Pages

From Tegal to Makassar for MIWF 2015




Perkenalan saya dan Firman berawal dari twitter. Awalnya, percakapan kami di twitter hanya mengenai seputar kepenulisan. Tentang penulis favorit, novel favorit, lomba menulis. Dari semua itulah yang menyebabkan kami menjadi akrab. Firman adalah seorang mahasiswa semester akhir yang harus bergelut dengan skripsi di Universitas Negeri Makassar.
Keinginan saya mengikuti MIWF 2015 berawal dari meriahnya MIWF 2014 yang saya pantau melalui twitter. Banyak tweet-tweet dengan tagar #MIWF2014 yang menyatakan kepuasan saat menghadiri acara MIWF 2014. Dan semua itu membuat saya penasaran. Firman sendiri malah sudah pernah menyaksikan MIWF 2013. Ia bahkan pernah mendaftarkan diri menjadi volunteer untuk MIWF 2014, tapi sayangnya gagal. Maka saat saya mendapat info dari teman-teman di Makasar tentang MIWF 2015, saya bergegas mengajak Firman agar ikut mendaftar sebagai volunteer. Firman bersedia pada ajakan itu. Malah Firman mengajak saya agar menginap di rumahnya di Makassar selama MIWF. Sejak saat itulah kami saling memberi semangat, berharap penuh agar bisa lolos seleksi sebagai volunteer. Saya mengambil devisi social media, sedangkan Firman mengambil devisi MC. Tetapi keputusan berkata lain, kami tidak lolos menjadi volunteer dan itu cukup membuat kami kecewa. Namun, meskipun tidak lolos, kami tetap meniatkan diri untuk berkunjung ke acara MIWF 2015. Seperti saya tetap membeli tiket pesawat ke Makassar dari jauh-jauh hari. Sebab saya punya harapan, yaitu jika saya bertemu langsung dengan panitia MIWF di Makassar, mereka akan melihat kesungguhan saya yang rela datang hanya ingin menjadi volunteer. Tetapi jika harapan itu tidak juga terwujud, saya dan Firman tetap akan menyaksikan MIWF.
Alasan kami ingin sekali menjadi volunteer MIWF adalah karena ingin bisa berkontribusi pada acara MIWF 2015. Suatu kebahagiaan bagi kami bila tangan, kaki, mata, dan hati kami bisa dipergunakan untuk MIWF 2015. Melihat MIWF di setiap tahunnya selalu berjalan meriah, kami jadi betul-betul tergerak agar ikut memeriahkan.
Pada saat hari menjelang acara MIWF, saya mengirimkan biodata dan sinopsis novel melalui email ke Panitia (Kak Angga Malik) agar terpilih untuk mengikuti Workshop Plotpoint bersama penulis skenario, Ifan Ismail. Tapi malah saya mendapat balasan dari Kak Angga tentang keseriusan saya yang mau berkunjung ke Makassar. Dan kebetulan saja, pada saat itu ada salah satu teman saya bernama Nur Ramadhani Anwar yang mengundurkan diri dari volunterr karena ada pelatihan kerja di Cirebon. Saat itulah saya terpilih untuk menggantikan posisi Kak Dhani di devisi social media. Saya tersenyum, setengah euforia akibat mendapati berita itu, setengahnya lagi merasa tidak enak pada Firman. Kami sama-sama mendaftar sebagai volunteer. Sama-sama sering membicarakan MIWF, sementar dia belum bisa menjadi volunteer hingga saat itu.
Saat saya berhasil menginjakkan kaki di Makassar, tepatnya pukul sembilan pagi di tanggal 1 Juni, 2015, saya langsung disapa oleh Firman yang sengaja menjemput saya di Bandara Sultan Hasanudin. Kami hampir lupa kalau itu sebenarnya pertemuan pertama kami. Obrolan kami langsung nyambung dan akrab. Tak ada perasaan canggung dari kami dan langsung saja kami bekeliling ke beberapa tempat di Makassar, Firman menjadi tour guide saya. Kami menyempatkan diri untuk memakan Coto sambil berbincang seputar MIWF, dan di perbincangan itulah Firman baru mengatakan kalau daerah rumahnya berada di Takalar, yang bisa menempuh waktu hingga satu jam lebih dari venue MIWF 2015 (Fort Rotterdam). Awalnya saya ragu atas tawaran menginap di rumah Firman. Sebab saya sudah membayangkan betapa lelahnya nanti selama bekerja untuk MIWF dan harus pulang ke daerah yang dapat menempuh waktu hingga dua jam. Namun, saya dan Firman juga sudah menebak, jika saya menginap di hotel yang disediakan panitia untuk para volunteer, pasti terasa tidak nyaman karena harus berdesak-desakkan bersama volunteer lainnya.
Maka malamnya saat diadakan meeting point bersama volunteer lainnya di Rumata’ Art Space, saya langsung menemui kedua panitia, yaitu Kak Angga dan Kak Fiska. Saya bercerita kepada mereka berdua bahwa selama MIWF saya menginap di Takalar. Saya meminta tolong kepada mereka barangkali ada penginapan murah untuk saya. Tapi bukan hanya memberikan info penginapan, mereka berdua bahkan mengajak Firman untuk bergabung menjadi volunteer di devisi business unite. Maka cepat-cepat tawaran itu disetujui Firman. Nampaknya semesta mendukung harapan kuat saya dan Firman yang menggebu-gebu ingin menjadi volunteer. Hingga detik ini rasa-rasanya saya ingin mengucapkan terima kasih kepada Kak Angga dan Kak Fiska yang seolah pandai membaca harapan saya.
Pada hari pertama dan kedua, di tanggal 1 dan 2 Juni, saya merasakan perjalanan ke Takalar, memanglah terasa capek dan jenuh, namun di hari ketiga, setelah menyelesaikan hari pertama MIWF 2015, rasa capek dan kejenuhan itu terganti oleh suasana senang, seolah tak ada beban secuilpun yang saya dan Firman rasakan. Itu karena selama MIWF kami bekerja dengan menyenangkan. Meskipun pikiran dan badan terasa lelah selama menjadi volunteer, tetapi itu tak ada apa-apanya bila dibandingkan dengan interaksi sesama volunteer yang berjalan secara komunikatif. Nyaris semua volunteer yang kami temui ramah. Banyak canda selama volunteer bekerja bersama, sehingga membuat pekerjaan menjadi ringan.
Melihat hal itu, saya dan Firman memilih untuk melaju dari Takalar ke Fort Rotterdam selama MIWF 2015 berlangsung. Bahkan jika MIWF mendadak akan dilanjutkan menjadi satu minggu penuh, kami tetap akan akan melaju setiap hari dari Takalar ke Fort Rotterdam. Berangkat dari pukul enam pagi dan pulang pukul dua belas malam. Meskipun terkadang jika pulang di jam dua belas malam, kami selalu was-was pada kondisi jalanan. Barangkali ada begal yang mencolek kami. Tapi nyatanya, selama melakukan kegiatan melaju itu dengan bekal pikiran positif, kami tetap dalam kondisi sehat sampai tulisan ini dimuat. Haha
Orang-orang bertanya ke saya, “Dari Tegal ke Makassar cuma untuk jadi volunteer MIWF?” Saya selalu menjawab dengan cengar-cengir saja. Terlalu sungkan untuk menjelaskan ke mereka karena yang tanya banyak. Mereka tidak tahu betapa saya menganggap MIWF adalah sebuah festival yang layak diselenggarakan oleh siapapun, termasuk oleh orang-orang dari luar Indonesia Timur. Dari 200 volunteer MIWF 2015, kebanyakan berasal dari Sulawesi. Tetapi saya dan Firman yakin, sebetulnya banyak sekali orang-orang dari luar Sulawesi yang ingin terlibat memeriahkan acara MIWF. Dan saya beruntung karena menjadi orang dari luar Sulawesi yang berhasil menjadi volunteer MIWF 2015. Saya dari Tegal sebagai satu-satunya orang ngapak yang dikelilingi ratusan volunteer yang berasal dari Indonesia Timur. Ada juga duka yang saya dapatkan saat di Makassar, yaitu ketinggalan pesawat saat hendak pulang. Itu semua karena macet di perjalanan dan mendadak ban motor Firman bocor saat mengantarkan saya ke bandara. Namun, satu hal yang saya rasakan hingga detik ini, entah bagaimana cara mendeskripsikannya melalui kata-kata, akan tetapi, sangat payah jika saya tidak bersyukur kepada diri sendiri karena memiliki mata dan hati selama menjadi volunteer MIWF 2015. Dan dengan penuh rasa hormat, saya mengucapkan terima kasih kepada volunteer lainnya. Sampai jumpa kembali di MIWF 2016.


(Image by MIWF 2015)


Maulana Setiadi

Terobsesi masuk surga.

4 comments:

N. Firmansyah said...

Baru dipost ternyata yak. Eh, masih ada beberapa yang typo, tuh, dicek lagi.

Ila Rizky said...

Yeay! Akhirnya diposting juga ya, Lan. Jadi tahun depan mau daftar lagikah? :D Ditunggu reportase detail acara2nya. :D

Maulana Setiadi said...

Lho kamu nggak taubya kalau di blogspot ada tim editor. Jadi kalau ada tulisan yang typo, beberapa harinya otomatis nggak typo lagi. 😆😆😆

Maulana Setiadi said...

Kalau dapat kesempatan mau, kak ila. Dan reportase acaranya sedang ditulis. Hehe