Pages

Mari Perlihatkan Kalau Kita Adalah Kaum Minoritas yang Bahagia!


Kalau kamu nggak mau disebut minoritas ya nggak apa-apa. Kalau saya sih jelas minoritas, tapi sampai sekarang saya baik-baik aja, bahagia kok. Terobsesi masuk surga masa nggak bahagia~
Jadi begini. Sepanjang kaki saya melangkah demi tujuan bergaul dengan banyak manusia, saya sering merasakan kalau saya adalah bagian dari minoritas. Perkaranya apa? Karena perbedaan! Yooi, saya sering menemui banyak perbedaan dengan teman-teman saya.

Minoritas yang sering saya temui di antaranya perbedaan hobi.
Salah satunya sepak bola. Kebanyakan teman-teman saya yang laki-laki punya hobi bermain sepak bola, sementara saya enggak. Jadi ketika ngumpul dengan mereka, maka bisa dipastikan saya akan bengong, terlongong-longong, dan pastinya merasa menjadi minoritas. Karena wajah saya pasti akan disingkirkan dari pandangan mereka. Ini serius. Untung ada hape yang bisa mengalihkan suasana semacam itu. Jadi perasaan minoritas ini hanya berkelebat sebentar aja.
Bukan hanya pembicaraan seputar bola aja sih. Tetapi juga seputar otomotiv!
Jujur, saya nggak tertarik sama sekali kita berada di tengah-tengah obrolan seputar otomotiv. Tapi saya bisa apa? Eits, masih bisa diatasi kok. Alhamdulillah khusus untuk pembicaraan satu ini saya selalu ada akal untuk menyikapi. Nanti saya mau bikin tulisan deh tentang “supaya kita terlihat paham padahal enggak saat terjebak pembicaraan seputar otomotiv.”
Meskipun saya sering berhasil menyikapi pembicaraan otomotiv, namun jujur, jauh dari lubuk hati paling dalam, kalau saya merasa minoritas ketika berada di perbincangan otomotiv. Tapi,,,,, tunggu dulu deh,,, baca aja dulu sampai selesai. :)

Minoritas berikutnya adalah perbedaan selera musik.
Ah, perbedaan ini nih yang sejujurnya agak berasa sakit di hati. Sering sekali musik atau lagu favorit saya dibilang nggak bagus sama teman-teman dekat saya. Saya suka lagu-lagunya Michael Jackson, musik RnB, dan jazz, tapi malah mereka akan langsung bertanya, “Itu musik apa sih?” yang tak lama kemudian disusul oleh kalimat, “Ganti-ganti!”
Serius deh. Memiliki selera musik yang berbeda dengan teman-teman dekat cukup menunjukan kalau saya adalah kaum minoritas.
Kalau boleh jujur nih. Untuk kasus perbedaan musik ini terutama ditunjukkan kepada teman-teman saya yang pernah saya ceritakan di postingan yang berjudul Mengenang Gempa Kaliwadas di 22 Maret 2015 Sebelum Jam 12 Malam.
Kampret tuh mereka! Secara nih ya, bertahun-tahun kami kerja bareng di tempat yang sama. Bisa dibilang kami adalah tim, tapi mereka nggak pernah mengatakan kalau lagu-lagu favorit saya itu enak didengar. Ya ada sih, satu-dua lagu. Selebihnya, mereka lebih menyarankan untuk mengganti musik kesukaan mereka.
Biarin aja mereka dikampret-kampretin di sini. Paling juga mereka nggak bakal baca kok. Saya bisa jamin. Kalaupun baca ya tinggal saya nyengir aja ketika ketemu. Tapi anggaplah mereka nggak baca, maka melalui tulisan ini, ijinkan saya bersikap kasar dengan menerbitkan kalimat, “HEI, KALIAN! BERTAHUN-TAHUN KITA ADALAH TIM, TAPI SAYA BENCI SAMA KALIAN DALAM SELERA MUSIK!”
Lumayan cukup lega lah... Selebihnya doakan saya ya supaya suatu saat bisa ngomong langsung ke mereka.

Namun sebetulnya, mari kita ketahui bersama, kalau minoritas di sini hanya karena perbedaan minat aja. Lagian kalau dipikir, perbedaan kan sudah biasa ya? Kita nggak mungkin bisa menyamai apa yang ada di diri kita dengan orang yang kita temui. Malah susah sekali loh menyamai atau memaksakan diri dengan seseorang, yang artinya JADI MINORITAS ITU SUSAH. Soalnya kasihan diri sendiri kalau dipaksa untuk menyukai sesuatu yang sebetulnya tidak disukai.
Maka dari itu, berbahagialah jika kita merasa menjadi minoritas. Karena tanpa kita sadari, kita akan selalu bersikap apa adanya. Saya juga bahagia aja kok dengan perbedaan-perbedaan di atas. Santai aja. Seolah nggak ada apa-apa. Cuman masalah musik itu doang sih sebenarnya. Eh, tapi saya yakin lama-lama akan jadi biasa-biasa aja.

Oh iya, selamat ulang tahun ya, Michael Jackson.

Sumber foto utama: www.bu.edu

Maulana Setiadi

Terobsesi masuk surga.

2 comments:

mmmbul said...

Wah, ngena banget yang dibahas sama yang aku rasain. Jadi beda itu gak masalah sama sekali. Yang jadi masalah itu ketika sendiri yang bikin gak nyaman dengan perbedaan itu. Iya gak sih?, jadi ya nyamanin aja gitu. Toh pada akhirnya yang anti mainstream memang lebih banyak dicari daripada yang udah mainstream :D

kornelius ginting said...

Daripada ngomongin yang beda dan bisa menyebabkan perpecahan, kenapa ngga dicari sebuah kesamaan yang bisa menyatukan.

Indonesia yang berbeda-beda aja bisa satu kok. Masa sama temen sendiri ngga bisa .