku, Lisa dan Sapta, pun saat ini tidak tahu bahwa sejak kemarin aku gelisah karena bayangan Adri.
Oke, kali ini aku betul-betul merayakan ulang tahunku sendirian. Tanpa ucapan selamat dari siapapun, tanpa resolusi dan evaluasi yang kusongsong.
Saat melahap satu sweet fruit pie sambil merenungi kesan indah mengenai taman ini, aku seolah merasakan kalau tanaman-tanaman sekitar memanggilku agar didekati. Mungkin mereka hendak memberi isyarat, bahwa di hari ulang tahun ini sesungguhnya aku tak sendiri, masih ada tanaman-tanaman indah di sini. Kuyakinkan itu saja dengan pikiran sekena-kenanya agar hari ini terasa spesial.
Aku lantas mendekati tanaman mawar. Sengaja kupetik satu bunga mawar agar bisa mencium wanginya. Wangi ini menghadirkan rekam jejak masa lalu; Dulu aku bersama ayah dan ibuku sering menciumi bunga mawar ini, yang disusul senyum kepuasan kami yang terliputi rasa syukur atas semerbak wangi mawar. Kami memang bukan keluarga standar untuk urusan kagum pada tanaman.
Setelah mencium aroma mawar yang menguar rindu ini, mulutku sibuk menyelipkan nama ayah dan ibu ke dalam doa. Tak lupa juga meletakkan kata “amin” di akhir doa. Berharap doa itu akan terbawa embusan angin pagi lalu sampai ke tempat tertuju.
Namun secepat ilham melintas, tiba-tiba perasaanku berubah terkesiap begitu sayup-sayup mendengar suara decit kaki pada lantai dari dalam rumah. Saat ini juga aku sadar kalau aku lupa mengunci pintu rumah. Kekhawatiranku melengkap. Siapa yang masuk ke dalam rumahku?
Saat suara decit kaki itu sudah tak terdengar lagi, sekonyong-konyong aku mengumpulkan keberanian untuk masuk ke dalam, hendak memastikan bahwa tidak ada apa-apa. Namun saat aku masuk ke dalam dan berusaha tidak menciptakan decitan kaki pada lantai, tak kutemukan siapa pun saat retinaku berkeliling ke seluruh penjuru. Bergegas aku mengunci pintu rumah lalu kembali ke taman dengan membawa sedikit perasaan lega. Syukurlah, mungkin itu hanya perasaanku saja. Suasana cemas kuanggap usai. Namun saat sudah berada di taman..
“SURPRISE!!!” Kedua sahabatku yang kurus dan gempal muncul dari dalam dengan cara mengendap-endap. Jantungku hampir copot, kaget bukan kepalang. Cepat-cepat mereka berdua memelukku sambil mengucapkan selamat ulang tahun.
“Kalian memang gila!”
Tawa mereka berderai. Tiba-tiba aku menangis terharu, “Aku kira kalian nggak ingat hari ulang tahunku.”
Lisa mencubit pelan hidungku, “Jahat banget kalau kami lupa hari ulang tahun sahabat spesial. Kemarin kami emang sengaja ngacangin kamu, Tashia sayang.”
“Sudah-sudah! Mending kita makan ini aja!” ujar Sapta yang tiba-tiba sudah melahap satu sweet fruit pie-ku.
Aku tersenyum sambil mengusap air mata, “Harusnya kalian yang bawa kue!”
“Kami memang mau kasih kamu kue kok, tapi nggak di sini,” jawab Sapta.
Aku mengernyit, “Memangnya di mana?”
“Nanti kamu juga bakalan tahu!” sambar Lisa.
“Oke. By the way,,, mana kado untukku?”
“Nggak ada,” jawab mereka bersamaan sambil tertawa.
Aku mencubit kecil perut Lisa, “Ih, ngeselin! Udah ngacangin, ngagetin, terus sekarang nggak bawa kado!”
Tawa mereka kembali berderai. Dan tiba-tiba Sapta menatapku lekat-lekat, “Tapi kami ke sini punya rencana. Mungkin itu akan menjadi kado terindah di ulang tahunmu.”
“Rencana apa? Jangan bilang kalau kalian mau melakukan hal norak seperti melempar telur dan tepung ke kepalaku!”
“Yee! Lebih bagus dari rencana itu!” sergah Lisa.
Aku mengernyit, “Memangnya apa sih?”
“Aku mau comblangin kamu sama saudaraku yang dari Semarang,” jawab Sapta sambil melahap sweet fruit pie yang kedua, “Tempo lalu, waktu aku ke Semarang, saudaraku lihat foto kita bertiga, dan katanya dia naksir kamu,” lanjutnya.
Mendengar itu aku tergelak sendiri, “Dan setelah ketemu, dia bakalan kabur lihat cewek yang ternyata lebih cantik di foto daripada lihat langsung?”
Sapta cepat-cepat memotong, “Rian orangnya nggak gitu!”
“Oh namanya Rian? Kuliah di mana?” tanyaku.
“Udah lulus, dan sekarang lagi merintis usaha kue sama ibunya. Toko kuenya baru dibuka di Mall yang biasa kita samperin lho! Kan nanti kita mau ke sana buat makan kue. Aku sudah janjian kok sama Rian,” jawab Sapta.
Aku membelalak kaget, “Hah? Maksudnya, Toko Adri Bolu?”
“Iya. Nama yang biasa dipanggil teman-temannya itu Adri. Rian itu nama masa kecilnya. Jadi aku sama keluarga masih kebiasaan manggil dia dengan sebutan ‘Rian’. Eh, kamu sudah tahu toko kuenya?” tanya Sapta sambil melahap habis sweet fruit pie yang terakhir.
Aku tak menjawab pertanyaan Sapta. Hanya merasakan hatiku melonjak gembira. Gejolak asmara seketika berorientasi pada tubuhku. Seluruh simpul dari perasaan yang abu-abu sekarang berwarna merah merona. Aku tersenyum. Mataku berbinar. Sahabatku memang spesial. Dua puluh satu tahun ini juga terasa sangat spesial.
Tiba-tiba pertanyaan Lisa yang setengah berteriak itu membuyarkan lamunanku, “Eh, gimana? Mau kenalan sama Rian, nggak? Kalau nggak mau, ya udah, buat aku aja!”
“MAU!!!!”


Cerita ini telah dimuat di perempuan.com

Maulana Setiadi

Terobsesi masuk surga.

No comments: