Pages

Voucher Buku Gratis Gramedia Online untuk Mahasiswa yang Berduka

Duka mahasiswa itu banyak. Tak perlu dijelaskan pun yang mahasiswa atau bukan pasti sudah tahu. Saya sendiri pernah merasakan. Betapa kejam ruang lingkup kampus yang disebabkan bukan oleh saya, melainkan oleh orang lain yang terhubung dengan kampus.
Saat menjadi mahasiswa yang senantiasa menggunakan nalar, saya seringkali sadar mana kesalahan yang saya buat sendiri dan mana yang bukan sehingga saya tahu, jenis-jenis duka apa saja yang patut saya sesalkan dan patut saya amarahkan.
Bicara perihal duka, ada sebuah duka cukup menganga bagi saya yang telah menimbulkan efek buruk berkepanjangan, yaitu ketika dosen tidak menjalankan kewajiban mengajar. Para mahasiswa di kampus yang belum bonafide, barangkali yang sudah bonafide sekalipun, pasti sering menemui dosen-dosen yang absen mengajar.
Seringkali mahasiswa tidak tahu alasan apa yang membuat dosen absen. Mungkinkah urusan keluarga, atau kesenangan semata? Entahlah, saat itu peran saya sebagai mahasiswa hanya mengekspresikan kata “Oh” lalu mengangguk maklum bila mengetahui dosen absen mengajar.
Namun sayangnya, kata “Oh” hanya penerapan sesaat. Selebihnya berubah menjadi “oh oh oh” yang berlipat-lipat dengan ekspresi kening berkerut. Karena ada saja cara yang dilakukan dosen untuk menggantikan ketidakhadirannya, seperti dengan memberi tugas yang membuat saya berserta mahasiswa lainnya semakin mengheningkan duka.
Yang dukanya menyayat itu mahasiswa yang jarak dari tempat tinggal ke kampus jauh. Meskipun saya bukan termasuk mahasiswa jauh, tapi saya bisa merasakan betapa melasnya mereka yang tempat tinggalnya jauh. Sudah berusaha datang ke kampus tepat waktu, namun dosen absen. Terlebih ketika semalam mengingat kalau dosen tersebut sudah memberi tugas rumit kepada mahasiswa yang membuat mahasiswa harus begadang, tanpa adanya teh panas dan pisang goreng beserta Soffell. Lalu keesokan harinya, mahasiswa harus menerima fakta bahwa dosen yang ditunggu ternyata absen mengajar. Ia lalu memberi jejak absennya melalui tugas baru yang diberikan kepada mahasiswa. Apakah duka semacam ini akibat ulah mahasiswa? Kalaupun iya, enak betul ya jadi dosen?
Tapi tetap saja, bagi saya hal tersebut adalah kesalahan dosen. Tak bisa dibiarkan! Maka selayaknya kampus harus bersikap tegas. Pun sebagai dosen yang notabene menjadi momok bagi mahasiswa, harus mengakui kesalahan dan mempertanggungjawabkan secara rasional.
Jadi, berhubung saya pernah menjadi mahasiswa korban dari dosen seperti itu, bagaimana kalau saya menyarankan agar dosen membagikan voucher gratis belanja buku di Gramedia Online kepada para mahasiswa yang telah menjadi korban ketidakhadirannya?
Lho iya, dong! Sekarang begini, penerapan yang diajarkan dosen kepada mahasiswa kan berdasarkan buku yang dibacanya juga, dan bisa jadi, buku-bukunya dibeli dari toko buku besar macam Gramedia. Maka membagikan voucher gratis buku di Gramedia Online untuk mahasiswa sangat rasional. Daripada memberi voucher makan, hayoo? Kan tidak ada unsur sinambungnya, manfaatnya juga tidak begitu besar. Kalau voucher buku pasti bermanfaat sekali.
Jadi, bisa diartikan kalau buku-buku di Gramedia sebagai pengganti ilmu yang tidak bisa berikan oleh dosen. Cukuplah voucher Gramedia Online senilai 50 ribu rupiah saja per mahasiswa.
Lalu kenapa harus voucher online? Kenapa bukan voucher yang fisik saja? Ya suka-suka, dong! Memangnya kenapa? Masalah? Mahasiswa sekarang kan canggih, sudah punya gadget mahal. Mereka kalau melakukan transaksi apapun kebanyakan melalui online. Jadi voucher online semudah membalikkan telapak tangan gajah bila diterapkan. Lagian, Gramedia Online kan gratis ongkir. Kesukaan mahasiswa, kan? Sudah pakai voucher, gratis ongkir pula. Lahh, enak betul jadi mahasiswa!
Tapi maaf-maaf saja. Dulu, saya bukanlah golongan mahasiswa yang melebarkan sayap untuk kegiatan nongkrong ketika dosen absen. Saya golongan mahasiswa yang kalau tahu dosen absen pasti akan menyendiri, lalu menangis di pojok kelas. Maka inilah alasan saya melampiasakan duka ke blog ini, blog kesukaan saya yang penuh perasaan terpojokan.
Mungkin secara langsung dan tanpa saya sadari, saya pilih berhenti kuliah karena sikap dosen semacam itu. Singkat cerita, dulu saya rajin sekali dengan mata kuliah A. (Maaf, dikarenakan trauma mendalam yang akhirnya menyebabkan pobhia pada nama mata kuliahnya, maka dengan berat hati saya menyamarkan nama mata kuliahnya, meskipun saat menulis ini hati saya terkikis.)
Tapi, karena saat itu sudah terlanjur menikmati mata kuliah A, dosennya juga menarik, maka sejak saat itu saya meniatkan diri agar tidak absen di mata kuliah tersebut selama kuliah.
Meskipun banyak tugas yang diberi oleh sang dosen dan sebetulnya tugas tersebut sudah dikategorikan ke dalam duka mahasiswa. Namun, layaknya anak muda, membelikan gebetan martabak topping toblerone yang harganya menjuntai ke langit pun akan tetap dilakukan jika atas dasar cinta.
Di saat proses menikmati mata kuliah A, saya menungu dosen tersebut dengan antusias. Di hati seperti ada karnaval yang sedang menyambut perayaan istimewa. Tetapi, dengan sendirinya karnaval tersebut terganti oleh suara terompet sangkakala. Ya, sang dosen dinyatakan absen mengajar. Betapa saat itu harapan saya seketika punah. Hati yang tadinya berawan cerah berubah jadi mendung. Rasa-rasanya tak ingin lagi mengharapkan kebahagiaan yang bersumber dari sang dosen. Saya patah arang untuk kuliah. Merasa tak berguna menjadi mahasiswa. Saya—terbengkalai. Dan barulah sekarang sadar, ternyata peristiwa dosen absen bisa menyebabkan efek buruk yang berkepanjangan. Astagaaa!
Sekarang kembali ke saran saya mengenai voucher buku gratis Gramedia Online. Saran tersebut atas dasar pemahaman saya pada sosok dosen, yaitu “Di balik seorang dosen, terdapat buku-buku tebal.”
Nah, pemahaman itulah yang sekiranya voucher buku gratis agar diterapkan oleh kampus manapun. Karena bisa menimbulkan efek jera bagi dosen-dosen seperti itu. Sementara dosen selalu tega kok memberi berbagai sanksi kepada mahasiswa yang absen di mata kuliahnya. Ketika dosen absen mengajar, apakah mahasiswa akan memberi sanksi, misalnya tidak perbolehkan masuk untuk mengajar? Oh tidak, mahasiswa tak pernah mungkin bersikap demikian!
Kenyataannya memang sistem pendidikan itu kejam kok! Wong PNS yang ketahuan berkeliaran di Mall saat jam mengajar saja akan diberi sanksi, kenapa dosen tidak? Tapi karena saya baik hati (atau memang tidak tahu soal hukum) maka saya menyarankan kampus untuk memberi sanksi voucher buku gratis di Gramedia Online saja kepada dosen absen.
Kampus harus bersikap tegas untuk mengatakan terang-terangan mengenai voucher ini kepada dosen. Dan supaya dosen-dosen absen itu tidak mengulangi atau melalaikan sanksi, pihak akademik bisa menerapkan ingatan melalui kertas HVS yang bertuliskan kutipan,
“ABSEN MENGAJAR TAK APA. MENGELUARKAN VOUCHER BUKU GRAMEDIA ONLINE SECARA BERKELIPATAN ADALAH PETAKA.”
Kertas horor tersebut ditempelkan di setiap kaca kampus. Bila perlu kampus membuat spanduk dengan kutipan tersebut, lalu diletakkan di depan pintu masuk kampus. Jika tindakan itu menuai respon positif dari banyak pihak, maka bisa jadi pemerintah kota atau daerah akan mendukung, dengan cara ikut menerapkan sanksi voucher buku Gramedia Online kepada pegawai Pemkot atau Pemda. Hal ini bisa berpotensi untuk semua masyarakat Indonesia juga loh, demi kedisiplinan.
Dari sini kita tahu gambarannya, kan? Ketidakhadiran dosen adalah peritiwa simple tapi menimbulkan petaka complicated. Namun, kehadiran dosen bagi mahasiswa adalah sesuatu baik yang complicated tapi dilakukan secara simple. Maka betul juga filosofi Tibet kuno, “Jangan mulai apa-apa dan tidak akan ada apa-apa!”
Haduhhh, Eva Celia Latjuba cantik bingitttt~

(Foto Utama: cnbc.com) 

Maulana Setiadi

Terobsesi masuk surga.

No comments: