Pages

Nggak Tau Mau Curhat ke Siapa...

Jojo


Sebenarnya saya masih menjadi orang yang malas ketika apa-apa harus ditulis di blog. Seperti menceritakan ide yang menurut saya menarik, pengalaman berkesan, atau malah curhat.
Intinya sih hasrat menulis di blog hanya terjadi sewaktu-waktu. Seperti kali ini. Ada hasrat kuat untuk menulis, semacam refleksi atau sejenisnya. Tapi nggak tahu harus mulai dari mana.
Yang jelas refleksi menulis ini terjadi semenjak kemarin menyaksikan edisi horor Kompas TV yang mengungkapkan tentang penyiksaan anjing yang dijadikan masakan.
Hewan yang dikenal setia dan cerdas ini dijadikan daftar kuliner di berbagai warung masakan anjing di Solo.
Berikut video bagian pertama,


Mungkin di Indonesia ini bukanlah tindakan yang tabu. Melihat warung-warung ini sampai sekarang masih beroperasi di berbagai daerah Indonesia, seperti Jakarta, Bandung, Solo, Jogja, Bali, Medan, hingga Manado.
Dulu teman saya yang berasal dari Manado juga mengatakan begitu. Di Manado banyak warung masakan daging anjing atau biasa disebut Warung RW.
Mungkin bagi penjagal di Manado ketika melihat berita ini akan menyampaikan kalimat, “So biasa itu. So nda mo heran!”
Mungkin loh ya..
Dan malas sekali rasanya jika saya menjelaskan sajian masakannya apa saja. Mau ditongseng kek, dirica-rica kek, dibikin sambal goreng kek. Mengetahui fakta dari Kompas TV aja bikin saya terus-terusan mengumpatkan kekesalan kepada para pemasok anjing ini.
Gimana nggak kesal coba? Di video tersebut dijelaskan kalau sekali pengiriman anjing dari Jawa Barat ke berbagai daerah bisa dalam jumlah satu truk.
Dan kamu tau satu truk bisa muat berapa anjing?
MINIMAL 500 ANJING. Kalau ramai bisa mencapai 800 anjing. Dan ini bukanlah jumlah yang sedikit.
Rasa-rasanya saya juga ingin mengumpatkan kata-kata kotor sebanyak 800 kata kepada para pemasok. Atau setidaknya minimal 500 kata kotor deh, disamakan dengan minimalnya anjing yang dihasilkan mereka.
Yang lebih menyedihkan adalah, para pemasok mendapatkan anjing bukan dari hasil tangkapan anjing liar aja, tapi juga hasil curian dari rumah orang.
Bukan cuman itu. Mereka memperlakukan anjing dengan cara nggak lazim. Jadi ketika anjing berhasil dipancing, mulut dan kakinya akan diikat erat, dibungkus menggunakan karung, setelah itu dimasukkan ke dalam truk dengan cara dilempar tanpa ampun.
Ya betul, tanpa ampun! Karena mereka nggak punya waktu sedikitpun untuk membuka pintu truk dan meletekkan anjing ke dalam dengan pelan-pelan. Tapi malah dilempar.
Oh, anjing. Malang sekali nasib kalian...

Dalam pengakuan si penjagal yang superior ini, anjing-anjing ini akan melalui proses yang sangat kejam saat menjumpai kematiannya. Yaitu si penjagal akan memukul kepala anjing berbakali-kali sampai pingsan.
Dan mencegah terjadinya siuman, para penjagal akan buru-buru menyuruh karyawannya untuk memotong anjing-anjing malang ini dan menyulapnya menjadi daging yang siap dimasak.
Tapi, setidaknya si penjagal punya belas kasihan kok. Karena menurut pengakuannya, anjing-anjing ini memang harus segera dipotong dalam kondisi pingsan. Karena kasihan karyawannya kalau tiba-tiba anjingnya siuman. Para karyawan bisa digigit.
Benar kan si penjagal punya rasa kasihan? Tapi sama karyawan yang memukul anjing-anjing ini.
Berikut videonya bagian 2,


Menurut Kompas TV, di Solo ternyata ada sekitar 100 warung yang menyediakan masakan anjing. Salah satu warung yang biasa disebut warung guguk ini, membutuhkan 3 atau 4 anjing dalam sehari. Artinya dalam satu hari, 100 warung ini membutuhkan 300 atau 400 anjing. Satu minggu bisa sampai 2.100 atau 2.800 anjing. Satu bulan bisa 8.400 atau 11.200.
Itu pun kalau hari Minggu warungnya libur. Kalau warungnya buka, jumlah anjingnya tambah banyak dong.
Melihat perhitungan di atas, kamu mau nggak menghitung berapa jumlah anjing yang dibantai dalam setahun? 
Dan itu hanya di Solo aja loh. Sudah berapa tahun ya warung-warung ini berdiri? Hmmm...
Berikut video bagian 3,


Mengetahui banyaknya jumlah anjing yang menjadi korban, itu menjadi kesedihan besar yang mengejutkan saya. Bagaimana para pedagang membantai anjing-anjing ini adalah di luar pemahaman. Seperti apa perasaan anjing-anjing ini, itu juga bukan pertanyaan.
Yang menjadi pertanyaan malah tentang para pemakan anjing. Sebegitu kurangnyakah stok daging sampai akhirnya anjing masuk ke daftar kuliner?
Undang-undang juga sudah menjelaskan kalau anjing bukan termasuk binatang ternak potong, artinya anjing tidak boleh dikonsumsi.
Barangkali dengan adanya bisnis anjing, mereka, para pemasok, jadi merasa makmur. Tapi bagaimana mereka bisa menyebutkan kemakmuran atas kebodohan ini?
Kasus kekerasan pada hewan terjadi bukan hanya di Indonesia. Di berbagai negara lain juga masih terjadi sampai sekarang.
Ada banyak video yang merekam kekerasan yang terjadi di rumah jagal. Banyak sekali! Saking banyaknya saya sampai ragu ketika hendak membuka video hewan di instagram. Takut kalau video tersebut adalah rekaman kekerasan.
Karena beberapa kali saya menonton, mendadak saya nggak bisa napas dalam waktu sesaat. Tapi dari situ saya melihat bagaimana mereka menderita, bagaimana mereka berjuang di balik kesakitan, berjuang menghirup udara segar lagi. Dan bukannya udara segar yang didapat, justru malah udara yang tercampur aroma bakar. Karena nggak sedikit rekaman hewan yang dibakar menggunakan sengatan listrik dalam kondisi anjing masih hidup. Dan itu terjadi di rumah jagal.
Kalau di luar negeri, peristiwa ini dinamakan Animal Holocaust atau apalah semacamnya. Ini terjadi di rumah produksi daging hewan yang membunuh hewannya dengan cara dibantai.

Anjing adalah teman, bukan makanan. Atau kalau merasa anjing binatang najis sehingga nggak memungkinkan untuk dijadikan teman, boleh diganti kok kalau anjing adalah penjaga toko.
Anjing itu seperti kita. Mereka merasakan secara fisik dan emosional. Mereka bisa mencintai, bisa sedih, bisa bahagia, bisa putus asa, bisa bermain, bisa melawan, bisa membuat hal-hal yang tak terduga, bisa meringkuk dalam ketakutan, bisa bersikap rasional, dan memiliki ikatan batin dengan makhluk lain, salah satunya dengan manusia.
Sumpah, mereka seperti kita, ingin hidup bahagia. Seperti kita, ingin dipedulikan. Bukannya ingin mati!
Dengan setiap tenggorokan yang disayat, darah yang dibersihkan sampai tak ada sisa, setelah itu dicincang untuk siap masak. Saya merasa ini adalah sikap hilangnya rasa kemanusiaan.
Mereka lebih mengabaikan hati nurani. Memilih untuk peluang bisnis yang tidak lazim. Mengubah kehidupan hewan ke kegelapan.
2017 sebentar lagi. Saya takut jika eksploitasi dan pembunuhan binatang untuk kekenyangan dan kesenangan ini akan tambah parah. Karena bagi saya, peristiwa di Solo ini juga sudah terbilang parah.
Cobalah wahai para penjagal agar bisa frustrasi sejenak. Curhat dengan keluarga di rumah atau kerabat. Atau jika dengan cara mabuk atau mengkonsumsi obat bisa membuat kalian sadar akan kekejian ini, tak usah ragu untuk melakukannya.
Saya nggak tau apa-apa soal pemerintah. Jadi saya nggak tau harus berteriak ke siapa supaya tindakan ini bisa dihapus.
Ah, lagi-lagi ini hanya penyampaian pribadi saya yang nggak tau harus curhat ke siapa tentang anjing. Maka jika memang ada yang membaca, mohon maaf atas tulisan yang nggak mengenakan ini.
Dan di akhir tulisan, saya ingin menyampaikan kalau saya rindu sekali dengan dua anjing lucu favorit saya yang bernama Clowi dan Jojo. Entah di mana mereka sekarang. Tapi saya berharap kita bisa bermain lagi seperti dulu. Semoga kalian berdua dalam keadaan ceria dan nggak masuk ke dalam daftar kuliner ya!

Kandang Lana

Terobsesi masuk surga.

1 comment:

lusiaoktriwini.blogspot.com said...

Kadang emang udah ga ngerti lagi..
apa pun, asal jadi duit, dilakukan, meski harus mengesampingkan nurani.
Terlepas apakah anjing itu memang bukan makanan halal, tapi kan kasiannn...