Pages

Kebahagiaan MIWF 2017 dan “Kayaknya Enak nih Merantau ke Makassar”

instagram.com/makassarwriters/
Tak henti-hentinya saya ingin minta maaf kepada diri saya sendiri karena baru bisa menulis di blog ini lagi, yang mana artinya saya belum sanggup memenuhi kriteria sebagai Blogger. Sebab Blogger bagi saya yaitu yang up-to-date tulisan di blog secara terjadwal. Kalaupun nggak terjadwal juga jangka waktu ngeblognya nggak terlalu lama. Ya seenggaknya seminggu sekali update blog lah... Nggak seperti saya! Terakhir nulis di sini bulan November 2016.
Yang begini mau dikatakan sebagai Blogger? Enggak banget! Tahu diri juga, toh?
Eh, tapi lagian, sejak awal punya Blog, saya lebih memilih nulis di blog ketika punya hasrat menulis yang kuat. Seperti sekarang ini. Hasrat menulis datang karena ingin mengabadikan kebahagiaan. Jadi sebenarnya untuk apa ya saya menjelaskan definisi Blogger seperti di atas?
Hmmm...
Jadi begini, kebahagiaan bermula di tanggal 13 Mei kemarin. Di tanggal itulah saya tiba di Makassar. Orang-orang dekat saya mengira tujan saya datang ke Makassar hanya untuk salah satu festival literasi terbesar di Indonesia, yaitu MIWF 2017 atau Makassar International Festival 2017.
Padahal sih tujuan saya ke Makassar bukan cuman untuk itu. Tapi juga untuk merantau di Makassar. Namun, menunaikan festival sastra di MIWF tetaplah menjadi bagian penting dan salah satu tujuan saya datang ke Makassar.
Pasalnya, MIWF bagi saya sudah menjadi festival sastra menyenangkan dan hangat. Tahun 2015 saya menjadi volunteer MIWF 2015 dan saya ketagihan untuk bergabung kembali. Kebahagiaan sebagai volunteer MIWF 2017 sama seperti kebahagiaan yang saya dapat saat jadi volunteer MIWF 2015.
Di MIWF 2017 mengusung tema Diversity. Membahas makna Perbedaan antardaerah melalui dialog. Suasana yang disuguhkan dalam konsep taman yang dinamai KE TAMAN. Jadi orang-orang datang ke lokasi bernama Benteng Fort Rotterdam, akan merasa sedang piknik di sebuah taman. Tamannya pun bukan sekedar taman yang dipenuhi nuansa hijau, tetapi juga kental literasi. Ada Taman Sinema, Taman Rasa, dan Taman Baca.
Orang-orang piknik bisa sambil baca beragam buku apapun yang sudah disediakan, diskusi soal literasi, mengikuti talkshow, bisa mengamati penulis berkeliling atau beredar atau berkeliaran atau bergentayangan atau ber-ber apapun yang bersinonim dengan kata-kata tersebut.
Intinya, banyak penulis di setiap sudut Fort Rotterdam. Semuanya bisa kamu nikmati sambil ngemil atau ngopi. Apalagi jika menerapkan ilmu “Mumpung”, maka kamu bisa memanfaatkan foto bareng penulis favorit kamu. Mumpung ketemu, toh?
Dan nggak tanggung-tanggung, setiap malamnya, dari tanggal 17-20 Mei, MIWF 2017 menghadirkan sebuah pentas bernama Malam Ceremony seperti malam-malam MIWF sebelumnya.
Saya rasa semua bahagia karena semua kecipratan akan suguhan yang diberikan MIWF 2017. Baik volunteer maupun pengunjung. Apalagi, semua acara dinikmati secara gratis. MIWF yang menanggung para penulis, sementara para pengunjung tak perlu merogoh uang sepeser pun. Apa nggak enak?
Terbekatilah MIWF sejak awal berdiri di tahun 2011 hingga kini masih konsisten menebar virus literasi.
Kemungkinan besar kamu akan merasakan kebahagiaannya ketika membaca di postingan saya tahun lalu. Klik di sini! Atau untuk kegiatan lengkapnya beserta keseruannya, kamu bisa baca di makssarwriters.com/news dan silakan merasakan kebahagiannya.
Dan jika kamu ingin mendapat kebahagiaan ekstra yang sudah termasuk satu paket, ayolah tahun depan datang ke Makassar dan jadilah bagian dari MIWF 2018. Sebab satu paket itu berisi 3 kebahagian dan layak sekali kamu dapatkan.
Kebahagiaan pertama, kamu akan meraih pelajaran banyak dan berharga soal budaya dan sastra.
Kebahagiaan kedua, kamu akan memperoleh banyak teman yang sepemikiran denganmu.
Dan kebahagiaan ketiga tepatnya usai MIWF, kamu masih disuguhkan suasana indah MIWF yang datang ke dalam mimpi kamu selama berari-hari, atau bahkan setiap saat.
Perlu dicatat, satu paket di atas bukanlah program MIWF. Tapi ini memang akan terasa bagi para penikmat MIWF. Asal menikmatinya sungguh-sungguh, maka kemungkinan besar akan meraih paket berisi 3 kebahagiaan secara cuma-cuma alias gratis
Kalau tujuan ikut MIWF untuk sekedar eksis-eksis mah jangan harap akan meraih ketiga kebahagiaan itu. Bisa-bia kamu akan merasa hampa dan selamanya tak pernah tahu betapa kayanya seni dan budaya Indonesia.
Dan perlu diperhatikan juga pada kebahagaian ketiga, bayangan atau mimpi soal keindahan MIWF di setiap saat itu bisa berdampak terhadap keniatan kamu loh! Jadi bagi kamu yang dari luar daerah Makassar dan tadinya hanya punya niat datang ke Makassar semata-mata untuk MIWF, maka keniatan tersebut bisa melampaui batas. Kamu bisa saja langsung memutuskan diri untuk merantau ke Makassar, jadi warga Makassar, jatuh cinta dengan orang Bugis, dan silakan melanjutkan obrolan serius soal uang panai’ yang mahadahsyat itu. Hehe
Seperti saya! Saya adalah “korban” dari kebahagaian tersebut. Tapi enggak sampai punya keniatan untuk jatuh cinta dengan orang Bugis sih. (Karena sudah pesimis soal uang panai’. Hehehe)
Berkat MIWF yang saya awali di tahun 2015, saya bisa merasakan kehidupan satu minggu di Makassar. Satu minggu itulah yang membuat saya memutuskan untuk merantau ke Makassar. Ini karena saya mendapatkan 3 kebahagiaan dari paket di atas. Di sinilah kehidupan baru dimulai. Inilah kehidupan Makassar melalui kacamata seorang perantau sekelas menengah ngehek macam saya.
Sudah sebulan lebih di Makassar. Masih banyak orang-orang sini yang saya temui bertanya, mengapa pilih merantau di Makassar? Saya jawab aja, mau cari teman, dan memang iya, mau cari teman. Sesederhana itu, tanpa jawaban komprehensif sampai-sampai si penanya akan mengekspresikan WOW!
Lagian, untuk apa berusaha agar bisa di-WOW-kan kalau kondisi sebenarnya nggak perlu di-WOW-kan atau biasa-biasa aja. Iya, toh?
Sama seperti tujuan saya merantau ke Makassar, yaitu biasa-biasa aja, sangat sederhana. Dan kalau kamu mau tau lebih dalam lagi, jawaban dari lubuk hati saya itu lebih konyol dari jawaban “Cari Teman”, yaitu “Kayaknya Enak nih Merantau ke Makassar!”
Serius! Kamu lagi nggak saya ajak bercanda. Karena begitulah adanya pemikiran itu tercipta. Meskipun terkesan seperti jawaban asal-asalan.
Memilih jawaban “Cari Teman” ketika lagi ditanya aja. Menjawabnya lebih hemat dan cepat. Mengandung 2 kata aja, ketimbang “Kayaknya enak nih merantau ke Makassar” yang jelas-jelas lebih boros kata.
Jadi usai MIWF di tahun 2015, kebahagiaannya masih terasa hingga saya pulang ke Tegal. Meriahnya, hangatnya, masih saja terasa di tengah-tengah pekerjaan atau aktivitas lain saya di Tegal. Sejak itulah hati saya menyerukan kalimat “Kayaknya enak nih merantau ke Makassar!”
Kemudian saya putuskan agar bisa merantau ke Makassar sesegera mungkin. Nggak mau memusingkan apa yang akan saya lakukan selama di Makassar, punya misi apa aja, bagaimana cara berkontibusi untuk sebuah kegiatan, atau semacamnya. Meskipun saya baru berhasil mewujudkannya di tahun 2017 ini.
Prinsip saya di Makassar tinggal berbuat baik aja supaya kehidupan di sini lancar. Kalau ada kesempatan membantu, ya saya bantu sebisa mungkin. Kalau ada kesempatan berkenalan dengan orang, ya saya kenalan. Kalau orang itu sudah akrab dan punya potensi buat bayarin ngopi, ya saya nggak segan buat minta bayarin ngopi. Di kota orang mah nggak boleh jaim!
Maka terbekatilah teman-teman saya di sini yang pernah mbayarin saya ngopi.
Selain itu, menerapkan pemikiran “Kayaknya enak nih merantau ke Makassar” bikin saya nggak perlu memusingkan segala hal yang berhubungan dengan Makassar. Menerapkannya membuat saya merdeka, nggak ada beban yang membuat saya harus dituntut untuk ini itu selama di Makassar. Saya punya kedaulatan penuh atas pemikiran sesimpel ini.
Lagi pula, untuk apa membuat pemikiran susah kalau ujung-ujungnya tersesat, bingung, lalu patah arang di tengah jalan? Sementara “Kayaknya enak nih merantau ke Makassar” menjadi jenis pemikiran yang aman. Sebab dilihat dari artinya aja udah menunjukkan kalau saya nggak mendefinisikan atau mengklaim Makassar itu begini begitu.
Inilah pemikiran yang sangat bisa diterima oleh banyak orang karena tak ada aroma kecurigaan yang perlu ditelusuri dari diri saya.
Beda lagi kalau saya menjawab “Karena Makassar orangnya tertib!” Itu artinya saya bohong. Sebab pada kenyataannya, perilaku pengemudi di jalanan Makassar kota menganggap jalanan milik keluarganya. Nggak siang atau malam, jalanan akan tetap milik keluarganya. Maka mereka bisa ngebut sesuka hati, ngak mau saling mengalah tiada henti.
Nggak apa-apa. Lagian jalanan kan identik dengan kecepatan kendaraan.
Sebulan lebih di sini masih terasa nyaman. Pas datang di bandara, ada yang jemput. Mau numpang nginap, sudah disediakan tempat nginapnya. Meskipun tumpangan ini bikin saya nggak tau diri. Karena yang tadinya punya niat numpang selama MIWF aja, yaitu seminggu, eh malah kebablasan sampai sebulan lebih. Nyengir-nyengir mempesona deh saya setelah menyadari fakta nggak perlu mengeluarkan biaya kos selama sebulan. Hihihi
Oh iya, yang ini saya ucapkan terima kasih kepada Nulo dan Aan. Berkat kalian berdua saya merasa bukan menjadi golongan terlantar di kota orang. Saya percaya kebaikan kalian akan dibalas oleh kebaikan lain yang berhubungan dengan ini.
Meskipun selama menginap di rumah Aan, saya dibuat kaget dan was-was karena di rumahnya dipenuhi satwa berupa iguana, ular, dan ayam jago. Mereka berada di dalam rumah. Iguana dan ularnya dibiarkan di dalam kamar yang ditempati saya dan Aan. Sementara Ayam Jagonya di ruang yang menjadi akses menuju kamar mandi. Duh, duh! Tapi nggak apa-apa. Orang numpang mah hkudu tahu diri!
Kembali lagi, di Makassar sejauh ini masih asyik. Melaju kemanapun menemui banyak hal yang baru saya temui. Mulai dari seniman di sini yang sangat idealis dan masih konsisten menjaga budaya literasi, kerasnya kehidupan Makassar ketika malam, nikmatnya Kopi Toraja yang ternyata punya banyak jenis, sampai melimpahnya makanan khas Makassar, meskipun nggak sedikit juga makanan yang menipu.
Jadi, saya sering ketemu banyak warung makan yang spanduknya tertulis ASLI atau KHAS dari sebuah kota. Seperti BAKSO ASLI SOLO, tapi pedagang baksonya nggak bisa bahasa Jawa. BEBEK GORENG KHAS SURABAYA, tapi pas disuguhkan sambalnya beda, lalapannya pun bukan dalam wujud mentah, tapi malah rebus. Lalapan kalau direbus mah udah jadi sayur. Itulah jenis makanan nipu yang saya maksud.
Tapi sesungguhnya, saya nggak mempermasalahkan kok! Bahkan sudah sebulan lebih di sini dan belum punya tujuan jelas serta kongkrit pun saya nggak mempermasalahkan. Ini saya rasa karena serius menerapkan pemikiran “Kayaknya enak nih merantau ke Makassar.”
Menerapkan pemikiran “Kayaknya enak nih merantau ke Makassar” sama seperti belum tau apa yang saya mau. Namun, saya tipe orang yang kalau ingin mencapai sesuatu yang menggebu-gebu tapi belum tau bagaimana caranya, maka saya nggak akan tinggal diam. Yang saya lakukan adalah bergerak terlebih dahulu. Tak perlu pusing. Karena pasti akan bertemu jawabannya. Maka yang tadinya abstrak, akan menjadi terlihat dan terwujud, sempurna, kemudian pencapaian berhasil digapai.
Barangkali juga berada di Makassar akan demikian. Yang saya rasakan hanya “Kayaknya enak nih merantau ke Makassar”, tetapi belum tau tujuannya selama di Makassar. Oleh karena itu, saya datang aja dulu di Makassar. Mengakui kepada diri sendiri bahwa ini merupakan sebuah “petualangan” dan saya harus menerimanya sebagaimana adanya. Menerima semua kejutan yang ditimbulkan dan lainnya. Tanpa perlu memikirkan kesia-siaan hidup karena ini terkesan membuang-buang waktu, dan sekali lagi, tanpa didasari tujuan.
Dengan niat yang baik aja, pasti saya akan menikmati arus pertualangan ini. Maka jawaban dari tujuan saya datang ke Makassar akan nongol. Lagian, mumpung saya masih punya semangat berapi-api, jadi apa salahnya dicoba, kan? Justru kalau nggak dicoba, malah jatuhnya SANGAT DISAYANGKAN!
Duh! Ternyata efek kebahagian dari MIWF 2015 itu begini ya? Oke, saya ladenin!
Lalu ketiduran

Kandang Lana

Terobsesi masuk surga.

1 comment:

Ila Rizky said...

jadi, kapan pulang, lan? nggak kangen rumah? :P
kayaknya makassar ada cerita spesialnya nih. ehem. ditunggu deh cerita selain nyari temen, mungkin nyari jodoh *lho xD