Pages

[Review Sikap Teman] Ipeh Alena dan Fotografi yang Penuh Perasaan






Demi jatukrama semesta dan naga laut nusantara, saya memohon maaf sebesar-besarnya kepada blog saya karena selama ini nggak nulis.


Huftttt, terakhir ngeblog bulan Maret kemarin. Maklum lah, saya cukup sibuk di urusan duniawi, salah satunya sibuk ngapalin lirik lagu-lagu jazz Indonesia dan barat. Jangan lupa untuk download lagunya Idang Rasjidi dan Nikki Yanofsky ya!
Wahai, saudara-saudara sebangsaku dan setanah air. Tak usah kau ketahui karena tak penting juga bagimu meskipun sangat penting bagiku kalau kemarin salah satu guru besar saya, yaitu Ipeh Alena, memberi dorongan pada saya untuk ngeblog lagi.
Karena sangat disayangkan jika literasi dan kreativitas dihentikan dengan alasan sibuk ini-itu, katanya, dan sejauh ini, Ipeh Alena bisa membuktikan produktivitasnya dalam ngeblog.
Padahal nih ya, kesibukan di kesehariannya cukup membuat saya tak henti-hentinya berdecak kagum loh! Beliau pokoknya sibuk banget, baik secara offline maupun online. Sampai-sampai saya menyimpulkan, kalau kesibukan Ipeh Alena sangat bisa dijadikan panutan kepada generasi muda yang daya juangnya kecil.
Wahai, anak-anak muda, jika pikiranmu merasa buntu atau stuck, mohon untuk menengok ke arah hidup Ipeh Alena. Karena ke manapun ia melaju, ngos-ngosan tak pernah menyertai.

Oke, mari kita bahas salah satu saja kegiatan Ipeh Alena, yaitu NGEBLOG.

Saya ingat sekali, dulu ia pernah ngomong ke saya, bahwa baginya menulis adalah terapi. Terapi apa ya embuh, tapi saat itu saya sudah sanggup menafsirkan bahwa alasan tersebut punya makna serius.
Saking seriusnya, hingga sekarang ia masih menulis di blog secara terjadwal, bahkan bisa dibilang setiap hari ngeblog (karena sering dapat pesanan tulisan sana-sini) (blognya juga banyak) (salah satunya blog khusus affiliate) (yang ini jarang ada yang tau) (cuman saya doang) (kayaknya). Hihihi
Melihat fakta ini, nggak heran juga sih Ipeh Alena mendapatkan banyak manfaat dari kegiatan ngeblog. Seperti yang baru-baru ini, yaitu dapat job mengajar kelas fotografi di SD. Itu kan menyenangkan sekali! Dikelilingi anak-anak lucu yang sedang belajar merekam aktivitas apapun yang ada di sekitar melalui karya foto.
Mengajar fotografi bagi Ipeh Alena adalah salah satu dunianya, passion kalau orang-orang kekinian menyebutnya.
Karena sangat jelas fotogarafi adalah seni, Ipeh Alena sejak orok sudah menyukai seni. Lalu fotografi sangat lekat dengan keindahan ciptaan Tuhan. Perlu skill menguasai PERASAAN YANG SANGAT MENDALAM untuk mengajar fotografi. Apalagi untuk urusan PERASAAN, uuuuh, Ipeh Alena jangan ditanya. Beliau cukup mahir kok dalam menyikapi perasaan.
Yang perlu diketahui lagi, mengajar di kelas fotografi adalah keinginan Ipeh Alena yang sudah terpendam sejak tahun 2013. Kenapa saya tau? Apa pasalnya? Ya sudah jelas karena kami berdua akrab sekali, melekat dan selalu nempel bagai pinang yang tak terbelah-belah.
Namun terlepas dari itu, alasan Ipeh Alena ngidam ngajar di kelas fotografi yaitu karena tahun 2013 adalah tahun penuh perasaan. Di tahun 2013 lah, Ipeh Alena sangat hati-hati dalam mengamati tindak-tanduk perasaannya. Tahun 2013 menjadi penuh perasaan baginya dalam mengharapkan kelas fotografi. Saking mengharapkannya, akhirnya pikiran Ipeh Alena nggalambyar ke mana-mana. Nggak fokus dan merasa pesimis, sampai-sampai memvonis dirinya sendiri bahwa tak ada kesempatan lagi untuk mengajar di kelas fotografi, semuanya sudah terlambat! Bayangkan, semua sudah terlambat katanya.
Buktinya ada kok melalui sebuah Tweet yang ia buat di bulan Nopember tahun 2013 pada pukul 7 malam lewat 6 menit tepat di detik 31. Tweet di bawah ini nih,,,

DORRR!
DORRR!
DORRR!
Penuh perasaan nggak tuh Tweet-nya?
Eits! Tolong teman-teman yang menyimak gambar tersebut jangan punya syak wasangka yang tidak-tidak ya! Karena itu memang jelas Tweet yang berhubungan dengan perasaannya pada kelas fotografi. Semua kalimat itu sudah dikemas dalam bentuk kiasan.
Ngana pikir Ipeh Alena orang yang polos dalam membuat kalimat? Ya enggak lah! Dia kan handal sekali dalam merangkai kata untuk dijadikan kiasan, salah satunya kiasan pada Tweet di atas.
Jadi, kata “menikah” pada Tweet tersebut memiliki arti sebenar-benarnya, yaitu “fotografi”. Ya, Menikah adalah Fotografi. Dan dalam sebuah permainan kiasan, kata Fotografi memang bisa berubah menjadi kata Menikah. Nggak nyangka kan? Hebat kan? Ya ini lah kehebatan dari kiasan. Meskipun sangat terlampau jauh ya antara arti menikah dangan arti fotografi, seolah maksa banget gitu. Tapi mau bagaimana lagi? Seni kiasan itu sangat panjang untuk diungkap maknanya.
Tapi bersyukurlah karena kenyataannya Tweet tersebut salah! Maksudnya, Ipeh Alena salah menduga bahwa di dunia ini tidak ada kata terlambat. Lihatlah sekarang! Ia benar-benar mengajar di kelas fotografi. Semua history perasaan yang tercipta sejak tahun 2013, sekarang benar-benar terwujud tanpa pandang bulu.

Dan oh iya, kepada Ipeh Alena, sengaja saya buat tulisan ini dimaksudkan sekalian saya ingin mengucapkan selamat sekaligus berterima kasih kepadamu karena bisa memberi arahan berguna kepada anak-anak kecil. Semoga dengan didikan yang kamu berikan di kelas fotografi, mereka bisa selalu peka akan keindahan bumi ini sehingga mereka tak pernah lupa untuk mengkonsumsi rasa syukur.


Mong-ngomong nih, Tweet tahun 2013 itu sebetulnya buat siapa sih, peh? Hihihi~





P.S
Tulisan ini memang sebelumnya tidak memiliki ijin kepada pihak yang terkait. Tapi saya ingat pada sebuah percakapan dengan seseorang di WhatsApp. Katanya, yang penting nulis aja dulu. Seseorang itu adalah Ipeh Alena.

Maulana Setiadi

Terobsesi masuk surga.

3 comments:

Ipeh Alena said...

Hahahahasem.....ini apah, hah. Elu mah gitu beud ama gue, Na. Itu twit kapan....pfftt...tapi seinget gue itu gara2 kegalauan gue terkait artis idola


* lari lari gandeng Chaning Tatum *

Maulana Setiadi said...

tapi owe nggak begitu yakin :(

Kanianingsih said...

Jadi blognya mba ipeh banyak ya, taunya cuma ipehalena.com dan bacaanipeh