Pages

Hari Ini Pulang


 

Heidi duduk di lantai teras rumahnya, sembari merasakan perut yang diteror oleh kawanan cacing di dalamnya. Berkali-kali dia mencoba mengajak bermain Titon. Namun,  kucing persia itu lebih memilih tidur di samping Heidi daripada bermain. Sesekali terbangun sejenak sembari menatap Heidi kuyu bagai pelita kehabisan minyak, lalu menghiraukan dan melanjutkan tidurnya. Gerutu tak jelas berlompatan dari mulut Heidi. Membuat dia beranjak dan berjalan menuju Ibunya yang berada di dapur.
Begitu sampai di dapur, Heidi melihat Ibunya masih sibuk dengan adonan untuk dijadikan kue kering. Kue-kue yang akan disajikan saat lebaran. Setiap ramadhan, Ibunya yang biasa dipanggil Umi itu, selalu mendapat banyak pesanan kue dari kerabat-kerabatnya. Umi selalu meminta Siti, tetangganya, agar ikut membantu membuat kue kering, seperti saat ini. Namun meski dibantu Siti, kondisi dapur salalu saja berantakan. Banyak taburan tepung yang berjatuhan di lantai, berbagai kertas dan bahan plastik lainnya tidak tertata rapi, serta adanya dua kompor gas dan dua kompor minyak. Semuanya membuat dapur menjadi terlihat sempit dan tak bersahaja.
“Buka puasa masih lama ya, Umi?” tanya Heidi pada Umi dengan keluhan lapar. Siti yang mendengarnya hanya tersenyum menatap Heidi.
Dengan penuh kasih, Umi menatap anak semata wayangnya yang masih duduk di bangku SD kelas tiga, “Tiga jam lagi. Sabar ya. Dari kemarin kan puasa Heidi belum bolong. Masa hari ini mau bolong? Anak laki-laki harus kuat!”
Heidi hanya mengangguk pasrah seraya mengerucutkan bibir, membuat rautnya tampak lucu. Lalu mendadak mereka berdua dikejutkan oleh dering ponsel milik Umi dari dalam kamar.
“Wah, itu pasti telepon dari Abah, Mi!”
“Ya sudah, cepat ambil ponsel Umi!”
Buru-buru Heidi berlarian menuju kamar.
Sayup-sayup Umi mendengar percakapan Heidi melalui telepon. Anak itu kembali menuju dapur sembari menggengam ponsel yang ditempelkan di telinga kananya, lalu menyerahkan ponsel itu kepada ibunya, “Katanya ingin bicara dengan Umi.”
Tak peduli tangannya masih dilumuri tepung, Umi langsung menyambar ponsel dari tangan Heidi. Saking kangennya dengan suaminya yang bekerja sebagai buruh pabrik di Jakarta. “Hallo, Abah! Sehat di sana? Kami berdua kangen sekali dengan Abah.”
“Alhamdulillah sehat. Umi juga kan? Abah juga kangen kalian.”
“Alhamdulillah Umi dan Hedi sama-sama sehat. Jadi, kapan Abah pulang?”
“Insya Allah minggu depan.”
Suami istri itu masih melangsungkan percakapan. Sementara Heidi yang berada di samping ibunya kaget oleh keberadaan Titon yang tiba-tiba datang. Kucing berbulu hitam dengan garis putih itu bergulingan di kedua kaki Heidi, sesekali mengenduskan taring di jempol kaki Heidi, minta dimanja.
Umi yang ikut melihat keberadaan Titon, langsung menyuruh anaknya untuk menjauhkan kucing itu. “Bahaya kalau Titon di sini. Bisa membuat dapur berantakan. Kucing itu kan nggak mau diam,” gumamnya. Setelah itu ia bergeming, menyadari bahwa dapurnya sudah acak-acakan sejak awal.
“Oh enggak, Abah. Itu Si Titon. Tadi sampai mana, ya?”
Heidi lantas berjalan sembari membopong Titon ke ruang tamu.
***
Hari ini adalah hari kepulangan Abah. Heidi dan Umi menantikan kedatangan Abah. Kemarin sore Abah menelpon, mengatakan sore itu Abah sudah berangkat menggunakan bus. Tapi berhubung arus mudik macet, kemungkinan tiba sampai rumah bisa siang ini atau menjelang buka puasa.
Sementara di dapur saat ini Umi terlihat sangat sibuk dibanding kemarin. Pasalnya, hari ini Siti tidak bisa datang karena harus mengantar anaknya ke rumah sakit. Kondisi dapur juga masih sangat berantakan. Umi bersimbah peluh sampai mengkilap. Kewalahan dengan keadaan ini. Apalagi setelah menyadari gas untuk menyalakan kompor yang satunya sudah habis, membuat ia langsung pergi ke warung terdekat untuk membeli gas tabung tiga kilo.
“Heidi jaga rumah sebentar ya! Umi mau beli gas dulu,” ucapnya pada Heidi.
Heidi mengangguk, “Iya, Umi.” Lalu kembali berusaha mengajak bermain Titon yang sejak tadi hanya tidur di teras rumah. Berkali-kali Heidi membangunkan, tapi Titon menghiraukan.
Waktu menunju buka puasa masih lima jam lagi. Heidi tak bisa mengukur rasa lapar yang tertahan. Tetapi tetap saja, dia bersikeras melanjutkan puasa sampai adzan maghrib. Di dalam hatinya, ada genderang kebahagiaan ketika mengingat hari ini adalah hari kepulangan Abah. Semoga saja hari ini bisa berbuka puasa bersama.
Tiba-tiba mata Heidi terblokir pada seorang tetangga laki-laki paruh baya. Tetangga itu berjalan sambil membopong kucing persia berbulu putih polos. Heidi membandingkan kalau Titon masih kalah jauh bagusnya dengan kucing yang dibawa tetangga tersebut. Karena penasaran, Heidi menemui tetangga tersebut yang jarak rumahnya hanya berselisihan dengan tiga rumah. Dia menghiraukan Titon yang masih terjaga dari tidurnya. Begitulah awal dari segalanya yang akan terjadi.
“Pakde, itu kucingnya siapa?” tanya Heidi begitu sampai ke rumah tetangga itu.
Tetangga itu mengelus-elus bulu kucingnya, sembari memberi makanan kucing yang diletakkan di atas mangkuk plastik kecil, “Kucingnya Pakde. Lucu ya?”
“Ini makanan kucing ya, Pakde?” tanya Heidi sembari mengambil satu makanan kucing yang baru pertama dia lihat. Warnanya cokelat, bentuknya mirip ikan, kecil, dan baunya amis.
“Iya. Lebih bergizi untuk kucing persia. Memangnya Titon biasa makan apa?”
Kalau dia apa aja suka.”
“Kalau begitu, ambil segenggam makanan ini untuk Titon. Barangkali suka.”
Heidi lantas berjalan menuju rumahnya sembari membawa makanan kucing di genggaman kanannya. Dia hendak membangunkan Titon lalu memberi makanan kucing itu. Namun sesampainya di rumah, Heidi tak melihat keberadaan Titon di teras. Bergegas dia menuju ruang tamu, tetapi tetap saja tidak ada Titon. Heidi langsung menyusuri seluruh ruangan lain, dan Titon tetap saja tak ditemukan. Barulah dia berlari menuju dapur. Hendak menanyakan pada Umi tentang ke mana perginya Titon. Namun begitu sampai di dapur, bukannya ibunya yang dia temui, melainkan Titon yang terlihat berada di kolong dapur, persis di samping gas yang sedang menyalurkan api di atas kompor, tampak seperti sedang berburu tikus atau kecoa.
“Titoon! Keluar dari sini!” teriakkan Heidi membuat Titon terperanjat dan badannya membentur gas tabung dengan keras hingga gas tabung bergeser dari tempat semula. Lalu seketika gas tabung itu terjatuh.
Melihat Titon yang panik dan berlarian ke pojok dapur, Heidi bergegas menghampiri, hendak menjemput Titon pergi dari dapur. Namun belum sampai langkahnya menuju Titon, gas yang terjatuh tadi tiba-tiba meledak. Makanan kucing di genggaman tangan Heidi jatuh berceceran ke lantai. Seketika api berkilap dan membakar benda-benda dan dinding kayu di dapur. Mata Heidi berkaca-kaca.
“Umi!!!!!”
Sementara Umi masih mencari-cari gas tabung tiga kilo. Padahal sudah tiga warung yang ditemui di sekitar kompleks rumahnya, tapi ketiga warung itu kehabisan stok gas. Kali ini di warung ke empat, Umi sudah menemukan gas tabung tiga kilo.
Setelah gas didapat, Umi bergegas pulang sembari membopong gas dengan kedua tangan. Namun saat hampir sampai rumah, matanya tertumbuk pada kerumunan warga yang berada di depan rumahnya. Umi terkesiap begitu melihat asap tebal. Jantungnya kaget bertalu-talu. Buru-buru ia meletakkan gas di jalan, lalu berlari dengan napas tersengal-sengal menuju kerumunan sambil berteriak,“Heidi!”
Umi menanyakan keberadaan Heidi ke warga yang sedang sibuk memadamkan api menggunakan air dengan ember seadanya. Namun, tak satu pun warga yang ditanyakan tahu keberadaan anak itu. Mereka sibuk memadamkan api agar tidak menjalar ke rumah tetangga.
Umi terus menerus berteriak, memanggil-manggil nama anak semata wayangnya sambil menatap rumahnya yang terbakar, tetapi tak ada sedikitpun sahutan dari Heidi. Pikiran Umi kacau. Pernyataan simpang siur merebak di benaknya. Ada satu kesimpulan yang melintas di kepala. Sekalipun ragu luar biasa, tapi rasanya tak ada pilihan lagi. Ia memiliki intuisi kalau Heidi masih berada di dalam rumah. Maka dengan perasaan cekam, Umi bergegas memperaktekkan ide tersebut; Ia masuk ke dalam rumahnya yang masih terbakar hanya untuk menjemput Heidi. Ia tak berpikir resiko yang ditanggung. Warga terlambat menghentikan tindakannya. Bahkan untuk menyusulnya saja tak mampu karena kobaran api semakin besar; Memangsa pintu, memangsa jendela-jendela, memangsa semua bahan rumahnya yang kebanyakan dari kayu jati. Tak mungkin warga dapat melewati gemertuk kayu yang terdengar nyaring dimakan api. Api di mana-mana. Umi terkurung di dalam sana.
***
Sementara itu, Abah membuka matanya perlahan. Sudah lima jam dia terlelap di dalam bus. Kota yang akan diinjaknya semakin dekat. Perasaan rindu kepada istri dan anaknya semakin menggebu-gebu. Ingin sekali merasakan berbuka puasa dengan mereka. Abah tersenyum, namun hanya tersenyum sejenak. Karena tiba-tiba ada perasaan ganjil yang entah dari mana asalnya. Seperti perasaan haru biru yang mendesak-desak di dada. Abah tak bisa menafsirkan perasaan itu. Hanya berusaha menenteramkan diri dengan pikiran sekena-kenanya, sambil tak hentinya menggumam, “Umi, Heidi, hari ini Abah pulang.”
  
Tegal, 3 Agustus 2013




Cerpen ini telah dimuat di perempuan.com

Maulana Setiadi

Terobsesi masuk surga.

1 comment:

N. Firmansyah said...

Bisa nih jadi judul sinetron pagi di Indosiar atau MNC TV.