Pages

Makassar dan Cinta Indonesia





Berkunjung ke Makassar adalah sebuah euforia bagi saya. Harapan sejak tahun 2014 akhirnya terwujud di tahun sekarang. Awal Juni 2015 kemarin, kedua kaki saya menginjak kota Daeng itu dan membawa banyak cerita sekaligus pelajaran.
Jadi jika Makassar adalah kata sifat, saya akan menyebutnya sebagai keramahan. Sebab hampir semua masyarakat Makassar yang saya temui ramah. Suasana baru bagi saya yang sering bertemu dengan sikap masyarakat Tegal, sangatlah kontras dengan masyarakat Makassar. Orang-orang Tegal memang ramah, tapi jika sudah saling mengenal. Berbeda dengan orang-orang Makassar. Selama di Makassar saya menyempatkan waktu berjalan-jalan sendiri di berbagai daerah, bertemu dan membaur dengan orang-orang yang pertama kali saya temui. Dan yang saya dapatkan adalah, mereka sangat welcome sehingga kami memiliki banyak percakapan. Mereka bertanya dengan sopan dan ramah mengenai tujuan saya ke Makassar hingga kesan terhadap Makassar.

Kata orang-orang Jawa yang saya kenal, orang-orang Indonesia Timur seperti Makassar itu kasar-kasar. Mulai dari gaya bicara hingga sikap. Banyak juga yang mengatakan kalau orang Jawa seringkali dibodohi oleh orang Makassar. Awalnya saya percaya saja, melihat berbagai media yang menyiarkan berita kekerasan di Makassar, seperti begal dan tawuran. Tetapi selama saya di Makassar, justru Makassar sendirilah yang mematahkan kesimpulan semacam itu. Akhirnya sirna sudah rasa takut saya akan hal-hal menyimpang.
Dari situlah saya merasa masyarakat Makassar memiliki sikap saling menghargai terhadap masyarakat asing. Dan menurut saya itu wujud nasionalisme yang akan terus melekat. Pada akhirnya saya bersikap ramah juga. Saya sampai memiliki keinginan untuk terus menyatu, membaur dengan berbagai orang yang saya temui, tanpa perlu memandang ras atau suku, dan keinginan itu terwujud dengan mulus.
Keramahan yang saya dapatkan juga bukan dari masyarakatnya saja, melainkan dari makanan khasnya, seperti Coto yang dagingnya enak dan lembut dengan kuah yang ramah rempah-rempah, serta Pallu Basa yang jerohan sapinya sangat lezat. Tak lupa juga menikmati cemilan lokal yang bernama Pisang Epek. Bahannya dari pisang mentah lalu dibakar. Tersedia berbagai varian mulai dari coklat hingga keju atau coklat keju. Itu semua kuliner Indonesia, di mana lidah kita akan ramah untuk menyantapnya.
Coto Maros

Pallu Basa Serigala

Pisang Epek

Tak lupa juga saya berkunjung ke Pantai Losari. Menikmati laut dan halaman pantai yang begitu luas, berhadapan dengan rumah adat Toraja yang terbentuk dari batu hitam. Saat berbalik dari hadapan batu rumah Toraja itu, saya melihat arsitektur indah pada Masjid Terapung. Bagaimana masjid tersebut dibangun di atas permukaan air. Lalu saya berkunjung ke Makassart Art Gallery, sebuah bangunan berisi lima ruangan yang dipenuhi lukisan keren karya seniman-seniman Makassar. Di pelantaran anjungan pantai terdapat beberapa pelukis yang menjajalkan jati dirinya melalui lukisan. Mereka melukis siapapun yang ingin dilukis. Adapun para pedagang gelang yang bersebelahan di anjungan tersebut. Semua gelang yang mereka jual adalah gelang khas Indonesia dari bahan kayu dan benang woll.
Pantai Losari


di Pantai Losari
Rumah Adat Toraja di Pantai Losari

Makassar Art Gallery

Makassar Art Gallery
Makassar Art Gallery
Makassar Art Gallery
Masjid Terapung

Itulah kemeriahan Pantai Losari. Semuanya berhubungan dengan seni dan budaya yang seolah senang bercengkerama dengan saya. Pada dasarnya juga saya menyukai suasana kota dan pantai. Dan melihat Pantai Losari yang letaknya berada di kota Makassar, itu menjadi perpaduan kebahagiaan yang saya rasakan. Betapa puasnya saya menikmati suasana sore dan malam di daerah Indonesia Timur yang satu ini. Orang-orang berlalu lalang membuat suasana di sekitar pantai selalu hidup. Sangat ramai dan damai.
***
ID Card MIWF 2015



Perkenalan saya pada Makassar International Writers Festival 2015 (MIWF2015) juga tak kalah menariknya. Berkontribusi di acara festival literasi bertaraf internasional adalah pengalaman pertama. Saya menjadi volunteer di acara yang sangat menyanangkan dan hangat itu. Bagaimana tidak menyenangkan? Bayangkan saja, beragam budaya Sulawesi disuguhkan di setiap malam selama empat hari berturut-turut. Program acara itu disebut malam ceremony. Mulai dari tarian empat etnis (Makassar, Toraja, Mandar, dan Bugis), alat musik daerah, lagu daerah, pembacaan puisi dan teater lokalitas. Semuanya dengan konsep Sulawesi, mulai dari pakaian adat hingga bahasa daerah yang dipergunakan saat pertunjukan. Pertunjukkan Terater I Lagaligo juga hangat sekali. Senang rasanya bisa mengenal seni budaya kuno milik bangsa kita melalui pertunjukkan Teater I Lagaligo.

Tarian 4 Etnis (Makassar, Toraja, Mandar, & Bugis)

Teater I Lagaligo




Saya turut bahagia menikmati berbagai budaya Sulawesi yang sangat menarik di MIWF 2015. Sangat menjadikan sarana untuk memperluas cakrawala saya mengenai pengetahuan seni. Meskipun pikiran dan badan saya terasa lelah selama menjadi volunteer, tetapi itu tak ada apa-apanya bila dibandingkan dengan kepuasan yang saya dapat melalui suguhan budaya di malam ceremony.
Interaksi sesama volunteer juga berjalan secara komunikatif. Nyaris semua volunteer yang saya temui ramah. Banyak candaan khas Makassar saat kami bekerja, sehingga membuat pekerjaan menjadi ringan. Candaan khas Makassar yang saya maksud seperti saat kami berbincang, mereka tak sepenuhnya menggunakan bahasa Indonesia, tetapi juga menyematkan bahasa Makassar. Sampai saya jadi penasaran dan ingin juga menggunakan bahasa Makassar sebisa saya. Sejak itulah, saya baru merasa bahwa Indonesia memiliki beragam bahasa daerah yang jika dipelajari pasti menyenangkan.
Nampaknya semesta memiliki pemikiran yang sama dengan saya, sehingga apa yang saya harapkan selama di Makassar nyaris terwujud. Meskipun sebetulnya Makassar terbilang kota asing bagi saya karena datang ke Makassar adalah pengalaman pertama saya. Namun, mereka, masyarakat Makassar, melalui trasfer interaksi di setiap sikap yang ditunjukan, menjadikan saya tidak ragu dan lebih terbuka untuk berbicara.
Inilah sebuah daerah yang dianugerahi oleh banyak budaya dan ragam adat istiadat. Bahkan bule-bule yang berkunjung ke Makassar juga beranggapan demikian. Di acara MIWF 2015 kemarin, sang Founder MIWF, Ibu Lily Yulianti Farid, mengumumkan orang-orang luar negeri yang berasal dari 11 negara mendapatkan beasiswa tiga bulan untuk belajar seni budaya Sulawesi. Beasiswa tersebut dari Indonesian Arts and Culture Scholarship (IACS).
Suatu kebahagiaan bagi saya melihat orang-orang luar negeri yang mau serius belajar budaya Sulawesi, budaya Indonesia. Artinya mereka mempunyai anggapan bahwa budaya Indonesia memiliki nilai atau pesan moral yang mempengaruhi tata cara kehidupan mereka.
Terkait dengan kedatangan saya ke Makassar—bahkan saat menceritakan tentang perjalanan ini—membuat saya semakin mencintai Indonesia. Kalaupun ada uang, saya belum memiliki gairah untuk berjalan-jalan ke luar negeri. Masih penasaran dengan daerah Indonesia lainnya yang kaya budaya dan adat istiadat.



Bersama Semua volunteer dan Pengisi Acara (Photo by revi.us)


Maulana Setiadi

Terobsesi masuk surga.

8 comments:

Ninedharz Pm said...

You da real mvp

cikie wahab said...

Makin banyak tempat yang dijejaki makin banyak pula ilmu yang menanti.

Maulana Setiadi said...

Semoga bisa kaya akan ilmu seni budaya seperti kak cikie. 😊😊😊😊

irman zeze said...

Saling membantu hal diharapkan seseorang dapat kehidupan ini..sekarang pun ada komunitas yang saling membantu dalam adanya terciptaan sebuah system yang sangat bagus.
klik Link: http://mmmglobal.org/?i=kozi.as90@gmail.com

Vy said...

Whooooaaaaa, Lanaaaaa. Kamu mesti tanggung jawab. Tulisanmu bikin aku pengen kabur ke Makassar. hahaha

Maulana Setiadi said...

Hahaha malah promo... 😆😆😆

Maulana Setiadi said...

Tenang, kak Vy. Kita bisa ke sana secepatnya. 😄😄😄

N. Firmansyah said...

Keren ya, foto-fotonya...